PALESKA Jadi Upaya Hidupkan Sisi Utara Kayutangan, Pemkot Malang Dorong Stadsklok Jadi Magnet Wisata Baru
Reporter
Irsya Richa
Editor
Yunan Helmy
15 - Sep - 2026, 07:09
JATIMTIMES - Kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, tak hanya ingin dikenal melalui koridor utamanya. Pemkot Malang mulai mendorong kawasan di sisi utara Kayutangan agar menjadi titik kunjungan wisatawan. Salah satu upayanya dilakukan melalui gelaran Pasar Legenda Stadsklok Kajoetangan (PALESKA) #2 2026.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat datang langsung membuka gelaran (PALESKA) #2 2026 dan berkeliling yang berlansung di kawasan pelataran Hotel Trio Indah 2, Senin (14/9/2026) malam. PALESKA #2 sendiri berlangsung selama sepekan, 14-20 September 2026.
Baca Juga : Tragedi KM Virgo Transport 8, Komisi D DPRD Jatim Desak Investigasi Kelaikan dan Sanksi Operator
Lokasi tersebut berada tidak jauh tepat di depan Stadsklok Kajoetangan, bangunan yang tahun ini memasuki momentum satu abad sejak berdiri pada 1926.

Wahyu menilai keberadaan PALESKA memiliki keterkaitan erat dengan arah pembangunan daerah, khususnyamelalui program Dasa Bakti Unggulan NgalamLaris, Ngalam Asik, dan program Seribu Event.
Menurut Wahyu, sebuah event tidak semestinya hanya berhenti sebagai agenda hiburan. Kegiatan yang mampu mendatangkanmasyarakat dan wisatawan dinilai dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang, mulai dari pelaku UMKM, sektor kuliner, perhotelan, transportasi hingga jasa lainnya.
“Event seperti PALESKA ini memiliki efek yamg luas. Bukan hanya UMKM yangmendapatkan ruang untuk berjualan, tetapi wisatawan juga punya alasan untuk datang, menikmati suasana, kuliner, kemudian membeli produk khas Malang,” kata Wahyu.
Wahyu melihat momentum tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan Stadsklok secara lebih luas. Selama ini, arus kunjungan wisatawan di Kayutangan Heritage dinilai masih lebih terkonsentrasi pada koridor utama. Karena itu, Pemkot Malang ingin membuat pergerakan wisatawanturut mengarah ke sisi utara.
“Jangan sampai wisatawan hanya berhenti di koridor Kayutangan Heritage. Kita ingin mereka bergerak ke utara, melihat Stadsklok, mengenal sejarahnya, kemudianmenikmati aktivitas ekonomi dan kreatif yang ada di kawasan ini,” imbuhnya.
Menurut Wahyu, Stadsklok memiliki modal sejarah yang kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata baru. Namun, keberadaan bangunan bersejarah tersebut perlu disertai cerita yang mampu membuat masyarakat memahami nilai di baliknya.
Karena itu, ia meminta Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang untukmenyusun storytelling mengenai Stadsklok.
“Kalau sejarahnya dikemas dengan cerita yang menarik, masyarakat tidak hanya melihat Stadsklok sebagai jam tua. Mereka akan memahami mengapa bangunan ini penting bagi perjalanan Kota Malang,” jelas Wahyu.
Ia bahkan membayangkan Stadsklok dapat memiliki daya tarik serupa ikon-ikon sejarah kota lainnya apabila narasi, aktivitas, dan kemasan wisatanya dibangunsecara konsisten.
Wahyu pun mendorong agar kreativitas berbasis ikon lokal terus dikembangkan. Salah satunya dengan menghadirkan suvenir yang mengangkat bentuk Stadsklok. Inovasi semacam itu sebelumnya juga telah dilakukan komunitas kreatif Malang melalui pembuatan replika Stadsklok dari bahan daur ulang sampah plastik.
Bagi Wahyu, produk kreatif tersebut menunjukkan bahwa bangunan bersejarah tidak hanya dapat dijadikan objek untuk dilihat, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ekonomi kreatif.
“Stadsklok ini bisa menjadi identitas baru. Bukan hanya tempat yang kita ceritakan sejarahnya, tetapi juga bisa menginspirasi produk kreatif, suvenir dan aktivitas ekonomi masyarakat,” terangnya.
Baca Juga : Tiga Bulan Tersisa, DPRD Kota Malang Desak APBD Perubahan Tak Berujung SiLPA
Sementara itu, Koordinator PALESKA #2 2026 Bangkit Sanjaya menambahkan, momentum 100 tahun Stadsklok menjadi kesempatan untuk mengembalikan ingatan masyarakat terhadap keberadaanbangunan bersejarah tersebut.
“Seratus tahun Stadsklok bukan sekadar angka. Ini adalah perjalanan waktu yang merekam perubahan Kota Malang. Kamiingin masyarakat kembali mengenal Stadsklok sebagai bagian dari sejarah kota, bukan hanya sebagai sebuah titik yang dilewati setiap hari,” ucap Bangkit.
PALESKA sengaja dirancang dengan mempertemukan sejarah, seni, komunitas dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, pengenalan Stadsklok tidak dilakukan melalui narasi sejarah semata, tetapi melalui aktivitasmasyarakat yang berlangsung di sekitarnya.
“Kami ingin sejarah ini tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah harus terus hidup dan diwariskan melalui aktivitas masyarakat hari ini. Karena itu, kami mempertemukan sejarah dengan seni, komunitas dan UMKM,” imbuhnya.
Dari sisi ekonomi, PALESKA #2 juga membawa skala yang lebih luas dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Sekitar 30 hingga 50 UMKM Malang Raya terlibat dalam kegiatan tersebut.
Tidak hanya kuliner, penyelenggara memperluas ruang bagi pelaku usaha fesyen, aksesori dan berbagai produk kreatif lainnya. Perubahan ini dilakukan agar PALESKA tidak identik sebagai pasar makanan semata, tetapi menjadi ruang bertemunya berbagai subsektor ekonomi kreatif.
“Kalau sebelumnya mayoritas kuliner, sekarang kami mencoba membuatnya lebih beragam. Ada UMKM kuliner, fashion, aksesori dan lainnya. Harapannya semakin banyak pelaku usaha yang mendapatkanruang untuk memperkenalkan produknya,” ujar Bangkit.
Tak hanya transaksi ekonomi, panggung PALESKA juga diisi beragam pertunjukan. Mulai barongsai, bantengan, harpa mulut, musik pop dan akustik, tari, karaoke tembang kenangan, karaoke anak, lomba melukis dan mewarnai, senam sehat hingga talk show.
Bagi Bangkit, rangkaian tersebut sengaja dibuat untuk membangun aktivitas yangberkelanjutan di kawasan utara Kayutangan. “Kami ingin event ini bukan sekadar membuat event lalu selesai, tapi ada pergerakan di kawasan ini. Selama ini aktivitas ekonomi Kayutangan lebih terasa di sisi selatan, sehingga kami mencoba menjadi salah satu yang mengawali pergerakan di sisiutara,” jelasnya.
Bangkit berharap PALESKA pada akhirnya meninggalkan kesan yang lebih panjang bagi pengunjung. Masyarakat yang datang diharapkan pulang dengan pengetahuan baru mengenai sejarah kawasan tersebut.
“Kami ingin ada ingatan yang tertinggal. Setelah orang datang, mereka tahu bahwa di sini ada Stadsklok, ada sejarah, ada cerita tentang Kota Malang. Dari sana mudah-mudahan muncul keinginan untuk terus menjaga dan menghidupkan kawasan ini,” tutup Bangkit.
