Maudy Ayunda Klarifikasi soal Bad News Indonesia, Akui Ada Hal yang Luput dari Videonya

Reporter

Mutmainah J

Editor

Dede Nana

14 - Sep - 2026, 02:38

Maudy Ayunda. (Foto @maudyayunda)

JATIMTIMES - Maudy Ayunda mendadak memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf setelah pernyataannya dalam sebuah video menuai kritik dari netizen. Video tersebut sebelumnya membahas cara Maudy menjaga mindfulness di tengah derasnya berbagai berita buruk yang terjadi di Indonesia.

Melalui komentar yang disematkan pada video bertajuk “Mindfulness in the Age of Bad News” pada Minggu (13/9/2026), Maudy mengakui ada bagian penting yang belum cukup ia refleksikan ketika membuat video tersebut. Ia menyadari bahwa kemampuan untuk menjauh sejenak dari berita buruk merupakan sebuah privilese yang tidak dimiliki semua orang.

Baca Juga : Atlet dan Pelatih asal Kota Malang Berlaga di Asian Games Nagoya, KONI Berharap Bawa Pulang Medali

“Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” kata Maudy, dikutip Senin (14/9/2026).

Maudy kemudian menjelaskan bahwa video yang diunggah pada 21 Agustus 2026 itu sebenarnya dibuat untuk membagikan pengalaman reflektif yang ia alami sendiri.

Ia mengaku sedang berusaha menemukan cara agar tetap peduli terhadap berbagai persoalan yang terjadi, tetapi di sisi lain tidak sampai kehilangan kemampuan untuk menjaga kondisi mentalnya.

Maudy menyadari berbagai kabar yang muncul mengenai Indonesia dalam beberapa waktu terakhir memang dapat membuat banyak orang merasa sedih dan kewalahan.

Ia menyinggung sejumlah persoalan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, gempa bumi, hingga berbagai kebijakan dan program yang dinilainya tidak tepat sasaran serta berdampak langsung kepada masyarakat.

Namun, Maudy menegaskan bahwa mindfulness yang dimaksudnya bukanlah ajakan untuk menutup mata terhadap berbagai persoalan tersebut.

“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja,” ujarnya.

Menurut Maudy, mindfulness justru dapat membantu seseorang melihat sebuah persoalan dengan lebih jernih.

“Mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak,” lanjutnya.

Dalam video yang diunggah pada 21 Agustus tersebut, Maudy juga bercerita mengenai pengaruh banyaknya berita buruk terhadap dirinya.

Ia mengaku merasa kewalahan karena terus menerima begitu banyak informasi. Kondisi itu kemudian membuatnya menyadari bahwa ia perlu mengatur kembali asupan informasi yang dikonsumsi demi menjaga kesehatan mental. Maudy menyebut langkah tersebut sebagai semacam “diet” informasi.

Ia mulai membatasi sumber berita yang dikonsumsi dengan memilih situs atau sumber yang dipercaya. Ia juga lebih memilih membaca tulisan yang membahas suatu persoalan secara komprehensif dibandingkan hanya membaca potongan informasi.

Selain itu, Maudy mengaku memilih bertanya kepada orang-orang yang dianggapnya lebih memahami persoalan yang sedang terjadi.

“Jadi aku enggak seharian mengekspos diri aku terhadap bad news ini karena ya sekali lagi, itu bisa bikin patah semangat, itu bisa bener-bener bikin disfungsional,” kata Maudy.

Ia juga mengakui bahwa dirinya termasuk orang yang cukup emosional dan mudah memikirkan sesuatu secara berlebihan.

“Apalagi kayak aku sebenarnya lumayan orang yang emosional dan aku kepikiran dan aku overthinker, jadi oke kalau kayak gitu mendingan kita split aja,” ujarnya.

Maudy mengatakan pengalaman tersebut membuatnya mulai memahami alasan dirinya merasa begitu kewalahan ketika menghadapi banyaknya kabar buruk.

Baca Juga : Jangan Cuma Bersihkan Toilet, 7 Benda di Kamar Mandi Ini Juga Wajib Rutin Dicuci

Alih-alih mendapat respons positif, pandangan Maudy mengenai pembatasan konsumsi berita tersebut justru menuai kritik dari sejumlah netizen.

Sebagian pengguna media sosial menilai upaya “diet” berita yang dilakukan Maudy berpotensi dianggap sebagai bentuk menjauh dari realitas yang sedang dihadapi masyarakat.

Terlebih, bagi sebagian orang, berbagai persoalan yang disebut sebagai “bad news” bukan sekadar pemberitaan yang bisa dihindari. Mereka mengalaminya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dampak karhutla dan persoalan lainnya.

“For many of us, it's not just a news. It's our REALITY... can't ignore it....” tulis salah satu netizen.

Komentar lainnya berbunyi, “bad news kamu adalah bad reality dari orang-orang tau, info aja.”

Ada pula netizen yang menilai pernyataan tersebut kurang peka terhadap kondisi masyarakat.

“Tone deaf final boss,” tulis pengguna lainnya.

Sementara itu, komentar lain menyebut, “Ini kayak nasehat untuk sesama orang kaya.”

Kritik lebih keras juga datang dari pengguna media sosial yang mempertanyakan ketika penderitaan orang lain dianggap sebagai sesuatu yang dapat dengan mudah dijauhkan dari kehidupan pribadi.

Ada pula yang mengkhawatirkan jika pola tersebut diterapkan secara luas, terutama oleh masyarakat yang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk ikut membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

Menanggapi berbagai kritik tersebut, Maudy mengaku menerima perspektif yang disampaikan netizen.

Ia berterima kasih kepada mereka yang telah mengingatkan dan memberikan sudut pandang lain sehingga pemikirannya mengenai persoalan tersebut menjadi lebih luas.

“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. I'm listening and learning,” kata Maudy.

Melalui klarifikasi tersebut, Maudy menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental dengan mindfulness bukan berarti seseorang harus mengabaikan persoalan yang sedang terjadi.

Ia justru ingin menunjukkan bahwa menjaga kondisi diri dapat berjalan bersamaan dengan tetap peduli, hadir, dan peka terhadap masyarakat yang terdampak berbagai persoalan.