MALANGTIMES - Masyarakat Barat cenderung memaknai istilah 'fashion' dengan dandanan, gaya, dan busana. Definisi itu lantas oleh media Barat disematkan pada kota tempat tinggal para desainer terkenal, yakni New York, Milan, Paris, dan London sebagai pusat peradaban fashion dunia.
Baca Juga : Viral Desainer Arnold Putra yang Bikin Tas dari Tulang Manusia, Lihat Bentuknya!
Ada benarnya bila istilah 'fashion' tertuju pada busana. Dan fashion sebagai dandanan atau gaya kini jamak dipahami orang.
Sesungguhnya, makna fashion lebih dalam dari sekedar kacamata masyarakat kontemporer Barat. Seorang pakar bernama Thomas Carlyle memaknai fashion sebagai perlambang jiwa bagi pemakainya.
Carlyle berujar bahwa fashion mencerminkan gaya hidup suatu komunitas. Fashion, menurut dia, mampu mengekspresikan identitas tertentu yang merupakan bagian dari kehidupan sosial.
Pakaian yang dikenakan oleh seseorang mampu mencerminkan identitas mereka di masyarakat. Bila bahasan fashion telah menyentuh masyarakat umum, bagaimana dengan kalangan ulama?
Mengaitkan falsafah fashion dan ulama, MALANGTIMES menemui seorang pengamat mode asal Malang Hermina Andreyani.
Kami memulai dari dua tokoh besar Islam di Indonesia. Yakni pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Al Asy'ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Melihat potret pakaian yang dipakai kedua ulama besar tersebut, Hermina menyatakan bila ada pengaruh Arab pada gaya busana.
"Kalau saya lihat dari kacamata seorang desainer ya. Pakaian ulama kita di masa dahulu cenderung pakai sorban dan jubah yang dipengaruhi oleh pakaian yang berkembang di Arab," tutur desainer jebolan sekolah mode di Australia itu.
Hermina benar. Sorban dan jubah yang dikenakan ulama ialah produk budaya dari jazirah Arab. Jubah adalah baju panjang sampai di bawah lutut, berlengan panjang dan biasa dikenakan oleh masyarakat Arab. Sedangkan sorban atau serban dikenakan di kepala. Biasanya berupa kain yang digelung atau diikat di kepala.
Bukan hanya desainer. Dikutip dari Jaringnews.com, tokoh ulama NU dari Pati KH Mustofa Bisri juga menyatakan sorban dan jubah adalah pakaian ala bangsa Arab. “Sejatinya, sorban dan jubah adalah pakaian ala Timur Tengah,” ungkap ulama yang akrab disapa Gus Mus itu.
Baca Juga : Seniman Ini Buat Masker Berkarakter Facehugger di Film Alien, Bisa Cegah Covid-19?
Gus Mus agak keras menyikapi ulama yang berpakaian mengenakan sorban dan jubah. Dalam pernyataannya seperti dikutip dari Jaringnews.com, ia menilai bahwa pakaian sorban dan jubah yang dilabeli sebagai pakaian muslim tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia.
Menyikapi pernyataan Gus Mus, desainer Hermina memilih bijak. Ia lantas mengembalikan pembahasan busana ulama ditinjau dari kacamata perancang busana.
"Sebagai desainer, kalau pakaian ulama zaman dulu ya memang cenderung banyak mengenakan jubah dan sorban. Tetapi pakaian ulama sekarang, dari sisi mode, mereka sudah mulai tidak lagi hanya mengenakan jubah dan sorban. Tetapi ada yang pakai baju koko. Pakai jas. Dan juga memakai aplikasi teknik bordir," jelas desainer pemilik Quinna School of Fashion itu.
Hermina lantas menunjukkan busana yang dipakai KH Abdullah Gymnastiar. Pemuka agama yang akrab disapa Aa Gym itu dalam foto menggenakan setelan baju koko. "Baju koko yang dipakai Aa Gym ini pakai teknik bordir. Dan saya sebagai desainer mengakui desain baju ini bagus," pujinya.
Ia buru-buru melanjutkan bahwa busana Aa Gym dinilai desainer elegan karena ada sentuhan tangan desainer pula pada pakaian yang dikenakan Aa Gym. "Karena saya desainer, saya pasti tahu pakaian ini dibuat desainer atau bukan. Anak Aa Gym kan desainer (Ghaida Tsurayya Abdullah Gymnastiar, red). Jadi, ya wajar bila pakaian sang ayah sederhana tapi elegan," kata Hermina.
Bagi Hermina, fashion yang ditampilkan oleh pendakwah Aa Gym pas. Pasalnya, dalam dunia mode, busana bukan hanya mencerminkan identitas sosial si pemakai, tetapi turut membawa kepribadian diri pemakai.
"Kalau saya sebagai konsultan mode ulama, saya akan memberi saran busana yang menampilkan ciri khas diri ulama tersebut. Kalau Aa Gym ciri khasnya dia pakai baju koko. Desainnya sederhana memang. Tapi bagi kami, desainer itu elegan dan berkelas," tandas dia.
Bukan hanya Abdullah Gymnastiar. Pemuka agama Islam di Indonesia lainnya akan turut kami bahas. Ada nama-nama pendakwah lain yang tentu sudah tidak asing lagi bagi pembaca. Simak ulasan menarik tentang falsafah fashion dan gaya busana ulama hanya di MALANGTIMES. (*)
