Tradisi Hari Raya Unduh-Unduh di Gereja Kristen Jawi wetan (GKJW) Mojowaro, Kabupaten Jombang tetap dirayakan meski di tengah Pandemi Covid-19. Karena wabah Covid-19, perayaan Hari Raya Unduh-Unduh digelar dengan cara yang berbeda dari tahun sebelumnya.
Hari Raya Unduh-Unduh merupakan tradisi umat kristiani di Kecamatan Mojowarno, untuk menyampaikan rasa syukur atas hasil panen warga. Tradisi ini berjalan sejak puluhan tahun dan terpusat di GKJW, Desa Mojowarno. GKJW sendiri merupakan gereja tertua di Jombang yang dibangun pada tahun 1871 silam.
Baca Juga : Dampak Pandemi, Seniman di Madiun Terpaksa Ngamen
Hari Raya Unduh-Unduh ini bisanya digelar dengan cara mengarak hasil bumi dari kampung-kampung sekitar gereja, menuju GKJW Mojowarno. Karena saat ini masih dalam masa pandemi covid-19, maka tradisi arak-arakan hasil bumi terpaksa ditiadakan.
"Hari Raya Unduh-Unduh dalam kondisi covid-19 dilaksanakan dengan cara sederhana. Ini adalah sebuah tradisi iman yang sudah dibangun sejak dahulu kala," terang Pendeta GKJW Mojowarno Muryo Djayadi kepada wartawan di lokasi, Minggu (6/9).
Tradisi Unduh-Unduh hanya dilakukan dengan cara mengumpulkan hasil bumi di halaman GKJW pada Minggu (6/9) pagi. Setelah hasil bumi terkumpul, kemudian dibawa masuk ke gereja untuk dilakukan kebaktian oleh jemaat gereja.
Ada 7 buah hasil bumi yang dibentuk gunungan dan sebagian dibentuk dengan ornamen khas gereja. Hasil bumi berupa padi, sayuran, buah-buahan dan makanan siap saji serta hewan ternak itu, dikumpulkan dari 7 gereja yang tersebar di Kecamatan Mojowarno.
Seperti gereja di Desa Mojojejer, Mojoroto, Mojowangi, Mojodukuh, Mojowarno, Mojotengah dan Rumah Sakit Kristen Mojowaro (RSKM). Kalau di tahun sebelumnya hasil bumi dibentuk dengan ukuran 5x3 meter, saat ini hanya dibatasi dengan ukuran 120x80 sentimeter. Hal ini untuk mengurangi jumlah warga yang mengangkat gunungan hasil bumi.
"Model miniatur (hasil bumi, red) menunjukkan begitu ekspresi iman mereka dalam menghayati kemurahan, kebaikan dan berkat-berkat Tuhan. Itu dihayati dan divisualisasikan dalam bentuk miniatur," kata Muryo.
Baca Juga : Kadisbudpar Agendakan Buka Museum Banyuwangi Tempo Doeloe
Pada perayaan Unduh-Unduh ini pihak pengurus gereja juga membatasi pengunjungnya. Pihak gereja hanya memperbolehkan jemaat sekitar GKJW. Sedangkan, anak-anak dan lansia dilarang mengikuti acara. Protokol kesehatan juga diterapkan pengurus gereja secara ketat untuk mencegah penyebaran covid-19.
Dikatakan Muryo, di Hari Raya Unduh-Unduh ini dirinya mengajak para jemaat untuk mendoakan supaya wabah covid-19 segera berakhir. Doa bersama dilakukan secara khusyuk di dalam gereja selama satu jam.
"Pasti kita memiliki suatu pengharapan bahwa penghayatan atas iman ini kita terbebas dari covid-19 yang sedang mewabah. Dan kita selalu berdoa supaya upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah agar segera berhasilnya. Dan kita bisa hidup berbangsa dan bernegara dengan normal kembali," pungkasnya.(*)
