Beberapa bulan terakhir vapor mulai marak di Tulungagung. Tidak hanya anak muda, bahkan golongan tua, terutama golongan menengah ke atas, menggandrungi vapor.
Mia, salah satu penjaga toko penjual vapor di Tulungagung, mengakui pembeli vapor mulai meningkat beberapa bulan terakhir. “Dalam satu hari, bisa menjual sampai 50 botol liquit (isi vapor, red)” ungkapnya.
Vapor sendiri, menurut Hadi, salah satu penjual vapor di Tulungagung asal Surabaya, merupakan teknik merokok model modern dari Jepang dan Korea. Vapor sendiri masuk ke Indonesia kira-kira kurang lebih lima tahun terakhir.
“Segmen pasarnya menengah ke atas dan ada komunitasnya. Kenapa vapor memiliki komunitas, karena itu berurusan dengan life style,” imbuhnya.
Alek, warga Jepun, Tulungagung, selaku pengguna vapor, mengaku semenjak menggunakan vapor, jumlah konsumsi rokok tembakaunya menurun. Sebelum menggunakan vapor, dalam satu hari, Alek biasanya menghabiskan rokok 3-4 bungkus.
“Sebelumnya saya menghabiskan 3 sampai 4 bungkus. Dengan menggunakan vapor, lebih ngirit. Sekarang cuma habis satu bungkus. Kadang habis kadang tidak” kata dia kepada Tulungagung TIMES.
Alek juga mengaku awalnya menggunakan vapor hanya coba-coba. Tapi karena merasa cocok dan enak, akhirnya sampai sekarang dia menggunakan vapor. (*)
