MALANGTIMES - Kreativitas seniman di Kota Malang patut diapresiasi. Salah satunya Bambang Suroso, warga Jalan Klayatan Gang 2, Kecamatan Sukun. Dengan ketelatenan selama beberapa tahun terakhir, Bambang merangkai mahakarya berupa peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Uniknya, peta itu terusun dari belasan ribu keping uang koin kuno.
Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh
Pulau Sumatera hingga Papua tergambar jelas dalam sebuah pigura berukuran 2,4 meter x 1,2 meter. Dibutuhkan waktu lima tahun bagi Bambang untuk merangkai Indonesia dari uang kuno. Uang kuno dari zaman Belanda itu disusun berdasarkan gradasi warna.
Setiap wilayah atau pulau dibuat dari koin kuno yang berbeda. Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Australia pun dibuat berdasarkan koin kuno tertentu. Ada yang berwarna tembaga, ada yang perak, juga abu-abu tua.
Melalui tangan terampilnya, Bambang menyusun peta Indonesia dari Pulau Sumatera hingga Papua. Karya dengan berat sekitar satu kuintal ini diklaim sebagai satu-satunya di Indonesia. Bambang mengaku, membuat peta dari 12.474 koin ini tahun 2004 silam.
Ide itu muncul setelah ia memiliki banyak koleksi uang koin kuno, mulai dari pecahan 0,5 hingga 50 sen. Sedangkan piguranya didapatkan dari majalah dinding (mading) bekas di sekolah tempat dia mengajar. "Butuh waktu lima tahun untuk menyelesaikan pembuatan peta ini," tutur Bambang.
Pria 59 tahun ini menjadi kolektor uang kuno sejak tahun 1994. Itu berawal ketika Bambang melakukan jual beli kertas bekas. Suatu saat ini menemukan uang kuno. "Setelah tidak sengaja menemukan uang kuno, saya mulai mengumpulkan dan memperjualbelikan uang kuno," katanya.
Selain uang rupiah, sejumlah mata uang asing juga turut disusun. Untuk peta Malaysia misalnya, koin yang digunakan juga uang lama asal negeri jiran itu. Begitu pula dengan peta Thailand dan Australia, juga menggunakan mata uang asli negara tersebut.
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
"Mulai Sumatera saya buat dari 2,5 sen, Kalimantan dari 1 sen, Sulawesi 0,5 sen, Papua 1 sen semua dari zaman Belanda. Kalau Jawa dan Madura dari 50 sen VOC, Australia pakai 2 sen negaranya, Thailand dari 1 Baht Thailand, Malaysia dari 1 sen Malaysia," beber dia.
Bambang mengaku membuat karya tersebut seorang diri. Awalnya, dia melihat atlas lalu disketsa. Koin demi koin ditempel dengan lem Rajawali.
Pembuatannya bukan tanpa kendala. Dia mengaku kesulitan mendapat bahan baku. "Kesulitan membuat karya ini adalah mencari uang koin kuno karena uang kuno itu semakin lama semakin habis dikoleksi orang. Harganya juga semakin mahal," ungkapnya.
Saat ini, ia tengah menyusun data lebih detail mulai tahun pengerjaan per koin hingga total uang yang ada dalam pigura itu. Sebab, Bambang bercita-cita memasukkan karyanya ke Museum Rekor Dunia Indonesia atau Muri.
Bambang mengaku tidak berminat menjual karyanya meski ada salah satu kolektor yang menawar seharga Rp 50 juta. Namun Bambang enggan menjualnya. "Karya ini biar jadi koleksi saja. Keluarga keberatan jika dijual," ucap dia. (*)
