Mengenal Mindfulness dalam Islam, dari Kesadaran Diri hingga Muraqabah
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
A Yahya
16 - Sep - 2026, 01:28
JATIMTIMES - Istilah mindfulness belakangan ramai diperbincangkan setelah aktris sekaligus selebritas Indonesia, Maudy Ayunda, menyinggung konsep tersebut. Di tengah kehidupan yang serba cepat, istilah ini muncul sebagai salah satu pendekatan untuk membantu seseorang menghadapi pikiran, emosi, dan tekanan yang terus datang silih berganti.
Apa sebenarnya mindfulness dan bagaimana konsep tersebut jika dilihat dari perspektif Islam?
Baca Juga : PALESKA Jadi Upaya Hidupkan Sisi Utara Kayutangan, Pemkot Malang Dorong Stadsklok Jadi Magnet Wisata Baru
Mindfulness atau kesadaran penuh secara sederhana merupakan kemampuan untuk hadir secara utuh pada momen yang sedang dijalani. Seseorang berusaha menyadari apa yang sedang terjadi tanpa terus terseret oleh pengalaman masa lalu ataupun kekhawatiran mengenai masa depan.
Konsep tersebut menjadi relevan ketika kehidupan masyarakat modern semakin dipenuhi berbagai tekanan. Rutinitas pekerjaan, persoalan ekonomi, tuntutan sosial hingga dorongan untuk memenuhi standar kehidupan tertentu dapat membuat seseorang mengalami kelelahan yang tidak hanya bersifat fisik.
Pikiran tentang pekerjaan yang belum selesai, kegagalan, masa depan atau kehidupan orang lain dapat terus berputar meski tubuh sudah mendapatkan waktu untuk beristirahat. Tidak jarang seseorang telah membaca buku pengembangan diri atau memperoleh berbagai nasihat keagamaan, tetapi rasa gelisah tetap muncul.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan untuk berhenti sejenak dan menyadari apa yang sedang berlangsung menjadi penting.
Dalam khazanah Islam, gagasan tentang kesadaran penuh memiliki sejumlah titik temu dengan konsep seperti khusyuk dan muraqabah. Meski demikian, keduanya tidak bisa begitu saja disamakan dengan mindfulness yang berkembang dalam psikologi modern.
Salah satu konsep yang memiliki kedekatan adalah khusyuk. Istilah ini memang sering dikaitkan dengan salat, tetapi pembahasannya dalam tradisi keilmuan Islam juga menyentuh keadaan batin seorang hamba ketika berhadapan dengan Allah.
Imam al-Qusyairi dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah menukilkan penjelasan mengenai makna khusyuk: "Khusyuk adalah hadirnya hati di hadapan Allah Yang Maha Benar, dengan perhatian yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya."
Dalam penjelasan yang sama disebutkan bahwa salah satu tanda kekhusyukan adalah kemampuan seseorang menerima keadaan ketika menghadapi kemarahan, perselisihan ataupun bantahan. Ada pula ungkapan ulama bahwa "khusyuknya hati adalah kendali bagi mata agar tidak memandang sembarangan."
Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa khusyuk tidak berhenti pada ketenangan gerakan tubuh ketika menjalankan ibadah. Ada perhatian hati, kesadaran, ketundukan dan kemampuan mengendalikan diri.
Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas PTIQ Jakarta, Amien Nurhakim, menjelaskan bahwa ungkapan mengenai hati yang khusyuk sebagai pengendali pandangan dapat dimaknai secara literal maupun lebih luas.
Secara literal, seorang Muslim memang diperintahkan menjaga pandangan dari sesuatu yang tidak semestinya dilihat. Namun, dalam pengertian yang lebih luas, menjaga pandangan juga dapat dipahami sebagai kemampuan mengendalikan cara seseorang melihat kehidupan.
Kesadaran spiritual membuat seseorang tidak mudah memberikan penilaian hanya berdasarkan sesuatu yang terlihat di permukaan. Seseorang tidak serta-merta merendahkan, mencela atau membuat kesimpulan buruk mengenai orang lain hanya karena melihat satu sisi dari kehidupannya.
Pada titik ini, terdapat kemiripan dengan prinsip kesadaran penuh. Perhatian tidak hanya diarahkan kepada apa yang sedang terjadi, tetapi juga terhadap bagaimana seseorang merespons keadaan tersebut.
Seseorang yang menyadari kemunculan emosinya, misalnya, memiliki ruang untuk tidak langsung bertindak berdasarkan kemarahan. Ia dapat mengenali perasaan tersebut sebelum menentukan respons.
Selain khusyuk, Islam mengenal konsep muraqabah. Menurut Amien Nurhakim, konsep ini juga memiliki titik temu dengan mindfulness, tetapi mempunyai landasan spiritual yang lebih spesifik.
Baca Juga : Kisah Bani Nadhir, Kaum Yahudi yang Diusir dari Madinah dan Diabadikan dalam Al-Hasyr
Muraqabah merupakan kesadaran seorang hamba bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah. Konsep tersebut berkaitan dengan hadis Jibril mengenai ihsan: "Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Kesadaran semacam ini membawa konsekuensi pada perilaku. Seorang Muslim menyadari bahwa ucapan, perbuatan, gerak-gerik hingga isi hati diketahui oleh Allah.
Dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah halaman 225, muraqabah digambarkan sebagai salah satu fondasi kebaikan. Seorang hamba dituntut untuk peka terhadap hal-hal yang diridai maupun tidak diridai Allah.
Gambaran tersebut menunjukkan adanya perhatian yang terus menerus terhadap apa yang sedang dilakukan. Bedanya, perhatian dalam muraqabah tidak sekadar diarahkan kepada kondisi diri atau situasi yang sedang berlangsung, melainkan berakar pada kesadaran mengenai hubungan manusia dengan Allah.
Titik temu antara mindfulness, khusyuk dan muraqabah terletak pada perhatian terhadap apa yang sedang dilakukan. Ketiganya sama-sama berbicara mengenai kesadaran, tetapi memiliki landasan dan orientasi yang berbeda.
Dalam psikologi modern, mindfulness pada umumnya digunakan sebagai konsep yang bersifat netral secara spiritual. Fokusnya adalah membantu seseorang memberikan perhatian pada saat ini serta menyadari pikiran, emosi dan sensasi yang muncul.
Sementara itu, khusyuk dan muraqabah memiliki dimensi ketuhanan yang kuat. Kesadaran seorang Muslim diarahkan kepada hubungan dirinya dengan Allah. Orientasinya bukan hanya ketenangan psikologis, tetapi juga ketundukan, kedekatan spiritual dan kesadaran bahwa setiap tindakan berada dalam pengetahuan Allah.
Karena itu, istilah mindfulness dapat memiliki kemiripan tertentu dengan konsep dalam tradisi Islam, tetapi tidak berarti kedua konsep tersebut identik.
Amien Nurhakim menjelaskan bahwa kesadaran penuh membutuhkan latihan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperlambat aktivitas dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak.
Ketika rasa takut, marah atau cemas muncul, seseorang tidak harus langsung menolaknya. Perasaan itu dapat dikenali terlebih dahulu. Dengan demikian, seseorang belajar membedakan antara apa yang sedang dirasakan, apa yang sedang dipikirkan dan apa yang benar-benar terjadi.
Latihan tersebut dapat dilakukan melalui aktivitas sehari-hari. Ketika berbicara dengan orang lain, misalnya, seseorang dapat berusaha benar-benar mendengarkan tanpa sibuk mempersiapkan jawaban. Ketika makan, perhatian dapat diarahkan pada makanan yang sedang dinikmati tanpa terus-menerus terdistraksi oleh gawai.
Hal yang sama dapat diterapkan dalam ibadah. Salat tidak hanya dijalankan dengan memperhatikan gerakan lahiriah, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan hati serta memahami makna doa dan bacaan yang dilafalkan.
