Tingginya permintaan industri terhadap tepung dari bahan baku singkong (ubi kayu), belum berbanding nyata terhadap ketersediaan komoditi singkong di Indonesia.
Ketua Himpunan Petani Singkong Indonesia (Hipsindo) Jawa Timur, Syaiful Bahri mengungkapkan, selama ini kebutuhan industri akan tepung singkong cukup tinggi.
Namun rendahnya produktivitas lahan ditambah minimnya minat masyarakat menanam singkong membuat peluang pasar tersebut tak telihat oleh masyarakat.
"Kalau kita lihat pangsa pasar yang tersedia sangat besar. Pabrik - pabrik butuh tepung dari singkong dalam jumlah besar, potensi itu yang harus kita maksimalkan," kata Syaiful Bahri, Senin (22/2/2016).
Hipsindo sendiri saat ini tengah mulai membuat demplot - demplot atau lahan percontohan di beberapa kabupaten di Jawa Timur. Demplot ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata kepada petani tentang potensi dan pangsa pasar tanaman singkong.
Selain itu, lahan percontohan ini juga diharapkan bisa dimanfaatkan petani untuk mengetahui tata cara menanam singkong yang baik dan memiliki produktivitas tinggi.
Tak hanya itu, Hipsindo juga mengandeng akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan pendampingan kepada petani.
"Selama ini petani menganggap singkong itu tanaman sampingan. Jadi penanamannya juga asal - asalan. Padahal kalau dioptimalkan 1 pohon bisa menghasilkan 15 kg singkong," paparnya.
Di Bondowoso sendiri sudah ada sekitar 70 hektar lahan percontohan tanaman singkong dengan varietas singkong cassesart. Kedepan, lahan percontohan juga akan dibuka di Kabupaten Jember, Situbondo, dan Pulau Madura. (*)
