MALANGTIMES - Pola pelestarian kesenian tradisional banyak ragamnya. Salah satunya adalah dengan menampilkannya secara kontinyu dalam berbagai acara pemerintahan. Hal inilah yang kemudian membuat para seniman tradisi terus eksis dalam gempuran budaya pop yang begitu masif.
Strategi budaya inilah yang dipakai Pemerintah Kabupaten (Pemkba) Malang selama ini. Bagi Pemkab Malang, kesenian milik bersama dan seyogianya seluruh elemen yang ada ikut serta dalam menjaga dan menghidupkannya. Tak terkecuali Pemerintah Kabupaten Malang di bawah komando Bupati Dr H Rendra Kresna.
Salah satu kesenian tradisional dan memiliki sejarah panjang yang terus diberi napas dan ruang di Kabupaten Malang adalah wayang topeng Malangan. Dalam setiap acara pemerintahan, tari topeng selalu hadir. Membuka acara dan memberikan pesan kuat bahwa Kabupaten Malang adalah wilayah budaya yang tak pernah terkikis zaman.
"Karena kalau bukan kita.yang terus menghidupi kesenian tradisional ini, siapa lagi. Jangan sampai setelah kesenian atau budaya kita diklaim negara lain, baru kita ramai," kata Rendra, Minggu (05/11).
Strategi budaya menjaga kesenian tradisional ini juga nantinya akan ditampilkan secara spektakuler di ajang Malang Beach Festival. Lima ribu penari topeng bapang akan unjuk kebolehan di Pantai Ungapan.
Tari wayang bapang dipilih sebagai simbol atau karakter masyarakat Kabupaten Malang yang gagah berani, lugas, dan jujur walau terkesan berangasan dari penampakan luar. Karakter yang dengan tepat diilustrasikan dengan topeng bapang itu sendiri. Tari bapang juga menjadi ruang untuk semakin mendekatkan kesenian wayang topeng Malangan terhadap masyarakatnya sendiri maupun para pengunjung nanti dalam acara akbar Malang Beach Festival.
"Kesenian topeng telah menjadi ciri khas kita. Tapi tentunya banyak yang tidak mengenal bagaimana sejarahnya. Ini pun yang jadi tugas kita mengenalkannya. Tentunya secara bersama-sama sesuai tugasnya masing-masing," ujar Rendra.

Dari beberapa literatur disebutkan bahwa keberadaan topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jawa Timur, yaitu Kerajaan Gajayana (760 Masehi) yang berlokasi di sekitar Kota Malang. Tepatnya, kesenian ini telah muncul sejak zaman Mpu Sendok.
Saat itu, topeng pertama terbuat dari emas dan dikenal dengan istilah puspo sariro (bunga dari hati yang paling dalam) dan merupakan simbol pemujaan Raja Gajayana terhadap arwah ayahandanya, Dewa Sima.
Topeng sebagai barang pemujaan waktu itu seiring waktu mengalami pergeseran fungsi. Topeng juga mempunyai fungsi dinamis, yaitu sebagai properti tari. Pun yang terjadi di Malang, topeng sebagai properti tari tumbuh dan berkembang pesat di sekitar tahun 1930 dengan munculnya maestro topeng Malangan, yaitu almarhum Mbah Karimun. "Walau topeng ada di mana-mana, tapi topeng Malangan memiliki karakter yang berbeda dengan daerah Nusantara lainnya," ucap Rendra.
Karakteristik topeng Malangan memang berbeda dengan topeng dari daerah lain, seperti Solo, Cirebon, dan Bondowoso. Perbedaannya, menurut Handoyo, penerus dan penggiat topeng Malangan dari Padepokan Asmorobangun Pakisaji, terletak pada ragam warna yang lebih banyak dibanding topeng daerah lain. Selain itu, ornamen atau ukirannya lebih detail. "Hal yang paling menonjol adalah ciri yang masih dipertahankan sejak masa kerajaan Hindu-Buddha, yaitu ciri khas cula, sinom, dan urna," ucap Handoyo.
Dia menjelaskan, urna melambangkan karakter manusia, sinom sebagai semesta, dan cula melambangkan penguasa sebagai pengendali alam dan manusia. "Dan topeng bapang masuk pada kelompok kedua dari empat kelompok besar karakter tokoh dalam topeng Malangan," imbuhnya. (*)
