Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Wisata

Kisah Dramatis Coban Putri, Keindahan Alam Cerminan Pengorbanan Ibu untuk Anak

Penulis : Nurlayla Ratri - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

26 - Dec - 2018, 00:51

Placeholder
Dua air terjun yang berjajar di wisata alam Coban Putri, di Desa Tlekung, Kota Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Meski baru dibuka pada 2017 lalu, keberadaan wana wisata Coban Putri sudah dilirik banyak wisatawan. Namun siapa sangka, coban atau air terjun yang berada di Dusun Krajan, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu itu menyimpan kisah dramatis. 

Penamaan air terjun tersebut terinspirasi dari kejadian mengharukan terkait pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. 
 

Beberapa warga setempat yang membuka jasa antar penumpang di wisata alam Coban Putri mengungkapkan air terjun itu sempat berganti nama. "Dulunya coban ini dikenal orang Tlekung namanya Coban Ketokan, karena dianggap potongan (ketokan) dari Coban Rais yang (lokasinya) berada di atas," ujar Sagimo, salah satu tukang ojek wisata. 
 

Pria 56 tahun itu mengungkapkan, sumber air yang mengalir di Coban Putri masih sama dengan Coban Rais. Yakni dari Sumber Darmi di Parang Gedeg, salah satu sisi pegunungan Panderman. "Alirannya jadi satu, tapi di Coban Putri ini tepecah jadi dua air terjun, yang (alirannya) besar disebut mbok (ibu) dan yang kecil disebut anak," ujarnya. 
 

Pergantian nama tersebut, lanjut Sagimo, berlangsung sekitar 4-5 tahun silam. "Belum lama diganti, sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Saat itu ada kejadian yang menggegerkan warga di sini," terang bapak dua anak itu. 
 

Kejadian tersebut yakni, ada seorang ibu pencari rumput asal Desa Dresel, Kota Batu. Ibu itu mencari pakan ternak di sekitar coban dengan mengajak anak perempuannya yang masih kecil. Karena sibuk mengisi keranjang rumput, si Ibu sempat tidak memperhatikan putrinya yang asyik bermain.
 

"Nah, putrinya itu main sampai di dekat jurang. Terpeleset, mau jatuh tapi pegangan. Akhirnya si ibu ini menolong anaknya, tapi kok ya ikut jatuh juga. Mereka di tebing itu cukup lama sampai ada tukang cari rumput lain tahu. Ditolong oleh orang kampung, dua-duanya selamat," urai Sagimo. 
 

Kisah itu juga dibenarkan M Oki Pangestu, petugas penjaga loket Coban Putri. "Sejak ada kejadian itu sama masyarakat diganti jadi Coban Putri. Untuk mengingatkan soal pengorbanan ibu untuk putrinya," ujar Oki. Penggantian itu, lanjutnya, seolah menjadi berkah karena nama Coban Putri lebih mudah dikenali wisatawan.
 

"Dulu paling hanya anak-anak Batu dan Malang yang tahu, tapi lama-lama coban ini dikenal. Apalagi setelah fasilitasnya ditambah dan jalannya diperlebar," terang Oki. Untuk diketahui, kini akses menuju Coban Putri sudah bisa dilewati kendaraan roda empat. Dari parkiran dekat loket, pengunjung tinggal berjalan sekitar 1 kilometer hingga bawah air terjun.
 

Sementara bagi pengendara roda dua, jarak tempuh ke coban jauh lebih dekat. Sekitar 300 meter dari bawah air terjun. Fasilitas tambahan seperti kamar mandi, warung makan, hingga spot-spot selfie bakal membuat pengunjung semakin betah. Kubangan air yang dangkal, sekitar mata kaki orang dewasa, membuat anak-anak bisa bermain di bawah air terjun. 
 

Oki menambahkan, selama masa liburan sekolah serta periode Natal dan tahun baru (Nataru) ini terjadi peningkatan jumlah wisatawan. "Kalau Sabtu-Minggu di sini paling dikunjungi sekitar 100 orang lebih. Tapi musim liburan ini, tercatat yang paling banyak sehari sampai 400 orang," pungkasnya. 

 


Topik

Wisata malang berita-malang air-terjun wisata-alam-Coban-Putri Kisah-Dramatis-Coban-Putri



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nurlayla Ratri

Editor

Sri Kurnia Mahiruni