MALANGTIMES - Perkembangan musik Timur Tengah di Indonesia lekat dengan dunia santri. Profesor asal Amerika Serikat Anne K. Ramussen mengungkapkan hal tersebut. Dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih, ia menjelaskan pengalamannya ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang.
Anne mengaku awalnya sempat gusar karena bukan warga negara Indonesia (WNI). "Ada orang asing datang tiba-tiba. Saya kira mereka tidak terima. Ternyata saya diajak ke tempat-tempat berkembangnya musik di Jawa," jelasnya saat sesi diskusi di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (6/2/2017).
Baca Juga : Aksi Tak Terpuji Bule di Bali, Pandemi Covid-19 Malah Party
Penelitian Anne K. Romussen soal musik Timur Tengah di Indonesia tidak saja dilakukan di Ponpes Tebuireng. Anne juga khusus datang ke Bandung hingga Pulau Sumatera untuk melengkapi data penelitiannya.
Sayang, disinggung soal perkembangan musik Timur Tengah di Malang. Anne mengaku malah tak punya datanya. "Besok saya mau ke Kampung Arab di Malang," kata wanita yang pernah belajar di Yaman itu.
Soal perkembangan musik Timur Tengah di Malang, rupanya Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) Profesor Maryoeni mengungkapkan hal menarik.
Menurut dia, justru bukan Kampung Arab di Malang yang menjadi sentral perkembangan musik Timur Tengah di Malang. "Penelitian saya sekitar tahun 1990 menemukan bahwa di Kromengan, Kabupaten Malang, lah pusat perkembangan musik Timur Tengah di Malang," ujarnya.
Baca Juga : UM Sebut Ada Sejumlah Dosen yang Kontak dengan Dosen Positif Covid-19
Lebih lanjut, Maryoeni menambahkan bahwa mahasiswanya kala itu sempat akan membuat miniatur terkait sejarah musik Timur Tengah di Kromengan. "Di sana ada terbang jidor yang memang merupakan musik Timur Tengah yang sebenarnya di Malang, bukan yang di Kampung Arab," kata pria yang mengajar di Fakultas Sastra (FS) UM itu.
Dalam perkembangan selama 10 tahun terakhir, musik Timur Tengah di Malang beralih ke aliran modern yakni kesenian banjari. (*)
