Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Gara-Gara Burung, Puluhan Juta Warga Tewas Mengenaskan, Ini Videonya

Penulis : Dede Nana - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

16 - Nov - 2018, 15:48

Placeholder
Lukisan pemusnahan rantai makanan yang membuat manusia mengalami kesengsaraan (Ist)

Puluhan ribu nyawa melayang oleh satu kebijakan atau doktrin terkait dengan keberadaan burung gereja atau burung pipit. 

Kebijakan atau doktrin yang disebut "Loncatan Jauh ke Depan" telah membuat 15 juta nyawa melayang. 

Begitulah data resmi yang dirilis pemerintah China setelah kejadian termiris dalam sejarah. Namun, beberapa ilmuwan memperkirakan, korban jiwa sebenarnya mencapai 45 juta sampai dengan 78 juta orang. 

Lantas, apakah hubungannya dengan burung gereja atau pipit dengan kematian puluhan juta warga China di tahun 1958 saat Mao Zedong memerintah Republik Rakyat China (RRC) ini. 

Hal ini dikarenakan bagian dari doktrin Mao Zedong kepada warganya yang memerintahkan untuk melakukan pembasmian seluruh burung gereja atau pipit di seluruh negeri. Mao menganggap burung gereja merupakan hama dan terlalu banyak memakan gandum yang ditanam. Sehinggga warga didera kelaparan.

"Burung-burung itu, telah menghalangi perkembangan ekonomi Republik Rakyat China," ujar Mao Zedong. 

Maka, jutaan warga China pun dimobilisasi untuk membasmi semua burung. Bahkan, pemerintah China memberikan imbalan kepada warga yang membunuh burung-burung tersebut. 

Pembantaian burung pun berlangsung di seluruh negeri. Tumpukan bangkai burung menggunung. Diperkirakan warga China telah membantai sekitar 600 juta ekor burung gereja atau pipit. 

Di era pembantaian ratusan juta burung gereja atau pipit inilah yang merupakan cikal bakal tragedi kelaparan paling dahsyat di China. Populasi ulat dan belalang sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) berkembamg begitu pesat. Kedua OPT ini tidak lagi memiliki pemangsa alaminya karena dibasmi manusia. Mereka merusak berbagai tanaman biji-bijian yang merupakan sumber pangan masyarakat. 

Orang-orang mulai kehabisan makanan dan menyebabkan jutaan dari mereka kelaparan. Hanya membutuhkan waktu tiga tahun dari pembantaian burung gereja atau pipit, jutaan warga China tewas kelaparan. 

Doktrin "Loncatan Jauh ke Depan" membuat perekonomian ambruk, bencana lingkungan, dan teror menjadi tuan rumah yang haus nyawa manusia.

Yang Jisheng seorang jurnalis China dalam bukunya Tombstone memperkirakan terdapat lebih dari 36 juta kematian akibat kelaparan terbesar di era manusia. Warga yang kelaparan, akhirnya bertahan hidup dengan cara yang mengerikan. Orang memakan orang untuk bertahan hidup. Paktik kanibalisme merebak bak cendawan di musim hujan. Orang tua memakan anaknya sendiri atau pun sebaliknya. 

Sejarah kelaparan yang menyebabkan puluhan juta warga gegara kampanye pembantaian burung gereja atau pipit ini, menuai komentar warganet. Saat akun Merinding mengulasnya di Instagram.

Warganet menuliskan doktrin untuk membantai burung sebagai strategi pemerintah mengurangi populasi warganya. Akun Rendyadinata725 menulis, "Mengurangi jumlah penduduknya tanpa mengotori tangannya,".  Senada dengan akun Murih yang berkomentar seperti ini,  "Kayanya itu strategi pemerintahnya buat ngurangi populasi penduduk,". 

Warganet lainnya seakan tidak percaya dengan dibantainya ratusan juta burung gereja atau pipit,  bisa membuat OPT berkembang biak begitu pesat.

Noprizallsajara menanyakan, tentang hal tersebut. "Masuk akal enggak ini, padahal burung pipit pemakan biji-bijian. Bukan pemakan ulat dan belalang," tulisnya yang dibalas oleh akun Zuladji yang menjawab hal tersebut masuk akal. Zuladji menuliskan rantai makanan yang ada dalam peristiwa tersebut. 


 


Topik

Peristiwa pembataian-burung burung-pipit pemerintah-cina rantai-makanan kelaparan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Dede Nana

Editor

Sri Kurnia Mahiruni