Desa Kemirigede, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, memiliki potensi alam yang luar biasa. Berada di lereng Gunung Kawi, daerah ini memiliki banyak kawasan perbukitan dan hutan belantara yang masih alami. Potensi ini dijadikan wisata untuk mengangkat ekonomi kerakyatan.
Kepala Desa Kemirigede, Hari Purnawan, mengatakan selain memiliki potensi Hutan Pinus Gogoniti, warganya juga kompak menjaga kebersihan desa. Disamping itu, di desa banyak terdapat sentra UMKM. Kombinasi ketiga ini dipadukan dan sukses mengangkat ekonomi warga desa. Kini warga Desa Kemirigede telah merasakan dampak ekonomi dari pengembangan Desa Wisata.
Namun siapa sangka, jalan Pemerintah Desa Gogoniti dalam mengembangkan desa wisata itu cukup berliku. Bahkan banyak warga dari kalangan petani yang sempat menolak rencana pengembangan wisata Hutan Pinus Gogoniti.
“Gogoniti ini punya luas 6 hektar dan merupakan lahan milik Perhutani. Dulu sebelum ditanami pohon pinus tempat ini ditanami rambanan. Saat akan ditanami pohon pinus warga sempat menolak, kita berkali-kali meyakinkan petani tentang rencana ini,” ujar Hari Purnawan.
Di Kemirigede terdapat banyak UMKM pembuatan makanan tradisional seperti pembuatan nasi timul, ampok, kicak hingga cenil. Ternyata, kuliner ini menjadi salah satu daya tarik wisata Hutan Pinus Goginiti saat ini.
“Akhirnya banyak warga yang mulanya mencari rambanan kini berjualan kuliner tradisional di wisata Hutan Pinus Gogoniti. Untungnya pun ternyata lebih lumayan daripada mencari rambanan, karena dengan jualan mereka bisa gajian setiap hari,” katanya.
Wisata Hutan Pinus Gogoniti berlokasi di dataran tinggi lereng Gunung Kawi. Udara sejuk khas pegunungan dipadu dengan banyaknya pohon pinus membuat wisatawan nyaman dan betah berlama-lama di tempat ini. Pengunjung datang dari dalam dan luar Blitar. Menurut catatan pengelola, selama libur panjang hari raya Idul Fitri jumlah pengunjung mencapai 10 ribu orang.
Untuk menuju ke Gogoniti, rutenya cukup mudah ditempuh. Dari pertigaan barat SPBU Kesamben, menuju utara ke arah Desa Pagerwojo, Desa Tepas, dan kemudian Desa Kemirigede. Cukup seperempat jam saja dari pusat Kecamatan Kesamben.
Jangan lupa wisata ini hanya buka pukul 07.00 sampai 17.30 WIB. Untuk Anda yang akan pergi ke Gumuk Sapu Angin, tidak ada salahnya untuk mampir ke Hutan Pinus Gogoniti karena berada pada satu jalur yang sama apabila Anda berangkat dari Kesamben.
Selain menawarkan keindahan alam, ternyata Gunung Gogoniti juga menyimpan suatu tanda sejarah. Letaknya terletak di puncak bukit.
Warga setempat menyebutnya punden, tempat untuk nyadranan dan bersih desa. Yang dipundenkan adalah tokoh sesepuh desa bernama Nitikusumo.
Punden yang terletak di puncak bukit itu hanya dapat diakses melaui jalan makadam. Tanjakan dan tikungan yang berkelok-kelok juga menambah tantangan dalam perjalanan ini.
Di dalam punden tersebut terdapat sebuah makam yang dikelilingi empat buah umpak. Uniknya, nisan dari makam tersebut adalah prasasti. Prasasti itulah yang selama ini dikenal dengan nama Prasasti Gogoniti.
Menurut Hari Purnawan, wisata Gogoniti ini terus dikembangkan. Saat ini pihaknya tengah membangun akses jalan berupa jalan rabat.
Pengelola juga tengah mengembangkan homestay dengan memanfaatkan potensi rumah-rumah penduduk.
“Untuk menciptakan homestay yang berkelas butuh SDM yang mumpuni. Warga juga harus membenahi rumahnya dan senantiasa menjaga kebersihan. Ini yang tengah kita siapkan. Harapannya nanti wisatawan bisa menginap dan berlama-lama di Gogoniti, imbasnya ke perbaikan ekonomi rakyat,” tuntasnya.
