BLITARTIMES-Bersemangat, kreatif dan inovatif. Itulah gambaran dari sosok Mashun Shofwan. Ya, warga Desa Pojok, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar ini menggerakkan ekonomi desa dengan sukses bisnis kreatif.
Dengan tangan kreatifnya, Mashun mengubah kawat tembaga menjadi berbagai macam aksesoris unik. Di antaranya bros, kalung, gelang dan cincin.
Baca Juga : Oknum Tokoh Agama Pelaku Pencabulan Ditahan, Sebuah Sajadah Jadi Barang Bukti
Saat ditemui awak media, Mashun mengatakan jika usaha kerajinan aksesoris dari kawat tembaga itu dimulainya pada 2010 silam. Dia terinspirasi dari kawat-kawat bekas proyek yang ditemukannya di lokasi proyek di Surabaya. Sebelum menemuki usahanya sekarang, Mashun cukup lama bekerja sebagai pekerja proyek.
“Saat kerja sebagai pekerja proyek di Surabaya, saya melihat banyak kawat bekas. Nah, saat itulah saya ada pikiran untuk menjadikan kawat-kawat bekas itu sebuah aksesoris,” kata Shofwan, Minggu (28/3/2021).
Setelah mantap menjalankan usaha kreatif di bidang aksesoris, Mashun kemudian memutuskan berhenti sebagai pekerja proyek di tahun 2010. Berbekal pengalamannya bekerja di sebuah pengrajin aksesoris ia mengembangkan keterampilannya. Di usaha ini, ia berupaya terus mencari inovasi agar kerajinan bros buatannya bisa tetap menarik dan diminati oleh kaum perempuan.
Menurut Mashun, aksesoris buatanya adalah akesoris yang awet. Sebab, seluruh tahapan pengerjaannya dilakukan dengan tangan tanpa mesin dan tanpa lem. Dia mengikatkannya ke bagian bros agar tidak lepas. Dalam mengerjakan aksesoris bros Mashun benar-benar teliti. Sehingga bros yang dihasilkan bisa benar-benar detail dan sempurna.
“Kawat yang saya gunakan berukuran 0,5 mm (milimeter) sampai 1,5 mm," jlentrehnya.
Baca Juga : Menparekraf Sandiaga Uno Bakal Kembangkan Potensi Wisata dan Perekonomian Kabupaten Malang
Ketekukan dan keuletan Mashun dalam menjalankan bisnis kreatif berbuah manis. Kini produk aksesoris buatannya sudah tembus hingga luar Pulau Jawa. Mulai dari Aceh, Kalimantan hingga Papua.
“Pasar paling banyak ada di luar Pulau Jawa. Namun demikian, sama seperti usaha di bidang lain, pandemi Covid-19 bedampak juga buat usaha saya. Penjualan produk saya turun sampai 70 persen. Pelanggan yang masih tetap membeli itu dari Aceh. Kebanyakan pelanggan saya merupakan reseller," imbuhnya.
Lebih dalam Mashun menyampaikan, untuk memasarkan produknya dia memanfaatkan media sosial. Baik itu Facebook maupun Instagram benar-benar dimanfaatkan untuk pemasaran. Harga aksesoris buatannya bervariasi, tergantung model, ukuran serta kerumitan pembuatannya. "Harga produk kami mulai dari yang paling murah Rp 20 ribu sampai Rp 400 ribu,” pungkasnya.
