Nama opak gambir mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Opak gambir merupakan jajanan tradisional khas Blitar yang banyak dijadikan oleh-oleh, hidangan lebaran maupun camilan sehari-hari.
Salah satu sentra pengrajin Opak Gambir di Blitar ada di Dusun Sekardangan, Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Di dusun ini tercatat ada 17 usaha rumahan opak gambir dan matari.
Kali ini BLITARTIMES berhasil menemui Siti Masitoh (62) perintis pertama usaha rumahan opak gambir di Dusun Sekardangan. Mengawali usaha tersebut sejak tahun 1978, Siti Masitoh mengaku dulunya sempat bekerja serabutan sebelum menekuni usaha tersebut.
Berkat kegigihan dan semangatnya untuk menambah penghasilan dan bisa dekat keluarga, maka ibu rumah tangga dengan dua anak tersebut memberanikan diri membuka usaha kuliner, opak gambir dan matari.
"Awalnya ya masih serabutan dulu, kebetulan tetangga ada yang menawari untuk membuat opak gambir untuk acara hajatan, ternyata dari situ banyak yang suka, terus berkembang dapat pesanan-pesanan itu," ungkap Siti Masitoh saat ditemui BLITARTIMES pada Rabu (11/9/2019).
Awalnya, perempuan yang akrab disapa Siti ini hanya dibantu oleh suaminya Masrukin, ketika mendapat banyak pesanan. Namun, seiring berjalannya usaha rumahan tersebut semakin dikenal dan mendapatkan lebih banyak pesanan, maka Siti mengajak beberapa tetangganya untuk membantunya membuat jajanan tersebut.
"Dulu rame-ramenya pesanan itu sekitar tahun 1985 an, yang sering ngambil itu malah pedagang Tionghoa," sambung nya.
Kini, Siti tidak hanya memenuhi pesanan opak gambir dan matari di pasar lokal saja. Setiap minggunya ia bisa mengirim sekitar 6 hingga 7 kwintal opak gambir ke berbagai kota di Jawa Timur.
"Yang udah langganan ada yang dari Surabaya, Malang, Trenggalek, Kediri, Tulungagung. Yang dari Surabaya itu saja seminggu sekali biasanya minta dikirim 4 kwintal," terangnya.
Dengan membuat penganan berukuran mini, pria ulet tersebut meyakini, produk olahannya lebih digemari konsumen. Lantaran, dengan ukuran mungil itulah, maka tiap pembeli bisa menikmati kue tersebut secara mudah.
Untuk mengembangkan pasar jajanan tradisional ini, Siti mengaku, telah mempekerjakan sekitar 35 orang pekerja yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Dari usaha rumahan tersebut ia bisa memperoleh omset sekitar Rp 25 juta per bulannya.
“Kalau musim lebaran, biasanya tenaga yang saya perbantukan lebih banyak, sekitar 35 orang itu masuk semua. Kalau hari biasa ya gak mesti semuanya masuk,” katanya.
Dari usaha inilah, Siti mengatakan, bisnisnya mulai berkembang dan dikenal luas oleh publik. Jika pada awalnya, baru dipasarkan di sekitar rumah, yakni Blitar saja, sekarang makin merambah hingga pasar luar negeri.
“Bahkan, dulu yang dipasarkan pedagang Tionghoa itu dikirim hingga ke Singapura,” ungkap Siti.
Berkat semangat dan kegigihannya menekuni usaha rumahan tersebut, saat ini pengusaha opak gambir dan matari di Dusun Sekardangan semakin menjamur. Total ada 17 pengusaha opak gambir dan matari yang mencari peruntungan dari usaha tersebut.
"Tetangga-tetangga dulu awalnya belajar ya di sini, kerja di sini terus bisa bikin sendiri akhirnya buka usaha sendiri. Ya tetap bersyukur bisa mengangkat perekonomian sekitar," pungkas nya.(*)
