MALANGTIMES - Masyarakat yang maju tidak bisa lepas dari kebiasaan menulis dan membaca buku. Budaya literasi menjadi gerakan masif di berbagai negara maju. Lepas dari adanya perubahan perilaku literasi masyarakat dari zaman dulu dengan sekarang, membaca dan menulis menjadi bagian dari syarat majunya suatu masyarakat.
Baca Juga : Musim Melaut, Para Nelayan yang Berlabuh di Kabupaten Malang Bakal Disemprot Antiseptik
Pentingnya budaya literasi tumbuh kembang dalam masyarakat juga dipahami oleh pemerintahan, baik di tingkat pusat sampai daerah. Presiden Jokowi bahkan mencanangkan gerakan literasi sebagai program utama memajukan bangsa.
Pun di tingkat daerah, semisal di Kabupaten Malang yang terus mengupayakan berbagai kebijakan dalam menumbuhkan budaya literasi di dalam masyarakat melalui berbagai strategi kebijakannya. "Budaya literasi penting untuk terus diperjuangkan, walau dengan kondisi saat ini yang terbilang rendah. Dari 378 desa, baru 57 desa atau 25 persennya yang punya perpustakaan sebagai ruang literasi masyarakatnya," kata Dr H Rendra Kresna Bupati Malang, Minggu (10/12).
Perpustakaan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam menumbuhkan budaya literasi masyarakat. Dengan adanya ruang tersebut, masyarakat bisa mengakses berbagai jenis buku tanpa perlu membelinya. Selama ini, salah satu faktor budaya literasi tidak tumbuh kuat mengakar dalam masyarakat juga dikarenakan persoalan ekonomi.
Kondisi tersebut yang perlu dijembatani dengan adanya perpustakaan di tingkat desa, baik yang langsung diinisiasi oleh pemerintahan desanya maupun oleh para penggiat buku. "Kami berharap pemerintah desa bisa menginisiasinya. Untuk anggaran perpustakaan sekarang bisa didanai oleh berbagai sumber yang masuk ke desa," ujar Rendra yang berharap ke jajarannya, yaitu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, untuk terus melakukan berbagai inovasi dalam persoalan budaya literasi di Kabupaten Malang.
Hanya 25 persen kepemilikan perpustakaan di tingkat desa tentunya masih terbilang kecil dengan total jumlah desa yang ada. Padahal, Kabupaten Malang juga memiliki begitu banyak komunitas masyarakat pecinta buku dan penggerak literasi. Apabila dua unsur ini bisa padu dalam meningkatkan literasi masyarakat di Kabupaten Malang, akan menghasilkan perubahan signifikan dalam persoalan mencerdaskan masyarakat lewat baca dan tulis ini.
Sinergitas ini kembali terlihat dalam acara Bazar Buku Murah dengan dibentuknya Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB). GPMB inilah yang nantinya diharapkan menjadi jembatan dalam menumbuhkembangkan budaya literasi di dalam masyarakat di Kabupaten Malang.
Sedangkan untuk pembangunan perpustakaan desa, menurut Sukowiyono Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Malang, yang masih terbilang minim di tahun 2018 bisa mulai bermunculan. "Pemerintah semakin melonggarkan berbagai anggaran untuk pembangunan perpustakaan di desa. Jadi, semoga ini bisa jadi kesempatan bagi desa untuk hal itu," ujar Sukowiyono, kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Malang.
Baca Juga : Draft Sudah Final, Besok Pemkot Malang Ajukan PSBB
Anggaran yang masuk ke tingkat desa untuk pembangunan perpustakaan, bisa didanai dari Alokasi Dana Desa yang setiap tahun diterima oleh 378 pemerintah desa. Pun, melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) Kabupaten Malang di tahun 2017 ini.
"Insya Allah bisa bermunculan di tahun depan untuk perpustakaan desa. Karena tanpa ini, tentunya budaya literasi juga kurang optimal tumbuhnya," pungkas Suko, panggilan Sukowiyono.
Persoalan budaya literasi masyarakat memang menjadi hal yang cukup kompleks. Satu sisi berhadapan dengan kebiasaan masyarakat. Sisi lainnya berhubungan dengan kebijakan anggaran.
Bahkan, dari hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara tersebut.
Sedangkan untuk budaya membaca di kalangan siswa Indonesia di urutan ke-57 dari 65 negara yang diteliti. Data statistik UNESCO pada tahun 2012 juga menyampaikan presentasi minat baca Indonesia sebanyak 0,001%. Hal ini berarti dari 1.000 penduduk hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. (*)
