Suku Tengger, atau juga akrab disebut Wong Tengger, merupakan suku adat yang bertahan sampai saat ini. Berdomisili di sekitar kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur (Jatim) yang secara kewilayahan berada di Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.
Suku Tengger sesuai dengan namanya berarti berdiri tegak atau berdiam tanpa gerak, menurut salah satu versi dari teori mengenai keberadaannya, serupa batu karang dalam terpaan zaman yang membawa berbagai perubahan. Tegak dan tidak ikut larut dan hanyut dalam perubahan zaman yang satu sisinya meluruhkan berbagai nilai-nilai tradisi yang hidup ratusan tahun dan digantikan dengan konsep modernitas yang tidak semuanya cocok untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kadisparbud Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara (kaca mata hitam) bersama duta tari dari Suku Tengger Ngadas, Poncokusumo (Ist)
Nilai-nilai luhur Suku Tengger yang tetap terjaga dan lestari, misalnya, dalam praktik berkesenian. Tari adalah salah satu bentuk budaya Suku Tengger yang terus berdiri tegak sampai kini. Tari bagi Suku Tengger merupakan bagian dari ritual, bukan sekadar pertunjukan.
"Setiap peristiwa dalam kehidupan Suku Tengger tidak lepas dari nilai-nilai luhur yang diturunkan leluhur mereka. Lewat tarian, mereka mewujudkan nilai-nilai berbalut filosofis-religius ini. Kita tentunya akan terus mendukung hal tersebut, " kata Made Arya Wedanthara, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Minggu (04/03).
Misal, dalam tarian Sodoran. Sebuah tarian klasik penuh nilai filosofis religius khas masyarakat Tengger yang tetap lestari dan terjaga sampai saat ini. Tari Sodoran bagi Suku Tengger merupakan tarian sakral. Menyimbolkan asal usul kehidupan manusia atau terjadinya manusia pertama.
Tari Sodoran Suku Tengger (Ist)
Bagi Wong Tengger, manusia itu berasal dari purusa dan pradana. Purusa dan pradana merupakan sebab pertama (cikal bakal) dari alam semesta yang sifatnya kekal abadi. Melalui tari Sodoran yang hanya dimainkan satu tahun sekali, yaitu di hari raya Karo atau disebut juga Pujan Karo.
Wong Tengger mengaplikasikan kepercayaan tentang asal usul manusia ini dengan indah melalui tari Sodoran yang penuh simbol religius. Seperti dalam satu gerak tari ketika para penari mengangkat jari telunjuk. Gerakan ini mengandung simbol terjadinya manusia pertama yang berasal dari purusa dan pradana.
Selain tari Sodoran, Wong Tengger memiliki tari Ujung. Sebuah tarian yang terbilang ekstrim dalam kacamata masyarakat awam. Dimainkan oleh dua orang pria yang bergantian memukul lawan dengan menggunakan rotan.
Tari Ujung Suku Tengger (Ist)
Walau terlihat ekstrem, bagi Wong Tengger, tari Ujung merupakan tari ritual yang tidak bisa begitu saja dimainkan. Tari Ujung dilakukan satu tahun sekali saat ada acara ritual keagamaan umat Hindu.
Selain dua tari tersebut, Wong Tengger juga memiliki tarian sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widi. Tari yang dibalut dengan gerakan riang dan suka cita ini dinamakan tari Probo Mutrim. Tari ini juga yang dipentaskan dalam acara Festival Kesenian Kawasan Selatan (FKKS) 2018 di Kabupaten Lumajang.
"Tari Probo Mutrim menjadi duta dari Kabupaten Malang dalam FKKS 2018. Tari asli Suku Tengger Ngadas ini sebagai bentuk do'a syukur kepada Tuhan atas berbagai kebahagian yang diberikan, " ujar Made yang bersiap untuk melakukan berbagai koordinasi dalam rangka ditunjuknya Kabupaten Malang sebagai tuan rumah FKKS 2019 mendatang.
Tarian Probo Mutrim Suku Tengger Ngadas menceritakan tentang kebahagiaan masyarakat karena bisa mengambil air suci di Sendang Widodaren. Air suci inilah yang dipercaya menjadi medium pembawa berkah dalam bercocok tanam, menjauhkan dari segala macam penyakit, serta untuk kesejahteraan. (*)
