Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Juru Kunci Gunung Kawi Tepis Isu Tempat Cari Pesugihan

Penulis : Nurlayla Ratri - Editor : Lazuardi Firdaus

23 - Sep - 2017, 17:46

Placeholder
Indratno, putra pertama juru kunci padepokan. Dia dan ayahnya, Soekarno, merupakan generasi ketiga pengelola padepokan.( Aditya /MalangTIMES)

Selain kompleks pemakaman Eyang Djoego dan RM Imam Soedjono, sejumlah lokasi menarik untuk dikunjungi saat berada di kawasan wisata religi Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Salah satunya yakni rumah tinggal dan padepokan dua anggota laskar Pangeran Diponegoto itu.
 

Lokasinya mudah dijangkau. Dari alun-alun Gunung Kawi, pengunjung bisa berjalan kaki ke arah selatan. Sekitar 300 meter dari Masjid Agung Imam Sujono, di kiri jalan, terdapat gerbang padepokan. Di waktu-waktu tertentu, tampak janur kuning menjurai menghiasi gerbang. Seperti saat MalangTIMES mengunjungi lokasi tersebut di sela perayaan 1 Suro lalu. 

Padepokan dengan bangunan seluas sekitar 500 meter persegi itu sehari-hari dirawat seorang juru kunci, yakni Soekarno. Dia dibantu anak pertamanya, Indratno. 
 

Soekarno merupakan generasi ketiga juru kunci padepokan. Moyangnya, Nurudin, merupakan salah satu dari 40 murid Raden Mas Imam Soedjono. Mereka juga yang biasa memandu pengunjung, baik yang sekadar melihat-lihat atau yang ingin melakukan ritual di tempat tersebut. "Sejak dahulu di sini padepokannya. Awalnya tidak seluas saat ini. Sqederhana. Tetapi sekitar tahun 1970 ada dermawan dari Jember yang membantu biaya pembangunan," ujar Indratno. 
 

Dia mengungkapkan bahwa selain di makam, tempat tersebut cukup sering digunakan untuk berdoa para pengunjung. Sebab, semasa hidup, baik Eyang Djoego dan RM Imam Soedjono juga memberi pelajaran kepada murid-muridnya di padepokan itu. "Selain itu, di dekat sini ada patirtan suci Sumber Manggis. Biasanya sebelum berdoa, pengunjung membersihkan diri di sana," terangnya. 

Indratno mengungkapkan, tidak ada ritual khusus yang diterapkan di padepokan itu. Pengunjung bebas berdoa sesuai agama, kepercayaan, atau ritual khusus masing-masing. Hanya saja, sebagai tradisi, umumnya pengunjung diminta membawa bunga dan kemenyan untuk dibakar di dalam ruang utama padepokan. "Di dalam dari dulu tidak berubah. Selain ada ranjang, ada pula jajaran pusaka serta semacam ruang pertemuan," tuturnya. 
 

Beragam harapan pengunjung yang datang dan berdoa di padepokan. Mulai dari peruntungan rezeki, hingga jodoh. Indratno mengungkapkan, yang diutamakan di sana adalah keikhlasan, kepasrahan terhadap Sang Pencipta dan kesungguhan dalam berdoa. "Pernah ada yang datang dengan kondisi emosi dan ekonomi terpuruk, lalu selama tujuh hari orang itu bertafakur. Salat, puasa, dzikir. Lalu setelah mendapat ketenangan hati dia pulang. Ternyata tahun berikutnya dia datang lagi menyelenggarakan selamatan karena kondisinya perlahan-lahan membaik," kisahnya. 

Saat ditanya soal mitos pesugihan Gunung Kawi, Indratno mengelak. Menurut dia, selama ini banyak yang salah kaprah mengartikan hal tersebut. Selain itu, jumlah pengunjung juga sempat berkurang akibat stigma negatif bahwa orang yang datang ke sana mencari pesugihan. Dia menjelaskan, bahwa keberadaan makam maupun padepokan bisa diibaratkan seperti ziarah ke makam wali atau tempat ibadah lain. "Intinya mendekat ke orang yang memiliki karamah, yang dekat dengan Tuhan, sehingga diharapkan doa yang disampaikan cepat mendapat jawaban dari Tuhan," pungkasnya. (*) 


Topik

Peristiwa Juru-Kunci Gunung-Kawi Cari-Pesugihan Kabupaten-Malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nurlayla Ratri

Editor

Lazuardi Firdaus