Bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, pengrajin di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengeluh.
Salah satunya diungkapkan Fathorrahman (28), pengrajin batik tulis asal Desa Klampar, Kecamatan Proppo. Dia mengeluh lantaran sepinya pembeli.
Baca Juga : Keris yang Masih Eksis di Zaman Digital, Butuh Serangkaian Ritual Khusus Pegangan Pribadi
Selain itu, dia mengeluhkan bahan baku yang terus mengalami kenaikan. Apalagi,batik luar daerah masuk ke Pamekasan sehingga merusak harga di pasaran.
"Sebelum adanya covid-19, penjualan kami sudah sangat menurun. Apalagi sekarang,"katanya kepada JatimTimes.com, Jumat (02/1/2020).
Meski Pamekasan dikenal dengan Kota Batik, pemerintah setempat dianggap belum mampu menyejahterakan masyarakat pengrajin batik di Pamekasan.
"Harapan saya, batik di Pamekasan itu harus diperhatikan. Jangan cuma mem-branding mobil dinas saja agar pengrajin batik itu tidak mengeluh. Soalnya, batik itu memilik faktor sejarah sehingga perlu diperhatikan betul oleh pemerintah," ucapnya.
Baca Juga : Nico, Masih Remaja tapi Sangat Terampil Bikin Barongan Harga Jutaan
Selain itu, dalam dua tahun kepemimpinan Bupati Baddrut Tamam dan wakilnya, Raja'e, pihaknya meminta agar pemerintah lebih tegas dalam menghalau batik luar Pamekasan masuk ke wilayahnya. "Karena kebanyakan para ASN dan orang Pamekasan memakai batik dari luar, bukan batik dari daerahnya sendiri," tutupnya.
