Jangan Lewatkan Malam 27 Rajab, saat Langit Terbuka dan Doa Diperpanjang
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
15 - Jan - 2026, 12:23
JATIMTIMES - Kamis malam 15 Januari 2026 bertepatan dengan malam 27 Rajab. Bagi umat Islam, malam ini bukan sekadar penanda tanggal, melainkan momentum spiritual yang sarat makna.
Pada malam inilah peristiwa besar Isra Mikraj diyakini terjadi, sebuah perjalanan agung Nabi Muhammad SAW yang menjadi poros lahirnya perintah salat lima waktu.
Baca Juga : Jangan Lupa! 16 Januari 2026 Tanggal Merah dan Disambung Long Weekend
Al-Quran mengabadikan peristiwa ini dalam firman Allah SWT: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.” (QS. Al-Isra: 1).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa Isra Mikraj bukan sekadar kisah, melainkan tanda kebesaran Allah yang mengandung pesan ibadah dan ketundukan. Karena itu, para ulama menganjurkan agar malam 27 Rajab tidak dilewatkan begitu saja. Diisi dengan doa, zikir, dan amal sunah sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Salah satu amalan yang kerap dilakukan adalah salat sunah malam Isra Mikraj. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ada malam-malam tertentu dalam setahun yang memiliki keutamaan khusus untuk dihidupkan, dan malam 27 Rajab termasuk di dalamnya.
Salat ini dikerjakan 12 rakaat, dua rakaat satu salam, dengan bacaan Al-Fatihah dan surat lain dari Al-Qur’an pada setiap rakaat. Setelahnya, dianjurkan memperbanyak tasbih, tahmid, dan tahlil masing-masing 100 kali sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
Selain salat, istighfar juga menjadi amalan utama. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud). Pesan ini sejalan dengan keterangan dalam Risalah ‘Amaliyah yang menyebutkan bahwa istighfar yang dilakukan secara konsisten di bulan Rajab menjadi sebab dihapuskannya catatan dosa.
Doa pun mendapat tempat istimewa pada malam ini. Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa setelah menghidupkan malam dengan ibadah, seorang hamba dianjurkan berdoa sesuai kebutuhan hidupnya, baik urusan dunia maupun akhirat. Hal ini selaras dengan janji Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60). Doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan diyakini akan diijabah, selama tidak mengandung permohonan maksiat.
Baca Juga : Kisah Lengkap Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dan Makna Agung di Balik Perintah Salat
Amalan lain yang sering dikerjakan adalah puasa sunah 27 Rajab. Puasa ini termasuk ibadah yang bernilai tinggi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa Rajab dipahami sebagai latihan menahan diri sekaligus bentuk syukur atas nikmat iman dan salat yang diterima umat Islam melalui peristiwa Isra Mikraj.
Zikir juga menjadi bagian penting dari malam ini. Dalam perjalanan Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW diajarkan zikir oleh Nabi Ibrahim alaihissalam, yakni: Laa haula walaa quwwata illa billah. Zikir ini menegaskan pengakuan total seorang hamba bahwa tidak ada daya menjauhi maksiat dan tidak ada kekuatan menjalankan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT.
Isra Mikraj pada akhirnya bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan ajakan sunyi untuk berhenti sejenak dan menata ulang arah hidup. Tentang salat yang sering terburu-buru, tentang doa yang kerap dilupakan, dan tentang keyakinan bahwa langit selalu terbuka bagi hamba yang mau mengetuknya dengan tulus. Malam ini datang tanpa gegap gempita, tinggal bagaimana kita memaknainya.
