Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Opini

Sungguh Saya Malu pada Lidah dan Hati Sendiri

Penulis : - Editor : Soejatmiko

30 - Mar - 2018, 14:32

Placeholder
Ilustrasi (Ist)

*dd nana

Terus terang,  saya selalu merasa minder kalau berada dalam kerumunan jamaah pengajian. Terutama dalam acara-acara yang melibatkan para habib atau orang-orang suci bersorban dan berjenggot yang kehadirannya dielu-elukan jamaah.  

Kenapa saya malu? Karena saat ratusan bahkan ribuan jamaah berebut untuk mengecup tangan dan meneriakkan kerinduannya,  saya menyebutkan namanya saja begitu sulit. Lidah saya tidak akrab dengan panggilan cinta para jamaah pada para syech atau habib tersebut. Duh,  sungguh saya malu banget. 

Lidah saya yang sunda ini jangankan mengucapkan nama-nama arab, melafalkan huruf p,  f,  v saja tidak bisa. Semuanya sama saat disebutkan. Tivi (dibaca tipi), foto, voltus (tetep dibaca poto,  poltus). 

Jadinya,  di tengah kerumunan  tersebut, saya hanya terdiam dan menatap takjub jamaah pengajian. Selain takjub pada kefasihan lidah mereka juga salut atas rasa hormat dan  cinta mereka pada para habib dan syech yang telah ditunggunya berjam-jam dalam suatu acara. 

Malu saya pada lidah dan hati yang telah saya bawa sejak lahir sampai saat ini. Lidah yang begitu kakunya kalau diajak untuk melafalkan aksara arab yang dijadikan bahasa Al-quran. Hati yang juga susah banget untuk bisa mencintai para habib atau syech seperti yang diperlihatkan oleh para jamaah pengajian. 

"La mau cinta gimana namanya saja loe enggak tau. Beda dengan mereka.  Karena cinta,  maka segala yang dipujanya diikuti. Dari busana, cara bicara, perilaku dan lainnya. La loe lidah hanya dilatih untuk bertarung doang," serobot hati yang protes  karena dirinya dipermalukan saya.

"Yang malu itu gue,  kenapa malah loe yang malu. Ngaca sana... " lanjut sang hati. 

Dari rasa malu tersebut,  saya jadi mencoba untuk mengingat. Sejak kapan punya rasa malu saat berada dalam kerumunan jamaah. Saya buka setiap pintu dalam diri yang sangat banyak ini. Walau sebagian pintu dalam diri saya sendiri sudah susah banget di buka. Karatan,  penuh debu,  sarang laba-laba dan  berbagai binatang menjijikan. 

Sebelum si hati protes,  saya dahului dengan permintaan maaf. "Ia gue yang salah. Pemalas, nuruti angan-angan dan nafsu. Hingga lupa mengajak pelesir loe hat. Pelesir ke masjid,  tempat pengajian dan ruang-ruang kebaikan, ". 

Satu pintu terbuka. Masa dimana lidah saya diajari berbagai aksara dan angka. Saya melihat diri sendiri yang dengan semangat bersama rekan sejawat duduk bersila dengan wajah ceria. Melafalkan alif,  ba,  ta,  tsa... Menghafalkan dan  mengingat,  bahwa Tuhan itu satu. Maha Pengasih Maha Penyayang. Walau belepotan lidah mengecap huruf  arab,  tapi saya melihat tidak ada rasa minder di sana. 

Hati saya juga gembira. Menari dalam setiap irama dari surah-surah Al-qur'an. Walau sekali lagi bacaannya masih belepotan. Saya tidak minder,  seperti yang kini menyerang begitu hebat. 

Setelah puas dengan isi pintu dalam diri sendiri,  saya membuka pintu lainnya. Saya muntah-muntah hebat. Di pintu itu, Tuhan yang di pintu pertama dieja firman-Nya dengan lidah dan hati gembira,  berubah di dunia nyata. Orang-orang yang lidahnya fasih melafalkan ayat-ayat Tuhan,  begitu doyan mengafirkan sesama. Begitu bangga menyatakan, "Darah si A halal ditumpahkan. Itu musyrik, Ini Kafir. Tuhan harus dibela dari orang-orang sesat itu. Kita lawan, kita perangi mereka. Gue yang paling benar, loe yang salah. Bla.. Bla.. Bla... ". 

Darah tumpah. Mengalir membasahi bumi. Darah manusia yang sama-sama percaya Tuhan itu satu. Maha Pengasih dan Penyayang. Demi Tuhan, walau beragama sama tapi bukan golongannya,  sikat dan bumi hanguskan. Saya muntah berat. Rasanya lebih sakit seperti saya muntah karena menegak cairan keras. Lidah saya kelu dan kaku. Ayat-ayat yang dihafal masa kecil berjatuhan dari lidah saya. 

Para penyebar agama tidak memberikan rasa sejuk di hati. Ceramahnya menusuk dan mengobarkan biji-biji api yang dulu dibawa para burung ababil. Tapi bukan musuh Tuhan yang dihujani kerikil api dari ceramah para penyebar agama yang lidahnya begitu fasih melafalkan ayat-ayat. Sesama seagama yang jadi incaran. Hati saya beku dan di isi cacing (lo kok kaya daging ikan sardensis yang ada cacingnya dan membuat BPOM minta seluruh produk itu ditarik dari pasaran). 

Mungkin, dari pintu itu saya merasa malu saat berada di tengah-tengah jamaah pengajian. Malu karena lidah saya masih saja kaku dikarenakan banyaknya pengalaman keagamaan yang menyebabkan hati mengalami goncangan. Padahal lidah dan hati mereka baik-baik saja. 

"Zaman sudah berubah bro. Ini Indonesia,  dimana agama berdampingan dengan harmonis. Islam walau mayoritas tidak menindas minoritas, " ujar teman saya yang berjenggot dan di dahinya ada tanda hitam. 

Tapi,  kenapa sesama seagama di zaman sekarang yang lidahnya fasih dan hatinya dianggap benar oleh para pengikutnya,  kerap saling serang. Bertengkar dan membuka berbagai aibnya kepada sesama lain. Padahal Tuhan yang Maha Mengetahui, kerap menutup aib makhluknya itu di dunia,  kalau memintanya.  

Kenapa kebenaran satu kelompok harus diyakini oleh kelompok lainnya. Padahal kebenaran tersebut dinukil dari ayat-ayatnya Tuhan yang Satu. 

Kenapa,  dengan kekuatan begitu besar, baik dari jumlah pemeluk,  ketaatan dalam berbagai kegiatan keagamaan,  masih saja banyak ketimpangan. Kenapa korupsi masih saja merajalela di bumi yang masyarakatnya begitu agamis ini. 

Kenapa...???  "Banyak benar  loe kenapanya. Itu oknum,  oknum bro. Kalau dunia semuanya orang baik, bukan dunia namanya. Dunia itu memang diperuntukkan untuk menebus dosa. Kayak baskom cucian atau mesin cuci gitu, " ujar teman saya tadi. 

Mendengar itu,  saya jadi minder. Lidah dan hati saya lumpuh untuk meneruskannya. Karena yang saya tahu,  agama yang diyakini secara konsisten dan diikuti dengan petunjuk para guru yang lidah dan hati diarahkan kepada kebenaran Tuhan, akan membuat orang semakin baik dan benar. 

Indikatornya, kejahatan menurun drastis. Ketimpangan sosial ekonomi semakin terkikis,  kasih sayang sesama semakin menebal. Kehidupan di dunia yang fana ini menjadi surga kecil bagi seluruh penghuninya. Tidak ada saling fitnah,  hujat dengan berbagai cara. Tidak ada korupsi,  tidak ada orang yang terlantar dan kelaparan. 

"Utopis ah loe.. Ke Surga aja loe sana,  jangan hidup di dunia. Emang lebih baik lidah loe kaku dan hatimu mengeras saja deh. Berprasangka aja loe bisanya, " hujat teman saya lagi.  

Saya akhirnya selalu minder saat berada di kerumunan jamaah. Apalagi setiap kali dekat orang-orang yang dianggap paling benar dan suci oleh para pengikutnya. Lidah saya kaku dan hati saya tiba-tiba membatu. Padahal,  hati saya sangat mudah tersentuh. Hanya mendengar ayat suci dari surau atau masjid saat maghrib atau waktu subuh,  hati ini bergetar. Mata berkaca-kaca,  ingat dosa. 

Padahal hanya membaca tulisan atau menonton film atau cerita sedih, saya kerap mewek. Makanya,  saya jarang diajak meliput berita orang-orang yang fisiknya mengalami deformasi. Karena kecelakaan atau bawaan lahir. 

"Malas ah ajak loe. Belum interview sudah sesegukan nangis,  padahal baru melihat mereka saja, " ucap teman pewarta yang kemana-kemana selalu memakai kopiah. 

*Penikmat kopi lokal gratisan 


Topik

Opini opini opini-malangtimes malu-pada-lidah-dan-hati



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Editor

Soejatmiko