LUMAJANGTIMES - Fenomena scabies atau gudiken menjadi hal yang tidak asing di kalangan santri pondok pesantren. Penyakit kulit yang cepat menyebar ini seolah menjadi hal yang lumrah dan dianggap barokah ketika mondok. Padahal, anggapan itu hanya untuk menghibur para penderitanya.
Demikian penjelasan Achmad Zaadul Maad Syarif, salah seorang pengasuh Pondok Asy-Syarify, Lumajang. Menurut Gus Maad, dirinya tidak bersepakat dengan istilah gudiken sebagai barokah santri ketika mondok. Sebab, Islam mengajarkan soal kebersihan dan gudiken menjadi cerminan santri yang kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungannya.
Baca Juga : Dewanti Sebut 97,44 Persen Masyarakat Kota Batu Ter-cover BPJS Kesehatan
"Kalau saya tidak sepakat ya. Itu hanya alasan. Tidak ada namanya barokah menuntut ilmu berupa gudiken," tegas Gus Maad.
Lebih lanjut Gus Maad mengatakan kebersihan itu berawal dari diri sendiri. Realitanya, santri yang rajin bersih diri dan menaruh perhatian pada lingkungan tetap nyaman belajar tanpa harus menderita gudiken.
"Sering menjaga kebersihan lingkungan dan tidak asal dalam mencuci pakaian. Insya Allah aman dari gudiken dan nyaman belajar," jelas Gus Maad.
Baca Juga : Kurang Percaya Diri Terhadap Kulit Kering? Coba Cara Alami ini Untuk Atasi dengan Tepat!
Gus Maad berharap agar santri terus dikenal sebagai entitas yang gemar tampil bersih, baik diri dan lingkungannya, di samping gemar menuntut ilmu.
