Polemik Bendungan Lahor Berujung Kekerasan, Anggota Dewan Zulham Alami Luka-Luka
Reporter
Ashaq Lupito
Editor
A Yahya
11 - Sep - 2026, 10:53
JATIMTIMES - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang Zulham Akhmad Mubarrok diduga mengalami kekerasan pada Jumat, 11 September 2026. Kekerasan fisik yang menimpa wakil rakyat yang akrab disapa Zulham tersebut diduga dilakukan oleh Hadi Wiyono alias Dur.
Sebagaimana diketahui, Dur merupakan sosok sentral yang memprotes pemberlakuan portal Bendungan Lahor di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebelum diduga melakukan kekerasan fisik terhadap anggota dewan, Dur juga pernah melakukan beragam aksi terkait tuntutan polemik Bendungan Lahor tersebut ke sejumlah pihak. Tanpa terkecuali dengan melayangkan tuntutan kepada DPRD Kabupaten Malang.
Baca Juga : Anggota DPRD Kabupaten Malang Zulham Mubarrok Alami Kekerasan Fisik Buntut Polemik Bendungan Lahor
Di sisi lain, peristiwa dugaan kekerasan fisik tersebut kini telah dilaporkan oleh Zulham ke Polres Malang. Namun demikian, Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan tersebut hingga kini masih menjalani rawat inap di rumah sakit lantaran kondisi kesehatannya usai diduga mengalami kekerasan fisik.
Belakangan diketahui, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang tersebut menjalani rawat inap usai melakukan visum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Upaya visum tersebut dijalani Zulham untuk melengkapi berkas laporan ke polisi.
"Saat ini saya masih diobservasi, setelah diobservasi, dirawat, diinfus, dan ini masih di ruang tunggu. Tadi juga sudah di-CT Scan dan seterusnya, saat ini masih menunggu hasil CT Scan-nya," ujar Zulham kepada JatimTIMES, saat dikonfirmasi pada Jumat malam.
Berdasarkan sejumlah keterangan yang dirangkum wartawan JatimTIMES, kronologi kericuhan yang turut berujung pada dugaan kekerasan fisik terhadap anggota dewan tersebut bermula pada Jumat siang. Saat itu sekitar pukul 14.00 WIB, Dur untuk kesekian kalinya mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Malang untuk melayangkan tuntutan mengenai polemik portal Bendungan Lahor.
Pada saat itu, Dur awalnya mendatangi Gedung Dewan Kabupaten Malang dengan didampingi satu orang temannya. Mereka kemudian mengantarkan surat yang belakangan diketahui berisi permintaan kepada dewan supaya akses portal Bendungan Lahor dibuka 24 jam.
Bukannya disampaikan secara baik-baik, Dur diduga justru menunjukkan sikap arogansinya yang sebelumnya juga sering dia lakukan. Dugaan sikap arogansi tersebut mulai dari mengumpat bahkan dengan kata-kata kasar, mengajak berkelahi, hingga melempar botol air mineral.
Sebenarnya, beragam tuntutan yang disampaikan pihak Dur tersebut juga sudah pernah ditindaklanjuti oleh Dewan Kabupaten Malang. Termasuk dengan menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang pernah berlangsung pada beberapa waktu lalu.
Hingga akhirnya, saat Dur kembali mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Malang pada hari Jumat siang, pihak dewan kembali menemui yang bersangkutan. Namun, situasi justru memanas ketika Dur diduga kembali menunjukkan sikap arogansinya tersebut.
Sejumlah anggota dewan termasuk Zulham akhirnya ditugaskan oleh Ketua DPRD Kabupaten Malang untuk turut menemui Dur. Tujuannya ialah untuk mencairkan situasi.
Namun, di sela-sela upaya mediasi tersebut justru membuat Dur semakin emosi. Ia bahkan kembali mengumpat hingga menunjuk-nunjuk anggota dewan untuk diajak ribut.
Kondisi tersebut memicu reaksi dari anggota dewan lainnya yang akhirnya ikut keluar menemui Dur. Bukannya mereda, Dur justru semakin naik pitam. Bahkan, para anggota dewan termasuk Zulham yang semula berupaya melerai justru diajak berkelahi oleh Dur.
Situasi akhirnya semakin ricuh. Pada momen itulah, Dur diduga melakukan kekerasan fisik kepada Zulham dengan cara menyundulkan kepalanya kepada anggota dewan tersebut.
Serangkaian kericuhan tersebut juga sempat terekam kamera. Kiriman rekaman video amatir itulah yang juga didapat oleh wartawan JatimTIMES saat meliput di lokasi kejadian.
Pada rekaman video amatir tersebut, nampak Zulham menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya. Ketika dikonfirmasi, Zulham mengaku tindakannya untuk mengunci tangannya di belakang tubuhnya tersebut merupakan upayanya untuk berusaha tidak melawan meski mengalami tindakan kekerasan.
Baca Juga : Pelajar Ikut Aksi KONI yang Dipimpin Wawali Blitar, DP3AP2KB: Demonstrasi Berbahaya bagi Anak
Hingga akhirnya, situasi mulai mereda setelah keduanya dilerai. Namun, menurut pengakuan Zulham, ia sempat dilempar menggunakan botol.
"Kalau memang niatnya mau berkelahi, ya silakan saya dipukuli tidak apa-apa. Akhirnya, kalau tidak salah benturan itu (menggunakan kepala yang dilakukan Dur, red) jika saya hitung ada tujuh atau delapan kali," ujar Zulham.
Akibat dugaan kekerasan fisik itulah, Zulham mengalami sejumlah luka-luka terutama di bagian kepalanya. "Karena saya enggak melawan, memang saya berikan anggaplah kepala saya ini. Monggo (silahkan, red) kalau memang niatnya tidak mau demokratis, saya persilakan," timpalnya.
Hingga kini, serangkaian observasi mengenai kondisi Zulham masih dilakukan oleh pihak medis. Namun berdasarkan yang ia rasakan, Zulham mengaku mengalami luka hingga memar di bagian kepala dan mulutnya.
"Tapi yang paling parah di mulut, bibir saya robek. Terus kemudian di kepala bagian samping kiri hingga kepala bagian atas," imbuhnya.
Ketika dikonfirmasi lebih lanjut, Zulham mengaku tidak ingat detail luka-luka yang dialaminya tersebut akibat sundulan kepala saja atau karena hal lainnya. Maklum saja, situasi pada saat itu memang ricuh.
"Tapi tangannya dia (Dur, red) lepas, sedangkan kalau tangan saya di belakang, saya kunci. Kemudian saya didorong, kalau sudah begitu kan saya tidak tahu (apakah dipukul dengan tangan, red), kondisi banyak orang juga," pungkas Zulham.
Sementara itu, dari pantauan JatimTIMES, situasi di kawasan Gedung DPRD Kabupaten Malang sempat kembali memanas hingga Jumat malam. Namun, situasi kemudian bisa dikondisikan setelah pihak kepolisian diterjunkan untuk melakukan pengamanan.
Langkah pengamanan dari personel Polres Malang tersebut berlangsung usai sebelumnya sejumlah lapisan masyarakat juga turut memadati Gedung DPRD Kabupaten Malang. Beragam lapisan masyarakat tersebut diketahui merasa geram atas dugaan sikap arogansi yang dilakukan Dur selama ini.
Setelah dilakukan mediasi yang difasilitasi oleh pihak kepolisian, Dur yang pada saat itu didampingi oleh sejumlah orang dari kelompoknya akhirnya membubarkan diri. Belakangan diketahui, Dur dan rombongannya juga menuju ke Polres Malang untuk melayangkan laporan atas keributan tersebut pada Jumat malam.
Hingga berita ini disusun, yakni pada Jumat malam sekitar pukul 22.00 WIB, JatimTIMES masih berupaya melakukan konfirmasi kepada sejumlah pihak. Termasuk berupaya untuk mengkonfirmasi pihak Dur maupun kepolisian meskipun untuk sementara ini belum ada tanggapan resmi.
