Tradisi Penghancuran Cincin Kepausan Usai Paus Fransiskus Berpulang, Ini Sejarahnya

Reporter

Binti Nikmatur

22 - Apr - 2025, 03:58

Potret cincin Paus Fransiskus yang akan dihancurkan usai meninggal dunia. (Foto: Mario Tama/Getty Images)

JATIMTIMES – Kabar duka menyelimuti umat Katolik dunia. Paus Fransiskus tutup usia dalam usia 88 tahun di Vatikan, Senin (21/4/2025). Tak lama setelah wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut, tradisi turun-temurun gereja akan kembali dilakukan, dimana cincin kepausan milik Paus Fransiskus akan dihancurkan. 

Langkah ini bukan tanpa alasan. Tradisi penghancuran cincin Paus, yang disebut The Fisherman’s Ring, sudah berlangsung selama berabad-abad di lingkungan Vatikan. 

Dikutip dari Britannica, Selasa (22/4/2025) cincin tersebut menjadi lambang resmi kekuasaan dan otoritas seorang Paus selama ia menjabat. Penghancuran cincin dilakukan sebagai simbol berakhirnya masa kepemimpinan sang Paus dan agar cincin tersebut tidak disalahgunakan setelah kematiannya. 

Cincin yang disebut The Fisherman’s Ring atau Cincin Sang Nelayan ini memiliki makna mendalam. Nama itu merujuk pada Santo Petrus, murid Yesus yang menurut kepercayaan Katolik dianggap sebagai Paus pertama. 

Santo Petrus dikenal sebagai nelayan sebelum menjadi pengikut setia Yesus Kristus. Ia kemudian dikenang sebagai fondasi pertama Gereja Katolik. Sejak saat itu, setiap Paus yang menjabat akan mengenakan cincin khusus ini sebagai simbol kelanjutan dari warisan kerasulan Santo Petrus. 

Dalam tradisi gereja Katolik, penghancuran cincin dilakukan oleh Kardinal Carmelengo, sosok yang dipercaya menjadi pemimpin sementara Vatikan setelah Paus wafat. 

Dengan menggunakan palu khusus, Carmelengo akan menghancurkan cincin tersebut. Tak hanya cincin, segel resmi kepausan yang biasa digunakan untuk mengesahkan dokumen penting juga akan dihancurkan dalam prosesi yang sama. 

Tindakan ini bukan hanya seremonial. Namun fungsi praktisnya adalah untuk mencegah pemalsuan dokumen dengan menggunakan simbol-simbol resmi Paus yang telah meninggal. 

Adapun upacara penghancuran cincin dilakukan setelah Vatikan secara resmi mengumumkan wafatnya Paus. Prosesi ini digelar secara formal di hadapan para Kardinal senior Vatikan. 

Penghancuran ini juga menjadi penanda bahwa tahap selanjutnya dalam Gereja Katolik akan segera dimulai, yakni konklaf atau pemilihan Paus baru. 

Untuk diketahui, tradisi menghancurkan cincin sempat tak dilakukan pada Paus Benediktus XVI karena mengundurkan diri pada tahun 2013. Sehingga Paus Benediktus tidak wafat dalam jabatan. 

Sebagai gantinya, Carmelengo hanya menggoreskan tanda salib di atas cincin menggunakan kikir baja, sebagai bentuk simbolis bahwa masa jabatan Paus Benediktus XVI telah selesai.