Berdampingan dengan Masjid Jamik Malang, GPIB Immanuel merupakan salah satu tempat beribadah umat Kristiani dengan usia umayan tua. Tahun ini, usia gereja yang dibangun pada masa kolonial Hindia Belanda itu sudah menginjak angka 157, tepatnya pada 30 Juli mendatang.
Meski tergolong tua, nyatanya bangunan dari gereja ini masih sama seperti saat dibangun dulu. Lantai, atap, lampu, mimbar, hingga bangkunya pun masih tetap bertahan seperti ratusan tahun lalu.
Sempat direnovasi beberapa kali. Namun, keaslian dari bangunan masih tetap dipertahankan. Soalnya, GPIB Immanuel merupakan salah satu aset berharga yang masuk dalam kategori cagar budaya. Untuk melakukan renovasi, tak diperbolehkan mengubah bentuk asli bangunan yang ada.
Dibangun pada masa kolonial Belanda, gereja yang berada di Jl Merdeka Barat ini dulunya memang hanya digunakan sebagai tempat beribadah bangsa Belanda. Namun saat Jepang datang pada 1942, gedung megah yang mampu menampung hingga 1.200 jemaat itu digunakan sebagai gudang beras.
"Jadi, dulu sempat digunakan sebagai gudang beras oleh Jepang. Hingga akhirnya kembali difungsikan sebagai gereja setelah Jepang meninggalkan Malang," terang pengurus GPIB Immanuel Malang Jopie Latuminase kepada MalangTIMES.
Meski sempat menjadi gudang beras, desain interior dan eksterior gereja dapat dikembalikan seperti semula. Lantai yang digunakan hingga kursi yang ada merupakan hasil peninggalan kolonial Belanda, dan usianya hampir sama dengan usia gereja. "Jadi, bangku panjang maupun bangku yang digunakan untuk satu orang itu sudah ada saat dibangun dulu," jelas pria ramah tersebut.
Tak hanya itu. Lampu yang ada dan berfungsi dengan baik sampai sekarang itu juga merupakan peninggalan kolonial Belanda. Lampu berbentuk bulat pada sisi kanan dan kiri ruangan. Sementara lampu yang diletakkan di tengah merupakan lampu tambahan.
Menariknya lagi, gereja ini juga masih menyimpan dua kitab yang di dalamnya tertulis diterbitkan pada 1714. Kedua kitab dengan tebal mencapai ribuan halaman itu masih menggunakan bahasa Belanda dan masih tersimpan dengan rapi. Sedangkan sampulnya sendiri terbuat dari kulit binatang. "Ini juga menjadi aset otentik yang dimiliki GPIB Immanuel," pungkas Jopie. (*)
