Tidak banyak kisah yang menceritakan tentang seorang bangsawan dari Hindia Belanda (Indonesia), anak Raden Adipati Ario Soejono yang menjabat sebagai menteri dalam kabinet Belanda (3 September 1940-24 Juni 1945) pimpinan Perdana Menteri Pieter Sjoerds Gerbrandy.
Dialah Irawan Soejono yang merupakan orang Hindia Belanda tetapi bertempur dalam masa pendudukan Nazi Jerman di Belanda (1940-1945). Aksinya dalam ikut serta mengusir Nazi Jerman inilah yang membuat kiprahnya diganjar sebagai pahlawan perang Belanda.
Bagaimanakah Irawan Soejono bisa terlibat dalam pertempuran antara Belanda dengan Nazi Jerman? Dari berbagai literasi, Irawan sejak usia 6 tahun telah tinggal di Belanda bersama orang tua dan tiga saudara kandungnya. Irawan kecil bersekolah di Bataviaasche Lyceum. Sebuah sekolah yang sangat prestisius dikarenakan diisi oleh para murid cerdas.
Menginjak remaja, Irawan berkuliah di Leiden dan tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI). Kehidupan Irawan sebagai mahasiswa terusik saat Nazi Jerman menduduki sebagain besar wilayah Belanda. Tak terkecuali Kota Leiden, tempat Irawan berkuliah.
Keberadaan Nazi Jerman di Belanda selain menduduki wilayah juga menginginkan adanya purifikasi ras dalam dunia akademis. "Tidak boleh ada dosen atau karyawan berdarah Yahudi. Atau orang-orang non-Jerman dan Belanda." Begitulah Nazi mengeluarkan maklumatnya.
Sontak saja ribuan mahasiwa, tak terkecuali Irawan, bangkit melawan di bawah tanah. Irawan aktif di kelompok pejuang bawah tanah yang dinamakan Binnenlandsche Strijdkrachten (Tenaga Pejuang Dalam Negeri) cabang Leiden untuk menyebarkan ideologi anti-Nazisme.
Tugas utama Irawan bukan memanggul senjata, tapi menangani alat-alat percetakan dan radio. Dia berperan dalam penyebaran anti Nazi melalui berbagai pamplet, buletin dan lainnya serta memantau siaran radio dari Sekutu. Sesekali, Irawan pun berjuang dengan mengangkat senjata di kelompok bersenjata perjuangan perlawanan Indonesia.
Perannya tersebut membuat dirinya di kalangan pejuang perlawanan Belanda dijuluki Henk van de Bevrijding (Henk Pembebasan). Sayangnya di usia yang terbilang muda, yakni 23 tahun. Irawan pada bulan Januari 1945 ditembak oleh polisi rahasia Nazi. Tepat di pelipisnya yang membuatnya tewas.
"Tanggal 13 Januari 1945, mahasiswa muda Indonesia RM Irawan Soejono di Leiden mengangkut perlengkapan stensil yang baru saja direparasi untuk mencetak penerbitan-penerbitan ilegal. Ia bertemu dengan pasukan SS yang sedang melakukan razia. Irawan berusaha melarikan diri, tapi ia ditembak mati,” tulis beberapa literatur.
Perjuangannya tersebut tidak sia-sia. Tak berapa lama setelah kematian Irawan, Belanda bebas dari Jerman pada tanggal 5 Mei 1945.
Perjuangan Irawan membuat pemerintah wilayah Kota Osdorp di Amsterdam, Belanda, menyematkan namanya di salah satu jalan, yakni Irawan Soejonostraat (Jalan Irawan Soejono). Pemerintah Belanda juga secara simbolis mengakui Irawan Soejono sebagai pahlawan perang.
Setiap tanggal 4 Mei, Belanda merayakan Dodenherdenking untuk menghormati korban Perang Dunia 2. Rumah-rumah menaikkan bendera setengah tiang dan pada pukul 8 malam. Seluruh Belanda mengheningkan cipta selama dua menit. Mereka masih tetap mengenang perjuangan para mahasiswa Indonesia yang ikut serta mengusir Nazi Jerman. Sang pahlawan Indonesia yang ikut mengeyahkan Nazi ini pun tetap dikenang sampai saat ini. (*)
