Berawal dari kekhawatiran melihat anaknya mulai terlihat kecanduan gadget. Serta teman-teman sebaya anaknya pun tak berbeda jauh, Abidin (37) warga Jalan Melati, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pun berpikir keras.
Abidin berupaya agar anaknya tak menjadi ‘budak’ gadget. Pun anak-anak di lingkungan sekitar di mana dirinya tinggal.
Baca Juga : Heboh Kendi Ajaib yang Bisa Tunjukkan Maling dan Berakhir Damai di Polsek Kalidawir
Maka, sebuah ide hasil perbincangan dengan warga sekitar atas keresahan melihat anak-anak mulai tak bisa lepas dari gadget pun tercetus.
Abidin merubah jalan di depan rumahnya menjadi area bermain bagi anak-anak disekitarnya. Bukan hanya sekedar area bermain di luar rumah, tapi Abidin menerapkan konsep unik di jalan yang disulapnya itu. Yakni, menyulap jalan menjadi arena permainan tradisional.
Line kuning nampak tergaris membentuk sudut-sudut yang merupakan arena bermain permainan tradisional seperti gobak sodor, maupun permainan tradisional bernama betengan.
"Saya lihat anak-anak di lingkungan semakin hari kok sepertinya semakin ketergantungan sama hp. Apalagi saya juga punya anak kecil, umur 7 tahun, sepertinya juga ketergantungan. Kalau cuma dilarang, jangan main hp, tapi nggak ada wadahnya kan sama juga nggak ada solusi," ucapnya terkait ide menyulap jalan di depan rumahnya menjadi area permainan tradisional bagi anak-anak ini.
Abidin melanjutkan, ide menyulap jalan di depan rumahnya ternyata gayung bersambut dengan warga sekitarnya, yang mengalami rasa khawatir atas ketergantungan anak-anak terhadap gadget.
"Setelah ide itu disetujui, saya bersama warga sekitar kemudian langsung mengaplikasikan ide. Membuat arena permainan tradisional itu di sepanjang jalan. Ya mulai arena gobak sodor, betengan termasuk juga arena futsal mini," terangnya.
Setelah ini, ia bersama warga sekitar juga akan lebih mengembangkan permainan tradisional tersebut. Sebab, kembali lagi ia ingin mewadahi anak-anak di lingkungannya agar bisa lepas dari ketergantungan terhadap gadget.
"Mungkin nanti juga kami kembangkan ada permainan tampelan-tampelan itu, tapi bukan pakai raket. Mungkin juga akan kami tambah permainan jadul lainnya," ujar Abidin.
Baca Juga : Saranjana, Kota Gaib di Indonesia yang Maju dan Modern, Penghuninya Cantik dan Tampan
"Alhamdulillah sambutan dari warga sekitar sangat baik. Anak-anak juga senang dibuatkan. Termasuk pengurus RT RW juga mendukung, bahkan kita juga diberi bantuan cat," tambahnya.
Selain menghilangkan kecanduan anak terhadap gadget, pembuatan arena bermain tradisional ini juga diharapkan agar anak-anak bisa mengetahui budaya mereka. Dalam hal ini adalah permainan tradisional sebelum adanya gadget.
Diketahui, permainan tradisional memiliki kearifan lokal yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya anak-anak. Seperti menumbuhkan kekompakan melalui permainan gobag sodor, strategi berfikir dalam permainan congklak, kreatifitas dalam permainan petak umpet, ataupun ketangkasan dalam permainan engklek.
"Siapa tahu, nanti hal ini juga akan menular atau ditiru di kampung lain. Sehingga semakin bermanfaat dalam menghilangkan kecanduan anak-anak terhadap gadget," pungkasnya.
