Kolaborasi Penggiat Budaya Hidupkan Sejarah lewat Batu Walking Tour Selecta Living Museum

Reporter

Prasetyo Lanang

Editor

Yunan Helmy

27 - Jan - 2026, 06:02

Batu Walking Tour Selecta Living Museum sedang mengeksplorasi wisata sejarah pariwisata hingga perlawanan dan ekonomi kerakyatan.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Taman Rekreasi Selecta kini tak lagi sekadar menawarkan kesegaran taman bunga. Melalui kolaborasi kolektif para penggiat budaya, ikon wisata legendaris di Kota Batu ini resmi mengembangkan Selecta Living Museum sebagai bagian dari program Batu Heritage Walking Tour.

Program ini bertujuan mengonversi bangunan-bangunan statis di Selecta menjadi museum hidup untuk mengeksplorasi warisan tiga zaman, mulai dari era Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa Indonesia merdeka. Inisiatif ini digerakkan oleh kolaborasi Mandala Creative House, Dewan Kesenian Kota Batu, Jelajah Kampung, Batu Creative Hub, dan jejaring nasional ICCN.

.

Pemandu Selecta Living Museum, Dino Dirk, menjelaskan bahwa tur ini membawa wisatawan menembus ruang waktu, dimulai dari lobi Hotel Selecta yang menyimpan kisah tragis pendirinya, Fransiscus Reyter De Wildt. Pasca-kemerdekaan, pengelolaan Selecta menjadi simbol kemenangan rakyat kecil setelah dibeli secara patungan oleh 47 warga Desa Tulungrejo pada 1952.

Baca Juga : Kurikulum OBE Jadi Arah Baru Prodi Administrasi Bisnis Unisba Blitar

"Dari situlah muncul sebuah model bisnis kerakyatan yang dikelola gotong royong hingga sekarang," ujar Dino di sela-sela pemanduan di lobi Selecta, Selasa (27/1/2026).

Titik paling emosional dalam perjalanan ini berada di Vila Bima Shakti. Di lokasi ini, pengunjung dapat melihat langsung furnitur asli yang digunakan oleh proklamator Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta, saat menginap pada tahun 1955. Meja dan kursi tersebut menjadi saksi bisu kontemplasi kedua tokoh bangsa dalam melahirkan tulisan-tulisan kebangsaan.

“Di dalam vila, ada berbagai benda bernilai memori yang erat kaitannya dengan Soekarno dan Moh. Hatta. Manuskrip kebangsaan mereka kini menjadi pajangan ikonik di sana,” jelas Dino.

..

Selain situs bangunan, sisi ekologi seperti Taman Lumut dan kolam renang legendaris Zweembad turut dibedah. Kolam yang pernah dibombardir sekutu pada 1949 ini masih mempertahankan papan luncur asli era Belanda.

Baca Juga : Ingin Liburan ke Pantai di Pacitan? Ini 3 Rekomendasi Hotel yang Nyaman Untuk Menginap!

Upaya menghidupkan sejarah ini mendapat supervisi langsung dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPC Kota Batu untuk menjamin akurasi narasi yang disampaikan.

Dengan adanya Living Museum ini, kata Dino, Selecta diharapkan terus menjadi monumen hidup yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar sejarah bangsa.

"Pngembangan paket wisata pusaka ini merupakan bagian dari penguatan DNA kota kreatif berbasis sejarah di Kota Batu," imbuhnya.