Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

47 Tahun Silam, Fragmen Kematian Putra Fajar di Kamar Tahanannya yang Bau dan Jorok

Penulis : Nana - Editor : Lazuardi Firdaus

16 - Apr - 2017, 21:20

Placeholder
Ribuan rakyat berbondong-bondong mengantar kepulangan Soekarno, 21 Juni 1970, (Istimewa)

MALANGTIMES -  "Kenapa Bapak tidak melawan, kenapa dari dulu Bapak tidak melawan..." salah satu ajudan separo berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.

"Kalian tahu apa. Kalau saya melawan, nanti perang saudara. Perang saudara itu sulit. Jikalau perang dengan Belanda, jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak. Wajahnya sama dengan wajahmu... Keluarganya sama dengan keluargamu. Lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara," tegas Bung Karno kepada ajudannya.

Baca Juga : "Libur" PAUD, SD, SMP se-Kota Malang Diperpanjang hingga 5 April

Percakapan tersebut adalah awal penahanan politik Presiden Soekarno oleh rezim Soeharto, tahun 1967 silam. Setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Abdul Haris Nasution tahun 1967 dan MPRS menunjuk Soeharto sebagai presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan istana dalam waktu 2 x 24 jam.

Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisasi barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh Soekarnoputra sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah ibu".

Rumah ibu yang dimaksud Guruh adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, bapak tidak boleh lagi tinggal di istana ini lagi. Kamu persiapkan barang-barangmu. Jangan kamu ambil lukisan atau hal lain. Itu punya negara," kata Bung Karno,

Bung Karno juga mengatakan hal yang sama kepada beberapa ajudan setianya yang tersisa. Sebagian ajudan Bung Karno telah ditangkap karena diduga terlibat peristiwa Gestapu.

"Aku sudah tidak boleh tinggal di istana ini lagi. Kalian jangan mengambil apa pun. Lukisan-lukisan itu, suvenir, dan macam-macam barang. Itu milik negara," tegasnya.

Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan istana. "Pak, kami memang tidak ada anggaran untuk masak. Tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya."

Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi  itu malah enak. Kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua, saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya, datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini." Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.

Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar. Dalam pikiran Bung Karno, yang dia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.

Lalu, dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas. Dia masukkan ke dalam kaus oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu. Namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar.

Sesaat ia melihat wajah ajudannya, Maulwi Saelan (pengawal terakhir Bung Karno). "Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapi dulu, Pak," Saelan separo berteriak.

Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya, dan meminta sopir mengantarkannya ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman. Matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.

Di awal tahun 1969, dari buku Total Bung Karno karya Roso Daras, Bung Karno tidak boleh menerima tamu, termasuk keluarganya, karena harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan interograsi. Keluarganya hanya bisa mengantar makanan melalui penjaga.

Bung Karno yang suka keramaian dan selalu membutuhkan teman bicara menjadi makin depresi karena diasingkan. Sementara dulu penjajah Belanda saat membuang tahanan politik ke luar Jawa tidak melarang mereka bergaul dengan lingkungannya.

Pengasingan terhadap dunia luar ini oleh rezim Orde Baru dikarenakan Soekarno masih memiliki kekuatan besar, yaitu dicintai rakyatnya. Hal ini terlihat dari fragmen Bung Karno sebelum ajal merenggutnya 21 Juni 1970 pukul 07.00 WIB.

Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri, gadis Bali, untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno ingin duku itu tetapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tri, aku tidak punya uang." Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya. Dia merasa cukuplah buat beli duku sekilo.

Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata, "Pak, bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak, manis-manis nih," ujar tukang duku dengan logat Betawi kental.

Bung Karno dengan tersenyum senang berkata, "Coba kamu cari yang enak". Tukang duku itu mengernyitkan dahinya. Dia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak, "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak!!" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan. "Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." Mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah kepada Bung Karno.

Awalnya Bung Karno tertawa senang. Ia terbiasa menikmati kebersamaan dengan rakyatnya. Tetapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno. Dia takut rakyat yang tidak tahu apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat!" perintah Bung Karno dan ia melambaikan tangan ke rakyatnya yang terus-menerus memanggil namanya, bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tahu pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, beberapa perwira pro-Soeharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. 

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso. Tetapi, kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Sering dia dibentak bila akan melakukan sesuatu. Suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu. Koran itu langsung direbut tentara dan Bung Karno dimarahi.

Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok, dan bau. Memang ada yang merapikan, tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono, nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno.

Ia tahu obat-obatan yang ada di laci istana sudah dibuangi atas perintah seorang perwira tinggi. Mahar Mardjono hanya bisa memberikan vitamin dan royal jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur, diberinya valium. Soekarno sama sekali tidak diberi obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

Baca Juga : Pemerintah Siapkan Insentif Bulanan untuk Tenaga Medis di Daerah Tanggap Darurat Covid-19

Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno. Namun, Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970, Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah istrinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak.

Ketika tahu Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!"

Soekarno yang refleks karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini tertawa dan melambaikan tangan. Tetapi dengan kasar, tentara menurunkan tangan Soekarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.

Pengamanan terhadap Soekarno diperketat. Alat sadap dipasang di setiap sudut rumah. Rupanya "singa tua sakit-sakitan dalam sangkar berlapis" itu masih menakutkan bagi Jenderal Soeharto .

Masuk Februari, penyakit Bung Karno semakin parah. Dia sudah  tidak kuat berdiri, hanya tidur. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau.

Ia berteriak " Sakit.... sakit ya Allah... sakit..." Tetapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Dalam buku Mengenang Bung Hatta karya I Wangsa Widjaja, kondisi parahnya sakit Soekarno akhirnya terdengar juga oleh Bung Hatta. Hatta menulis surat pada Soeharto dan mengecam cara merawat Soekarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan. Dia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara kepada istrinya, Rachmi, untuk bertemu dengan Bung Karno.

"Kakak tidak mungkin ke sana. Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri Bung Hatta.

Hatta menoleh kepada istrinya dan berkata, "Soekarno adalah orang terpenting dalam pikiranku. Dia sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kami, itu lumrah. Tapi aku tak tahan mendengar berita Soekarno disakiti seperti ini."

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Soeharto untuk bertemu Soekarno. Ajaibnya, surat Hatta langsung disetujui walaupun dengan berbagai syarat yang cukup lama dan berat. Hatta diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang  ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar. Tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan. "Bagaimana kabarmu, No?" tanya Hatta tercekat. Mata Hatta sudah basah.

Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta. "Hoe gaat het met jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda. Artinya: bagaimana pula kabarmu, Hatta.  Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya. Air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi dua orang besar negeri ini yang pernah berselisih pandangan politik tetapi tidak pernah kehilangan kemanusiaannya.

Soekarno meninggal dalam ruang perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak napas, dan rematik mengalahkan tubuhnya. Semangatnya sudah hilang bertahun-tahun lalu, saat Jenderal Soeharto menahannya di Wisma Yaso. 

Dalam buku "Hari-hari Terakhir Soekarno"' yang ditulis Peter Kasenda dan diterbitkan Komunitas Bambu, sebelum wafatnya Putra Fajar ini, dokter Mahar Mardjono menghubungi anak-anak Soekarno, meminta mereka segera datang.

Minggu 21 Juni 1970 pukul 06.30 WIB, anak-anak Soekarno sudah berkumpul di RSPAD. Tampak Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh, dan Rachmawati menunggu dengan tegang kabar ayah mereka.

Pukul 07.00 WIB, dokter Mahar membuka pintu kamar. Anak-anak Soekarno menyerbu masuk ke ruang perawatan. Mereka memberondong Mahar dengan pertanyaan. Namun Mahar tak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala.

Pukul tujuh, suster mencabut selang makanan dan alat bantu pernapasan. Anak-anak Soekarno mengucapkan takbir. 

Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya. Soekarno mencoba mengikutinya. Namun, kalimat itu tak selesai.

"Allaaaah..." bisik Soekarno pelan seiring napasnya yang terakhir.

Minggu, 47 tahun lalu, seorang anak bangsa yang mungkin tak akan terlahirkan lagi dalam sejarah Indonesia telah bebas dari segala jerat duniawi. Bebas dari status tahanan rumah Orde Baru. Bebas dari para pengawal, tembok-tembok tinggi, alat penyadap dan para interogrator.


Topik

Pendidikan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nana

Editor

Lazuardi Firdaus