Kampung Topeng, Ubah Wajah Kota Malang Bersih dari Gelandangan

Destinasi Wisata Baru Kota Malang  3

MALANGTIMES - Setelah Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni, Kota Malang kembali dikenal dengan Kampung Topeng yang terletak di Dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Kampung Topeng berdiri karena Program Penanganan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berorientasi Desa atau bisa disebut "Desaku Menanti". Program tersebut guna mengembangkan model penanganan gelandangan, pengemis dan anak jalanan, agar hilang secara permanen di kota-kota besar.

Program ini adalah inovasi dari program penanganan gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang selama ini dilakukan, yaitu dengan memfokuskan semua layanan di daerah asal para gelandangan dan pengemis berbasis desa. Di samping itu, semua kegiatan akan melibatkan seluruh komponen di daerah asal, seperti pemerintah daerah, pengusaha (CSR), LSM, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Inti dari program ini adalah menciptakan keteraturan sosial melalui peningkatan kontrol sosial dari masyarakat. Mereka (gelandangan, pengemis dan anak jalanan) yang berpandangan bahwa dengan menggelandang mereka bisa memperoleh uang tanpa harus bekerja keras.

Menariknya lagi, mereka justru memanfaatkan layanan panti-panti maupun layanan transmigrasi sebagai suatu ‘selingan hidup’ dimana mereka bisa numpang makan minum gratis di panti dan pindah dari satu panti ke panti lainnya manakala bosan, dan hal inipun diorganisir oleh kelompok gelandangan sendiri dengan baik. Bagi yang bertransmigrasi mereka juga kembali setelah menjual tanah dan rumahnya ke tetangganya maupun ke penduduk setempat. Fenomena itulah yang ingin dihapus oleh Kementerian Sosial melalui program Desaku Menanti.

Koordinator Kampung Topeng, Hadi mengatakan dikumpulkannya para warga yang mayoritas mencari uang dari jalanan ini setelah dikasih binaan selama 3 bulan dan jaminan hidup dari Menteri Sosial (Mensos), setiap Kepala Keluarga (KK) mendapat Rp 9 juta dan modal Rp 5 juta.

Tapi ada aturan yang mengatakan bila ada yang hanya pikirannya untuk mencari uang saja dari Kampung Topeng, akan ditindak tegas oleh dinas terkait, dalam hal ini Dinas Sosial. "Banyak warga sini yang datang waktu pembagian uang atau sembako saja, lalu pergi lagi. Itu jelas sedikit banyak bisa mempengaruhi warga lain, seperti kecemburuan sosial antar warga akan sering muncul kalau seperti itu. Saya ingin ada ketegasan dari pemerintah sini terkait warga yang bandel," ujar Hadi kepada MALANGTIMES.

Adanya Kampung Topeng membuat warga daerah Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Daerah tersebut dulunya jarang dilewati orang karena selain jalan yang tidak beraspal, juga tidak ada penerangan di sepanjang jalan menuju daerah Baran.

"Tapi memang semenjak ada Kampung Topeng ini, kampung atas dan bawah jadi rukun, soalnya dulunya ada kerenggangan antara warga sini. Sekarang jalannya sudah enak, lampu terang dan juga kalau malam ada yang ronda, biar warga merasa aman kalau lewat daerah sini," terang Hadi.

Tak hanya itu. Kegiatan di Kampung Topeng untuk mempererat hubungan antar warga sudah dilakukan oleh Hadi. Karena menurut pria yang mempunyai 6 anak ini, harmonisasi bertetangga sangat penting guna menumbuhkan bersama kampung yang berada ditanjakkan ini. "Di sini juga ada kegiatan dari bapak-bapak, guna mempererat hubungan antar warga. Yang ibu-ibu juga ada pengajian. Dan tak lupa kami warga sini juga menggelar ronda malam yang sudah terjadwal," ucap Hadi.

Kegiatan warga sehari-hari diantaranya ada yang parkir, ibu-ibu jualan di depan dan warga membuat kreasi sendiri untuk oleh-oleh dari Kampung Topeng. Keberadaan Kampung Topeng sedikit banyak mengurangi angka gelandangan di Kota Malang. Karena dengan adanya program Desaku Menanti itu juga, para gelandangan bisa hidup layak dan mendapatkan lapangan pekerjaan. Dengan begitu Kota Malang terlihat bersih dan rapi.

Top