Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Mengenal Batik, Kain Eksotis Khas Indonesia nan Sarat Makna

Penulis : Ira Pudjosakti - Editor : Lazuardi Firdaus

03 - Jun - 2017, 21:13

Placeholder
Motif Parang Solo

MALANGTIMES.- Batik adalah kain asli Indonesia yang saat ini telah mendunia. Bukan hanya karena keindahan motifnya, tapi karena makna filosofis yang terkandung dalam batik sungguh dalam.

Nggak ada salahnya kalau kita lebih mengenal apa dan bagaimana batik itu. Inilah beberapa batik khas Indonesia yang layak kita kenal: 

1. Batik Tulis Celaket 

Inilah batik kontemporer yang menjadi ciri khas baru Kota Malang. Diproduksi di Jl Jaksa Agung Suprapto, Celaket. Awalnya hanyalah usaha batik tulis rumahan yang akhirnya menjadi tren baru, dimiliki Hanan Abdul Djalil.

Dirintis pada pertengahan Mei tahun 2000, ide-ide nyeleneh akhirnya Hanan transformasikan dalam batik tulis yang unik nan khas.

Berbeda dengan pakem batik umumnya yang berwarna gelap atau netral seperti hitam atau cokelat, Batik Tulis Celaket ini justru memiliki warna yang cukup mencolok seperti ungu, kuning, dan hijau. Perpaduan warnanya pun cukup unik, antara lain ungu dan kuning, merah dan biru, atau ungu dan hijau tua. 

Keunikan inilah yang membedakannya dengan batik di Indonesia pada umumnya. Motif yang diadopsi pun berbeda. Batik Celaket tidak memiliki motif tertentu seperti parang, kawung atau megamendung. Motif yang sering dipakai adalah motif bunga yang mempresentasikan Kota Malang sebagai kota bunga.

Ada juga motif yang diadopsi dari kondisi masyarakat sekitar seperti motif ulat bulu. Corak dalam Batik Celaket ini digambarkan dengan sederhana dan menarik. Akibat dari seni perpaduan warna dan motif yang tidak umum, Batik Tulis Celaket ini pada awalnya sering dihujat oleh kalangan tertentu karena tidak sesuai dengan batik tulis dari daerah lain yang memiliki bentuk baku. 

Tapi justru keunikan dan kenekatan batik inilah yang semakin membuat batik tulis milik bumi Arema ini semakin terkenal.

2. Batik Yogyakarta

Salah satu jenis batik Nusantara yang terkenal tak hanya di Indonesia karena keunikan motif-motif yang ditawarkan sehingga banyak diburu oleh konsumen dalam dan mancanegara. Ada baiknya kalau kita memahami motif batik Yogyakarta dan makna filosofi yang terkandung di dalamnya.

Ada 5 motif batik Yogyakarta yang sering dipakai dalam acara tertentu. Makna filosofis dari motif tersebut adalah ; 

.

A. Motif Kawung 

Berbentuk pola bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau terkadang dianggap sebagai buah kolang kaling) yang digambar secara geometris, melambangkan keperkasaan dan keadilan.

B. Motif Parang Kusumo


  
Melambangkan sebuah kehidupan yang harus dilandasi perjuangan dan usaha yang nyata dalam mencapai keharuman lahir dan batin. Hal ini bisa dilambangkan dengan harumnya sekuntum bunga Kusuma yang ada di taman rumah.
Sering dikenakan sebagai kain adat saat ada acara tukar cincin.

C. Motif Truntum

Digunakan saat ada upacara pernikahan berlatar belakang suku Jawa di Yogya. Motif batik yang satu ini diciptakan  sebagai sebuah simbol cinta yang tulus tanpa syarat antara sepasang pengantin baru dan mereka yang sedang menjalani masa-masa berpasangan. Bqiasanya disertai sebuah harapan bahwa hubungan tersebut akan kekal abadi, semakin lama akan terasa semakin subur berkembang (tumaruntum). Umumnya dipakai oleh orang tua pengantin pada hari utama pernikahan mereka. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan selalu menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “ menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru disertai doa restu.

D. Motif Batik Tambal

Unsur motif yang digunakan adalah ceplok, parang, meru, dan lain-lain dengan lebih banyak menonjolkan ciri khas kerokan. Makna filosofis dalam motif kain ini adalah adanya kepercayaan bila orang sakit mengenakan kain ini sebagai  selimut ketika mereka tidur pada waktu malam hari, sakit yang sedang diderita oleh orang tersebut akan cepat sembuh oleh kehangatan yang disumbangkan dari kain batik ini karena tambal di sini memiliki arti menutup atau menambal sehingga diharapkan terbentuk sebuah semangat baru.

E. Motif Batik Pamiluto

Biasa dikenakan saat menggelar acara pertunangan bagi masyarakat asli Yogja. Unsur motif yang terkandung di dalamnya adalah prang, ceplok, truntum dan yang lainnya. Sementara filosofi dalam kain batik ini adalah pamiluto berasal dari kata pulut yang berarti perekat, dalam bahasa Jawa diartikan kepulut/tertarik.

3. Batik Solo

Ada beberapa motif dalam batik Solo ini yang mirip dengan motif batik Yogya. Mungkin karena letak geografisnya yang cukup dekat. Berikut motif batik khas Solo ;

A. Motif Parang

Batik parang merupakan salah satu motif batik yang paling tua di Indonesia. Parang berasal dari kata pereng yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tidak pernah padam. Batik ini merupakan batik asli Indonesia yang sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo).

Makna yang terkandung adalah nasihat agar seseorang yang mengenakannya tidak pernah menyerah, kokoh seperti batu karang yang selalu diterjang ombak lautan. Selain itu, batik parang memberi gambaran tentang jalinan yang tidak pernah putus dalam upaya memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.

B. Motif Kawung

Batik kawung memiliki motif yang cukup sederhana. Terbentuk dari pola bulatan mirip buah kawung, sejenis buah kelapa atau yang  disebut buah kolang-kaling. Motif hiasan yang berupa rangkaian kombinasi lingkaran ini disusun berjejer rapi secara simetris dan geometris.

Pada masa lalu, motif batik kawung biasanya hanya boleh dipakai oleh kalangan kerajaan sebagai cerminan kepribadian sebagai seorang pemimpin yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga hati nurani.

C. Motif Sawat

Batik motif sawat berasal dari kata sawat atau sayap. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sawat berasal dari kata syahwat atau nafsu. Motif ini dahulu dianggap sangat sakral dan hanya dipakai oleh raja dan keluarganya. Motif bentuk sayap yang disusun sedemikian rupa ini sering dimaknai sebagai burung Garuda kendaraan Dewa Wisnu yang melambangkan kekuasaan atau raja.
Hingga kini masih sering dikenakan oleh pasangan pengantin dalam acara prosesi pernikahan, filosofi batik sawat diyakni bisa melindungi kehidupan pemakainya.

D. Motif Sidomukti

Motif batik Sidomukti ini merupakan salah satu motif paling mudah ditemukan karena kepopulerannya. Motif Sidomukti banyak digunakan sebagai pakaian adat pengantin Jawa khususnya masyarakat Solo.

Batik Sidomukti berasal dari kata sido yang artinya jadi, berkesinambungan, terus-menerus dan dari kata mukti yang berarti bercukupan, hidup makmur, atau sejahtera. 

Dengan mengenakan motif ini, kedua mempelai pengantin dimaksudkan agar dalam mengarungi kehidupannya dapat selalu bahagia dan dlilmpahkan rezeki. Motif ini memang menggambarkan sebuah harapan suatu kehidupan masa depan yang lebih baik, penuh kebahagiaan dan kesejahteraan, tanpa melupakan Tuhan yang telah memberi kehidupan.

E. Motif Truntum

Jika motif batik Sidomukti sering dipakai oleh pasangan pengantin, maka motif batik truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin. Kata truntum sering dimaknai sebagai penuntun, sehingga sebagai orang tua diharapkan selalu bisa dijadikan sebagai penuntun, panutan, atau contoh yang baik bagi anaknya dalam mengarungi hidup baru.

Motif truntum yang diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) memiliki makna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai sombol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum). Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai.

F. Motif Satrio Manah

Motif Batik Satrio Manah sering dipakai oleh wali pengantin pria saat melakukan prosesi lamaran/meminang mempelai wanita. Makna dari motif ini adalah agar dalam lamarannya dapat diterima oleh pihak calon pengantin wanita beserta keluarganya.
Motif ini juga sering dipakai oleh calon pengantin pria saat melamar. Sesuai dengan arti katanya, motif ini diartikan sebagai seorang ksatria yang membidik pasangannya dengan busur dan panah, sedangkan mempelai wanitanya akan memakai batik dengan motif semen rante. 

G. Motif Semen Rante

Motif Semen Rante berasal dari kata semen/semi yang berarti tumbuh dan kata rante berarti rantai yang melambangkan hubungan erat dan mengikat menyiratkan sebuah makna ikatan yang kokoh. Motif batik semen rantai sering dipakai oleh mempelai perempuan saat dipinang oleh lelaki pujaan hatinya yang mengenakan motif batik satrio manah.

Dengan motif semen rante ini, pihak pengantin wanita "berkomunikasi" dengan pasangannya bahwa ia menginginkan sebuah ikatan yang kuat dan kokoh sehingga tidak dapat dipisahkan. Zaman dahulu bila pihak calon mempelai wanita memakai motif batik semen rantai, maka bisa dipastikan bahwa apa pun lamarannya sudah pasti diterima.

4. Batik Pekalongan

Pengrajin batik ini kebanyakan tinggal di pesisir utara Jawa. Oleh karena itulah batik Pekalongan juga sering disebut sebagai batik pesisir. Motif batik Pekalongan bebas dan menarik, serta memiliki warna yang atraktif. Salah satu pengusaha batik adalah Van Zuylen yang berasal dari Eropa. Beliau pernah ikut terjun ke dalam pembatikan. Van Zuylen merupakan salah satu orang yang berpengaruh pada kemunculan motif-motif baru batik Pekalongan. Van Zuylen terkenal dengan batiknya yang halus dengan motif berbentuk tumbuhan yang realistis. Adapun motif batik Pekalongan sebagai berikut ;

A. Motif Jlamprang

Motif jlamprang diyakini dan diakui oleh beberapa pengamat motif batik, sebagai motif asli Pekalongan. Motif jlamprang ini dipengaruhi oleh Islam. Artinya, motif ini lahir dari perajin batik keturunan Arab yang beragama Islam. Adanya larangan dalam Islam menggambar binatang maupun manusia mendorong perajin batik Pekalongan menciptakan motif hias geometris. Motif jlamprang menurut peneliti ini termasuk motif nitik dan tergolong dalam ragam hias geometris.

Dr Kusnin Asa berpendapat bahwa jlamprang merupakan bentuk motif kosmologis dengan mengetengahkan pola ragam hias ceplokan bentuk lung-lungan dan bunga padma, menunjukan makna tentang peran dunia kosmis yang hadir sejak agama Hindu dan Buddha berkembang di Jawa. Pola ceplokan yang distilirasi dalam bentuk dekoratif menunjukkan corak peninggalan masa prasejarah yang kemudian menjadi warisan agama Hindu dan Buddha.

B. Motif Isen 

Pada umumnya, batik Pekalongan diisi dengan titik-titik atau cecek-cecek,m. Titik ini berupa cecek-garis atau cecek-pitu. Jarang sekali adanya cecek-sawut atau sawut, atau isen yang lain seperti cecek, cacah gori. Permainan dengan cecek ini kadang-kadang sangat menonjol, sehingga semua garis yang membentuk ornamen-ornamen dalam motif berupa cecek pula. 

5. Batik Madura

Seni batik Madura diperkirakan masuk sejak tahun 1293, yang terus berlanjut hingga abad ke-17. Saat itu, Kerajaan Sumenep di Pulau Garam ini dipimpin oleh Ario Prabuwinoko. Oleh adipati ini, Batik Madura mulai diperkenalkan sebagai warisan leluhur yang berbeda dengan batik milik suku Jawa. Alkisah bermula ketika sedang terjadi peperangan di daerah Pamekasan Madura. Peperangan tersebut antara Ke’ Lesap melawan Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan).

Raden Azhar adalah ulama penasihat spriritual adipati Pamekasan yang memiliki nama Raden Ismail atau Adipati Arya Adikara IV. Sedangkan Ke’ Lesap merupakan putra Madura asli keturunan Cakraningrat I dengan istri selir.

Raden Azhar memakai pakaian kebesaran batik motif parang atau dalam bahasa Madura lazim disebut motif leres yaitu kain batik dengan motif garis melintang simetris dalam peperangan tersebut. Saat memakai kain batik motif parang, terlihat Raden Azhar memiliki kharisma dan tampak gagah. Sejak saat itulah, jenis batik menjadi perbincangan di kalangan masyarakat Madura terutama pembesar-pembesar di Pamekasan.

Tokoh masyarakat penting yang juga turut andil mengenalkan kain batik ke Madura adalah seorang Adipati Sumenep Arya Wiraraja, yang tak lain merupakan sekutu dekat Raden Wijaya, sebagai pendiri
akerajaan Majapahit.

Ciri khas utama sekaligus sebagai letak keunikan dari batik Madura adalah selalu terdapatnya warna merah dalam motif bunga ataupun daun.

Corak batik Madura sendiri tak lepas dari pengaruh budaya asing seperti Cina. Warna cerah merupakan salah satu campur tangan dari orang-orang Tionghoa. Batik madura mempunyai warna yang mencolok, seperti kuning, merah atau hijau dan masing-masing warna memiliki arti tersendiri. 
Hijau, kebanyakan digunakan pada batik buatan dari Kabupaten Bangkalan. Warna hijau ini diadaptasi dari berkembangnya Islam yang masuk ke pulau Madura. Bukan hanya secara religi, warna hijau yang berkonotasi dengan warna daun, menggambarkan simbol dewa kesuburan saat Kerajaan Majapahit masih berkuasa di negeri ini.

Biru, merupakan warna yang dapat diartikan sebagai warna natural sebuah daerah kepulauan. Warna biru ini menggambarkan bahwa pulau Madura dikelilingi bentangan laut biru nan luas.

Merah, bukan berarti hanya berani. Sifat orang suku madura yang kuat dan tegas men­jadikan warna ini bermakna sebuah kekuatan orang Madura yang sangat kuat dan tegar dalam menghadapi permasalahan apapun.

Kuning, bermakna beberapa daerah bagian Madura digambarkan cukup subur untuk dijadikan pertanian. Warna kuning digambarkan sebagai padi yang siap dipanen yang sudah menguning, yang seolah pulau garam ini juga mempunyai lumbung padi yang cukup besar.

Batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Teknik pewarnaan Batik Madura dilakukan secara khusus yaitu melalui proses perendaman yang memakan waktu selama enam bulan. Jadi meski terlihat kasar, namun batik Madura tidak murahan. Bayangkan, harga di tingkat perajin saja bisa mencapai jutaan rupiah per helai. Keistimewaan lain dari batik ini, semakin lama warnanya terlihat semakin cerah

Selain berbagai motif dan corak yang beragam, batik ini juga terdiri dari berbagai jenis. Diantaranya adalah jenis batik Gentongan. Batik Gentongan ini memiliki harga yang tak murah. Namun meski demikian, batik ini selalu diburu oleh kolektor maupun penggemar batik. Batik ini diberi nama Gentongan karena pada proses pembuatannya, ada sebuah alat yang sangat mempengaruhi yaitu gentong atau gerabah. Alat gentong atau gerabah ini digunakan pada saat proses pewarnaan dengan bahan pewarna alami seperti kulit mengkudu, kulit mundu, kulit buah jelawe, kayu jambal, kayu jirek, dan yang lainnya.

Proses pewarnaan ini juga tergolong lama yaitu sekitar 3 sampai 6 bulan. Maka batik ini tergolong batik yang mahal karena dalam pembuatan selembar batik ini diperlukan waktu 1 tahun untuk menyelesaikannya. Ciri dari batik gentongan adalah warna yang berani, corak bahari seperti kapal, rumput laut, dan sebagainya. Yang menarik dari batik gentongan adalah sekilas batik ini terlihat basah, namun jika dipegang, teksturnya halus dan kering.

Tiap daerah di Pulau Madura mempunyai corak khasnya masing-masing. Bukan hanya dari karakter, namun pengaruh dari luar daerah juga memberikan kontribusi dari variasi Batik Madura. Batik Bangkalan misalnya. Batik dari kabupaten di ujung pulau Madura ini mempunyai warna yang lebih kontemporer yang tebal. Karakter coraknya pun sangat kuat dibandingkan batik Madura dari kabupaten-Kabupaten lain yang berada di Pulau Garam ini. Karakternya bisa dimaknai sebagai arti harfiah karakter dongeng lokal. Motif tulis ini dikenal sebagai motif “gejekereng”, “lamuk”, dan “panji”.

Batik Sampang dan Batik Sumenep hampir memiliki ciri yang sama. Corak flora dan faunanya sangat kental. Hanya saja Batik Sumenep lebih detail menggambarkan flora dan faunanya, semisal motif ayam bekisar atau bunga teratai. Sementara Batik Sampang, cukup mempunyai warna yang lebih variatif dan “ngejreng” (kontras), meski corak flora dan faunanya tidak sedetail batik Sumenep.

Hampir semua batik Kabupaten Sumenep berupa batik tulis. Hal ini dikarenakan batik tulis merupakan warisan nenek moyang yang harus dipertahankan. Cukup banyak jenis dan motif batik yang ditulis di kain batiknya. Di antaranya motif “karpotean” yaitu gambar dahan, daun, dan bunga dengan warna cerah, seperti hijau, merah, dan kuning. Selain itu, ada juga motif terang bulan dengan gambar kelopak-kelopak bunga yang didominasi warna cokelat kehitam-hitaman. Sangat detail jika dilihat.

Sementara, Batik Pamekasan, lebih berciri perpaduan dari semua motif batik yang ada di Pulau Madura. Motifnya ada yang abstrak, “lawasan” (vintage), dan “gunungan”. Motif batik abstrak, cenderung berbentuk garis-garis seperti serat kayu, sepintas berwarna kuning gading dengan motif standar serta warna sejuk tidak terlalu mencolok.

Sementara ada juga yang memiliki motif yang bernama “lawasan” berbentuk batik kuno seperti motif standar cenderung buram (seperti batik soft) dengan warna sejuk (seperti warna khaki) tidak mencolok. Untuk batik motif “Gunungan”, berupa batik yang tidak terlalu penuh dengan motif. Motif yang dimaksud adalah motif berbagai corak yang dituangkan dalam satu kreasi saat membatik. Batik “Gunungan” yaitu dengan bentuk di atas penuh dengan motif, sedangkan di bawah jarang-jarang.

Demikianlah sekelumit cerita tentang batik Nusantara, kita patut berbangga akan kekayaan Indonesia yang satu ini, selain turut memberikan sumbangsih yang teramat besar di bidang fashion, batik juga sudah diakui secara sah oleh Unesco sebagai kain asli khas Indonesia. Tugas kita semua untuk senantiasa menjaga warisan budaya tersebut. Pakailah batik dengan penuh kebanggaan ya, Guys, karena batik ini bukan hanya sekadar kain tapi sarat sejarah dan filosofi.


Topik

Peristiwa mengenal-batik kain-eksotis-khas-indonesia



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Ira Pudjosakti

Editor

Lazuardi Firdaus