Kisah Lengkap Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dan Makna Agung di Balik Perintah Salat

Reporter

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

15 - Jan - 2026, 10:22

Isra miraj. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling luar biasa dalam sejarah Islam. Peristiwa ini tidak hanya menjadi bukti kekuasaan Allah SWT, tetapi juga menjadi momen yang mengubah arah kehidupan spiritual umat Islam. Dari peristiwa inilah, kewajiban salat lima waktu ditetapkan sebagai ibadah utama yang menjadi tiang agama.

Pada tahun 2026, umat Islam memperingati Isra Mikraj pada Jumat 16 Januari. Peringatan ini menjadi kesempatan bagi kaum Muslimin untuk kembali merenungi makna ibadah, keteguhan iman, serta keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir Allah SWT.

Baca Juga : Persaingan Pemain Asing Ketat, Arema FC Resmi Lepas Yann Motta

Apa Itu Isra dan Mikraj?

Mengutip penjelasan dari Nahdlatul Ulama (NU), Isra Mikraj adalah rangkaian dua perjalanan luar biasa yang dialami Rasulullah SAW dalam satu malam.

Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Al Aqsa di Baitul Maqdis.

Mikraj adalah perjalanan dari Masjid Al Aqsa menuju langit hingga Sidratul Muntaha, tempat tertinggi di atas langit ketujuh. Di situlah Rasulullah SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT.

Peristiwa ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1, yang menyatakan bahwa Allah SWT memperjalankan hamba-Nya untuk diperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya.

Latar Belakang Terjadinya Isra Mikraj

Isra Mikraj terjadi pada 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, sebuah masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Saat itu, beliau baru saja kehilangan dua sosok yang paling beliau cintai, yaitu Khadijah RA dan Abu Thalib. Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Aamul Huzn atau tahun kesedihan.

Di tengah tekanan dakwah, penolakan kaum Quraisy, dan kesedihan mendalam, Allah SWT memberikan penghiburan dan penguatan kepada Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra Mikraj.

Perjalanan Dimulai dari Masjidil Haram

Pada suatu malam, Malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil mendatangi Rasulullah SAW. Beliau dibawa ke Sumur Zamzam, lalu dada beliau dibelah dan disucikan dengan air Zamzam sebagai persiapan untuk menerima pengalaman agung.

Setelah itu, Rasulullah SAW menaiki Buraq, makhluk putih bersayap yang dapat bergerak sangat cepat. Dengan kendaraan istimewa itu, beliau melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa dalam waktu yang sangat singkat.

Setibanya di Masjid Al Aqsa, Nabi Muhammad SAW menunaikan salat dua rakaat dan menjadi imam bagi para nabi dan malaikat, sebuah simbol bahwa beliau adalah pemimpin para rasul.

Menembus Tujuh Lapis Langit

Dari Masjid Al Aqsa, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan Mikraj ke langit. Di setiap lapisan langit, beliau bertemu para nabi sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas kenabiannya.

• Langit pertama: bertemu Nabi Adam AS

• Langit kedua: bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS

• Langit ketiga: bertemu Nabi Yusuf AS

• Langit keempat: bertemu Nabi Idris AS

• Langit kelima: bertemu Nabi Harun AS

• Langit keenam: bertemu Nabi Musa AS

• Langit ketujuh: bertemu Nabi Ibrahim AS di dekat Baitul Makmur, tempat ibadah para malaikat

Sidratul Muntaha dan Dialog Langsung dengan Allah

Setelah sampai di langit ketujuh, malaikat Jibril tidak bisa melanjutkan perjalanan. Rasulullah SAW kemudian naik sendiri menuju Sidratul Muntaha, tempat yang berada di dekat surga dan tidak dapat dijangkau oleh makhluk mana pun selain beliau.

Baca Juga : Guncangan Nasib di 15 Januari 2026: Ramalan Zodiak Ungkap Cinta Rahasia, Rezeki Mendadak, dan Kejutan Keluarga

Di sanalah Allah SWT berbicara langsung kepada Nabi Muhammad SAW dan memberikan perintah salat. Awalnya, Allah SWT mewajibkan 50 kali salat dalam sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu, dengan pahala tetap setara lima puluh.

Salah satu bagian paling menyentuh dalam kisah Isra Mikraj adalah dialog antara Rasulullah SAW dan Nabi Musa AS. Atas saran Nabi Musa, Rasulullah SAW berkali-kali kembali menghadap Allah SWT untuk meminta keringanan bagi umatnya.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang para nabi kepada umat manusia, serta betapa Allah SWT Maha Pengasih kepada hamba-Nya.

Mengapa Salat Lima Waktu Begitu Istimewa?

Tidak seperti ibadah lain yang disyariatkan di bumi melalui wahyu, salat diperintahkan langsung di langit. Inilah yang menjadikan salat sebagai ibadah paling utama dan simbol hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya.

Salat juga menjadi pembeda antara keimanan dan kekufuran, serta menjadi amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat.

Ketika Rasulullah SAW menceritakan peristiwa ini kepada kaum Quraisy, banyak yang menertawakan dan meragukan. Mereka menganggap perjalanan dari Makkah ke Yerusalem dan ke langit dalam satu malam sebagai hal yang mustahil.

Namun, orang-orang beriman, termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq, menerima kisah ini tanpa ragu. Dari sinilah muncul pelajaran bahwa iman sejati tidak bergantung pada logika semata, tetapi pada keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Isra Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan, tetapi merupakan pengingat akan pentingnya salat sebagai hubungan langsung antara manusia dan Allah SWT. Salat adalah hadiah terbesar dari Isra Mikraj dan menjadi pilar utama dalam kehidupan seorang Muslim.

Melalui peringatan Isra Mi’lkraj, umat Islam diajak untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat keimanan, dan meneladani keteguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi ujian hidup.