Mengurai Asal-usul Bulan Ruwah: Syaban dalam Ingatan Spiritual Orang Jawa
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
21 - Jan - 2026, 11:13
JATIMTIMES - Bagi masyarakat Jawa, bulan Syaban tak sekadar penanda waktu menjelang Ramadan. Ia punya nama lain yang hidup di ingatan kolektif: Ruwah. Sebuah sebutan yang bukan muncul tiba-tiba, melainkan lahir dari pertemuan bahasa, tradisi, dan spiritualitas yang sudah berlapis-lapis sejak lama.
Di berbagai daerah Jawa, bulan ini identik dengan tradisi ruwahan dan nyadran. Orang-orang berbondong menuju makam leluhur, membersihkan pusara, menabur bunga, mengirim doa, lalu berbagi sedekah. Bukan ritual kosong. Ada napas religius yang kuat, berpadu dengan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Baca Juga : BPBD Situbondo: 36 Rumah Warga dan Puluhan Los Pasar Rusak Akibat Puting Beliung di Besuki
Asal-usul istilah Ruwah pernah dijelaskan oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. Ia menyebut, kata Ruwah berakar dari kosakata Arab arwah yang berarti ruh. Dalam perjalanan lidah Jawa, kata itu kemudian mengalami pelafalan ulang hingga akrab disebut Ruwah. Gus Baha mengisahkan penjelasan tersebut pernah ia dengar langsung dari KH Maimoen Zubair saat mengaji.
“Waktu Mbah Moen mengajar, beliau menerangkan kenapa Syaban disebut Ruwah. Itu dari bahasa Arab arwah, lalu dijawakan menjadi Ruwah,” tutur Gus Baha dalam sebuah kajian daring.
Makna Syaban sebagai “bulan arwah” kemudian menemukan bentuk praksisnya dalam budaya Jawa. Masyarakat memanfaatkan momentum ini untuk memperbanyak doa, sedekah, serta ziarah makam. Yang didoakan pun bukan hanya keluarga yang telah wafat, tetapi juga para ulama, wali, dan tokoh-tokoh agama yang dipandang memiliki kedekatan spiritual.
Menurut Gus Baha, tradisi tersebut juga memiliki jejak sejarah yang terhubung dengan dunia Islam di luar Nusantara. Ia menyebut, di Yaman terdapat tradisi tahunan haul Nabi Hud yang dilaksanakan pada bulan Syaban. Pola ini kemudian diadopsi oleh para kiai Jawa, sehingga kebiasaan mengirim doa secara massal dilakukan bertepatan dengan bulan Syaban, yang di Jawa dikenal sebagai bulan Ruwah.
“Di Indonesia banyak tradisi yang mengikuti Yaman. Di sana ada haul Nabiyullah Hud pada bulan Syaban. Maka kiai-kiai Jawa juga mengirim doa di bulan itu, lalu dikenal sebagai Ruwah,” jelasnya.
Jika ditarik ke wilayah pemikiran Islam klasik, konsep ruh sendiri memiliki makna yang jauh lebih dalam. Imam Al-Ghazali, dalam Al-Arba‘in fi Ushul al-Din, memandang ruh sebagai inti kesadaran manusia, unsur batin yang lebih menentukan kualitas hidup dibanding jasad. Pandangan ini sejalan dengan isyarat Al-Qur’an yang menyandarkan urusan ruh langsung kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah Shad ayat 71–72:
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ke dalamnya ruh ciptaan-Ku…”
Sementara dalam Surah Al-Isra ayat 85 ditegaskan, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” Ayat ini menandai bahwa ruh bukan sekadar unsur biologis, melainkan wilayah ilahiah yang tak sepenuhnya terjangkau nalar manusia.
Baca Juga : Malam Nisfu Syaban Baca Doa Nabi Yunus, Aman dari Segala Musibah dan Bencana
Bagi Al-Ghazali, pemahaman tentang ruh tak berhenti pada wacana teologis. Ia menuntut implementasi nyata berupa tazkiyah al-nafs, proses penyucian jiwa. Al-Qur’an memberi tekanan besar pada hal ini, sebagaimana dalam Surah Asy-Syams ayat 7–10:
“Demi jiwa dan penyempurnaannya, Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Al-Ghazali menegaskan, istilah ruh dan nafs dalam ayat-ayat tersebut bersifat sinonim. Keduanya merujuk pada dimensi batin manusia yang harus dirawat. Pembersihan jiwa, menurutnya, tidak bisa dilepaskan dari pembentukan akhlak yang baik dalam keseharian.
Nabi Muhammad SAW menegaskan misi tersebut dalam sabdanya:
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”
Dalam kerangka ini, tazkiyah al-nafs dan husn al-khuluq berjalan beriringan. Yang satu membersihkan hati dari sifat buruk, yang lain menghiasinya dengan kebaikan. Dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, atau dalam istilah tasawuf, takhalliy dan tahalliy.
Maka, ketika masyarakat Jawa menyebut Syaban sebagai bulan Ruwah, sesungguhnya yang dirayakan bukan semata tradisi. Ada kesadaran tentang ruh, ingatan pada kematian, dan dorongan untuk membersihkan diri sebelum memasuki Ramadan. Sunyi, reflektif, tapi penuh makna. Sebuah warisan spiritual yang tetap relevan, bahkan di zaman serba cepat seperti hari ini.
