MALANGTIMES - Pantai Balekambang terletak di wilayah Dusun Sumber Jambe, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.
Keindahan pantai ini sudah lama menjadi andalan Kabupaten Malang sejak tahun 1985 dan bahkan hingga kini. Pesona keindahan Pantai Balekambang nyatanya jadi sumber inspirasi perancang mode menciptakan karya adi busana.
Baca Juga : Fashion Hijab Wud Hadirkan Koleksi Baru, Pertahankan Bisnis Saat Pandemi Covid-19
Dalam helatan akbar Ciputra World Fashion Week (CWFW) 2017 pada akhir bulan September ini, perancang mode asal Malang Yeti Topiah menampilkan keindahan Pantai Balekambang. Yeti membuat sembilan buah rancangan busana.
"Saya terinspirasi keindahan Pantai Balekambang. Untuk busana kali ini sesuai dengan warna pantai saya ambil dominasi warna sunset ya. Ada sekitar sembulan buah busana yang nanti saya tampilkan di Ciputra World Fashion Week," jelas pengajar di sekolah mode Quinna School of Fashion itu pada MALANGTIMES, Senin (25/9/2017).
Busana karya Yeti menggunakan bahan kombinasi yakni tenun, organza, tile, dan kain siffon. Tenun yang dipakai Yeti adalah jenis tenun ikat dari Jawa Tengah. "Kesulitannya aku mendapatkan bahan ya karena ada beberapa bahan yang susah enggak ada di Malang," ungkapnya.
Selain tenun motif khas Jawa Tengah. Yeti juga menggunakan kain organza. Bahan organza, banyak pula yang menyebut sebagai bahan kaca. Sebab bahan organza kaku layaknya kaca.
Bahan ini memang sangat mirip dengan kain sifon dari segi tampilan, yang terlihat transparan dan berongga halus. Bahan organza memiliki ciri-ciri antara lain tipis, lembut, transparan, kaku, agak tebal, berkilau, kuat serta tahan lama.
Bahan lain yang dipakai Yeti ialah tile yakni kain dengan ciri khas seperti jaring. Kain ini memiliki permukaan berlubang-lubang menjadikannya kain yang transparan.
Baca Juga : Sarung Tangan Mirip Kulit Manusia Bisa Cegah Covid-19? Unik atau Seram Ya?
Kain tile pada umumnya digunakan untuk membuat kerudung pernikahan, kostum, tutu balet (atau rok tutu), kebaya, dress, karangan bunga, dan gaun pengantin.
Yeti mengaku ia butuh dua bulan untuk menyelesaikan sembilan koleksi busana bertema Pantai Balekambang itu. Kesulitan rupanya juga terletak pada sebagian motif yang ia lukis tangan sendiri.
"Di beberapa baju yang model outer itu misalnya, di bagian belakang aku lukis gambar yang terinspirasi dari Pantai Balekambang. Itu mungkin yang butuh kesabaran dan ketelatenan," tutur wanita yang pernah menimba ilmu mode di Arva School of Fashion itu.
Koleksi Yeti Topiah dan delapan orang desainer asal Malang lainnya akan mengangkat kekayaan Kabupaten Malang. Busana rancangan desainer itu akan ditampilkan pada ajang Ciputra World Fashion Week (CWFW) 2017 yang akan dihelat pada 27 September hingga 1 Oktober mendatang. (*)
