Gempa M 5,9 Kepulauan Seribu Terasa hingga Malang, Pakar Ungkap Penyebabnya

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

12 - Sep - 2026, 08:49

Gambaran gempa hiposenter dalam. (Foto: Instagram Daryono)

JATIMTIMES - Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,9 mengguncang wilayah Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (12/9/2026) pagi. Gempa tersebut ramai diperbincangkan lantaran guncangannya dirasakan di sejumlah wilayah yang cukup jauh dari pusat gempa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 04.23.56 WIB. Pusat gempa berada di laut, sekitar 6 kilometer tenggara Kepulauan Seribu, pada koordinat 5,81 derajat Lintang Selatan (LS) dan 106,56 derajat Bujur Timur (BT).

Baca Juga : Teras Rumah Terlihat Lebih Asri dengan 5 Tanaman Ini, Ada yang Bisa Langsung Dipakai untuk Masak

Yang menarik, gempa tersebut memiliki kedalaman mencapai 376 kilometer. BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami. 

Melalui akun X resminya, BMKG menyampaikan informasi awal gempa tersebut. "Gempa Mag:5.9, 12-Sep-26 04:23:56 WIB, Lok:5.81 LS,106.56 BT (6 km Tenggara KEPSERIBU-DKI), Kedlmn:376 Km, tdk berpotensi tsunami," tulis BMKG.

Berdasarkan data BMKG, getaran gempa dirasakan di sejumlah daerah. Intensitas III MMI tercatat di Cilacap, Nagrak dan Kalapanunggal. Sementara guncangan II-III MMI dirasakan di Rancaekek, Lembang, Garut, Bandung, Sukabumi, Cianjur, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo hingga Malang.

Guncangan juga tercatat dirasakan dengan intensitas II-III MMI di Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman dan Solok Selatan. Getaran II MMI dilaporkan terasa hingga Lemong, Semaka, Bengkunat dan Nias Tengah.

Pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan gempa yang terjadi di utara Jakarta tersebut termasuk fenomena deep focus earthquake atau gempa dengan hiposenter dalam.

Dalam penjelasannya melalui akun Instagram pribadinya, Daryono menyebut gempa Sabtu pagi itu merupakan contoh klasik gempa hiposenter dalam.

"Peristiwa gempa bumi yang terjadi pada Sabtu pagi, 12 September 2026, pukul 04.23 WIB merupakan contoh klasik dari fenomena gempa bumi hiposenter dalam (deep focus earthquake)," tulis Daryono.

Menurut Daryono, gempa tersebut bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dekat permukaan. Gempa terjadi akibat patahnya batuan pada slab lempeng samudra yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.

Peristiwa tersebut, kata dia, termasuk intra-slab event, yakni gempa yang terjadi di dalam lempeng yang tersubduksi.

"Gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa (Zona Benioff) hingga kedalaman 358 km. Proses deformasi batuan di dalam lempeng yang tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab," jelasnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dari gempa ini adalah pola guncangannya. Meski pusat gempa berada di Laut Jawa di sebelah utara Jakarta, getarannya justru dirasakan di sejumlah wilayah Jawa bagian selatan, termasuk Sukabumi.

Daryono menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan jalur rambatan gelombang seismik.
Menurut dia, gelombang gempa dapat merambat secara efisien melalui slab lempeng yang padat dan relatif homogen. Gelombang kemudian menyebar hingga mencapai permukaan di wilayah yang cukup jauh dari episenter.

"Meskipun episenter (pusat gempa di permukaan) berada di wilayah Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran gempa justru dirasakan lebih awal dan lebih kuat di Jawa bagian selatan, seperti Sukabumi. Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan," kata Daryono.

Baca Juga : Polemik Bendungan Lahor Berujung Kekerasan, Anggota Dewan Zulham Alami Luka-Luka

Fenomena tersebut membuat lokasi yang merasakan gempa tidak selalu berada tepat di sekitar titik episenter. Dalam kasus gempa berkedalaman sangat dalam, gelombang dapat menjangkau wilayah geografis yang luas.

Daryono menjelaskan kedalaman hiposenter lebih dari 300 kilometer juga memengaruhi karakter guncangan di permukaan.

Gempa dengan sumber sangat dalam dapat memiliki jangkauan getaran luas. Dalam kasus ini, getaran disebut dapat dirasakan dari wilayah Sumatra hingga Jawa bagian timur dan Kalimantan.

Namun, energi gelombang yang mencapai permukaan telah mengalami pelemahan secara bertahap.

"Kedalaman hiposenter yang melebihi 300 km (deep focus) menyebabkan spektrum attenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas (dari Sumatra hingga Jawa Bagian Timur dan Kalimantan)," ujar Daryono.

"Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural," lanjutnya.

Selain menjelaskan pola guncangan, Daryono turut membahas kemungkinan gempa susulan.
Menurut dia, gempa deep focus yang terjadi di dalam litosfer samudra memiliki karakter berbeda dengan gempa dangkal. Pelepasan tegangan pada batuan di kedalaman tersebut cenderung terjadi dalam satu peristiwa utama.

"Karena gempa terjadi pada batuan litosfer samudra yang sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan (stress release) cenderung terjadi secara total dalam satu peristiwa utama," jelasnya.

Karena karakter tersebut, Daryono menyebut gempa deep focus seperti yang terjadi di Kepulauan Seribu sangat jarang memicu gempa susulan. "Oleh karena itu, gempa deep focus jenis ini sangat jarang memicu gempa susulan (aftershocks)," sambungnya.

Sementara itu, BMKG tetap mengimbau masyarakat berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Sampai berita ini dibuat, belum ada laporan dampak kerusakan akibat gempa tersebut.