MALANGTIMES - Ormas (organisasi masyarakat) Red Army akhirnya berganti nama menjadi Ganda Pancasila. Perubahan nama emas yang didirikan mantan Wali Kota Malang Peni Suparto itu dilakukan menyusul stigma negatif oleh beberapa kalangan yang menganggap Red Army dengan lambang bintang dan dominasi warna merah identik dengan tentara merah Uni Soviet dan China zaman dulu yang berhaluan komunis.
Baca Juga : Hari ke 2 Proses Pencarian Pendaki Hilang karena Kesurupan, Puluhan Personel Dikerahkan
Peni mengungkapkan, ormas yang dia pimpin itu sama sekali tak ada kaitannya dengan komunis. Dia menganggap mereka yang berpikiran Red Army lambang komunis kemungkinan tidaklah mengetahui apa Red Army sesungguhnya.
"Makanya kami juga tidak mau memperpanjang masalah ini supaya tidak ada anggapan buruk lagi. Kami memang berniat berganti nama menjadi Garda Pancasila. Nat kami sebenarnya sudah lama, namun ketepatan tidak pada momen yang pas. Kemarin kan bulan Ramadan, makanya kami tunda dulu sampai selesai Lebaran," ungkapnya.
Dengan pergantian nama ini, diharapkan terhapus stigma negatif tentang organisasi tersebut. "Jadi, tidak bubar, namun berubah nama. Lambangnya tetap memakai bintang, sesuai dengan lambang pada salah satu sila di Pancasila. Yakni sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa," jelas Peni. "Kita itu malahan akan menjadi garda terdepan jika memang ada hal yang menyimpang dari Pancasila," tambahnya.
Baca Juga : HMI Kisip Brawijaya Salurkan Bantuan APD dan Handsanitizer ke RS Saiful Anwar
Selain itu, Peni menanggapi ajakan Ketua DPRD Kota Malang yang juga Ketua DPC PDIP Kota Malang Aries Wicaksono agar para anggota Red Army yang keanggotaannya masih sah sebagai kader PDIP atau belum dipecat untuk kembali ke kandang banteng. Menurut Peni, banteng itu tidak mempunyai kandang, namun yang punya kandang itu sapi. (*)
