MALANGTIMES - Keindahan Pulau Sempu yang terletak di Desa Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan, dan pernah menjadi polemik atas rencana perubahan statusnya tahun lalu, tidak diragukan lagi. Baik oleh pengunjung domestik maupun mancanegara.
Tapi, dari keindahan Sempu tersebut ternyata menyimpan sesuatu yang sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem dan keanekaragaman flora di Pulau Sempu.
Baca Juga : HMI Kisip Brawijaya Salurkan Bantuan APD dan Handsanitizer ke RS Saiful Anwar
Pasalnya, di Pulau Sempu ternyata ditemukan berbagai jenis tumbuhan asing invasif yang beberapa jenisnya termasuk kategori organisme paling berbahaya dan sulit dikendalikan di dunia.
Penemuan organisme berbahaya di dunia bagi keberlangsungan ekosistem dan flora di Sempu ini pernah dilansir oleh Tim peneliti Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (KRP-LIPI) di akhir tahun 2017. Setelah dilakukan penelitian selama dua tahun, yaitu dari tahun 2015-2017.
Jenis tumbuhan apa saja yang tumbuh di Pulau Sempu dan sangat berbahaya ini. MalangTIMES menyuguhkan hasil dari penelitian LIPI untuk anda.
Tumbuhan Krinyuh, jenis tumbuhan berbahaya di pulau Sempu
Lima jenis tumbuhan asing yang tumbuh di pulau Sempu di antaranya masuk daftar 100 jenis organisme invasif paling berbahaya di dunia berdasarkan ketetapan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Invasif Spesies Specialist Group. Yaitu Kirinyuh (Chromolaena odorata), Alang-alang (Imperata cylindrica), Kembang Telekan (Lantana camara), Kecrutan (Spathodea campanulata) dan Enceng Gondok (Eichhornia crassipes).
Eceng gondok.
Empat jenis lainnya masuk dalam sepuluh jenis gulma yang paling sulit dikendalikan di dunia, yaitu, Rumput Teki (Cyperus rotundus), Rumput Belulang (Eleusine indica), Alang-alang (Imperata cylindrica), dan Eceng Gondok. Sisanya adalah Teratai Putih (Nymphaea alba) yang ditemukan di Telogo Lele dan Telogo Dowo.
Kecrutan
Baca Juga : Peduli Covid-19, Hawai Grup Sumbang Ratusan APD ke Pemkot Malang
Walau tumbuhan asing didominasi semak dan herba, tapi perkembangbiakannya sangatlah cepat. "Pohon besar dan tanaman perdu asli Pulau Sempu bisa hilang karena kalah dalam hal menyerap nutrisi oleh jenis tumbuhan ini," kata Ridesti Rindyastuti, peneliti BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI dalam hasil penelitiannya.
Berbagai jenis tumbuhan asing ini ditemukan di delapan lokasi di Pulau Sempu. Dengan populasi jenis tumbuhan asing tertinggi ditemukan di area Gladakan dan Segara Anakan. Dua lokasi paling sering dikunjungi oleh wisatawan.
Untuk menangkal serbuan jenis tanaman berbahaya ini, Tim Kajian Diversitas Flora Pulau Sempu KRP–LIPI sudah menyampaikan tiga rekomendasi ke Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur selaku otoritas pengelola kawasan Cagar Alam Pulau Sempu.
Yaitu, mengurangi atau bahkan melarang bukaan lahan seperti pembuatan jalan setapak untuk pengunjung. Menyarankan BKSDA memasang papan informasi tentang tumbuhan asing, serta memantau secara intensif terhadap jenis tumbuhan asing itu.
