3 Bakteri Ditemukan di Hasil Lab MBG Berastagi, Dokter Ini Jelaskan Kaitannya dengan Gagal Ginjal

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

08 - Sep - 2026, 08:07

Hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan makanan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan makanan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tengah beredar di media sosial dan menjadi sorotan. Sejumlah bakteri ditemukan pada sampel makanan yang dikonsumsi siswa.

Dokter Umum Klinik Utama Diagnos Healthcare Batam, dr. Ferry Kusmalingga, mengaku telah membaca dua halaman hasil pemeriksaan laboratorium yang beredar terkait kasus tersebut.

Baca Juga : Beras Premium Langka, Rantai Pasokan Bakal Dipantau

Melalui akun Threads pribadinya, dr. Ferry membeberkan sejumlah temuan positif dalam sampel makanan maupun muntahan siswa.

"Saya sudah coba baca kedua halaman hasil lab ini. Ada beberapa temuan positif pada sampel," tulis dr. Ferry.

Berdasarkan hasil yang dibacanya, terdapat empat temuan yang disimpulkan, yakni sebagai berikut.

1. Sampel nasi dari sekolah disebut positif Bacillus cereus.
2. Sampel ikan dan saus dari sekolah disebut positif Staphylococcus aureus.
3. Sampel melon dari sekolah disebut positif Escherichia coli (E. coli).
4. Sampel muntahan siswa disebut positif Staphylococcus aureus.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap Salmonella disebut menunjukkan hasil negatif pada sampel yang diperiksa.

Temuan tersebut sejalan dengan laporan mengenai hasil uji mikrobiologi UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara bernomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026 yang kemudian menjadi bahan pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Karo pada Senin, 7 September 2026.

Menurut dr. Ferry, salah satu temuan yang perlu diperhatikan adalah Staphylococcus aureus atau S. aureus, yang tercemar pada sampel ikan dan saus. Bakteri tersebut dapat ditemukan pada kulit dan hidung manusia serta berpotensi mencemari makanan melalui penjamah makanan. Dalam kondisi tertentu, bakteri dapat berkembang ketika makanan disimpan pada suhu yang tidak sesuai.

"SA dapat mencemari makanan melalui tangan 'penjamah' makanan, kulit/hidung, kemudian berkembang biak apabila makanan disimpan pada suhu yang tidak tepat," tulisnya.

S. aureus dapat menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan keracunan makanan. Yang menjadi persoalan, toksin tertentu yang dihasilkan bakteri tersebut relatif tahan panas sehingga proses pemanasan tidak selalu menghilangkan risikonya apabila toksin telah terbentuk.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan, S. aureus merupakan salah satu bakteri yang dapat menyebabkan keracunan pangan melalui toksin yang dihasilkannya. Gejala yang dapat muncul antara lain mual, muntah, sakit perut dan diare.

Selain S. aureus, dr. Ferry juga mengomentari keberadaan Bacillus cereus pada sampel nasi. Bakteri tersebut dikenal dapat mencemari makanan berkarbohidrat seperti nasi, terutama makanan yang dimasak dalam jumlah besar kemudian terlalu lama berada pada suhu ruang atau tidak disimpan dengan benar.

"Bacillus cereus adalah bakteri pembentuk spora yang dapat mencemari makanan berkarbohidrat tinggi (contoh: nasi/pasta/mie)," tulis dr. Ferry.

Menurut dia, bakteri tersebut dapat menghasilkan toksin yang memicu muntah atau diare akut.

Kementerian Kesehatan juga mencatat B. cereus sebagai salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan keracunan pangan. Bakteri ini antara lain dikaitkan dengan makanan berbahan nasi yang disiapkan dalam jumlah besar dan berada pada suhu ruang.

Temuan lain yang menjadi perhatian adalah E. coli pada sampel melon dari sekolah. dr. Ferry mengaitkan temuan tersebut dengan adanya laporan mengenai korban yang mengalami gangguan ginjal. Namun, dia menegaskan bahwa tidak semua jenis E. coli menyebabkan gagal ginjal.

"Karena memang beberapa strain bakteri Escherichia coli (E. coli) dapat menyebabkan gagal ginjal, terutama melalui komplikasi dari strain tertentu atau infeksi berat," tulisnya.

Salah satu kelompok yang perlu diperhatikan adalah Shiga toxin-producing E. coli atau STEC. Infeksi strain tertentu dapat menyebabkan diare berat, termasuk diare berdarah, kemudian berkembang menjadi komplikasi hemolytic uremic syndrome (HUS) yang dapat menyebabkan cedera ginjal akut.

Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa strain E. coli tertentu, terutama enterohemorrhagic E. coli, dapat menyebabkan HUS sebagai komplikasi infeksi.

Baca Juga : Emil Dardak Tegaskan Dana Cadangan Pilgub Tak Ambil Jatah Pendidikan dan Kesehatan

Meski demikian, keberadaan E. coli pada sampel melon belum otomatis membuktikan bahwa bakteri tersebut merupakan penyebab gangguan ginjal yang dialami setiap korban. Jenis atau strain E. coli serta pemeriksaan klinis korban tetap diperlukan untuk memastikan hubungan tersebut.

Lalu Mengapa Ada Korban Gangguan Saraf dan Hilang Ingatan?

Pertanyaan lain yang muncul adalah kondisi sejumlah siswa yang dilaporkan mengalami gangguan saraf, termasuk seorang siswi bernama Feby br Purba yang disebut mengalami penurunan kemampuan mengingat secara drastis.

Terkait gangguan saraf tersebut, dr. Ferry menilai persoalannya tidak sederhana. Dia mengatakan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut karena penyebab gangguan pada sistem saraf tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan hasil panel pemeriksaan bakteri pada makanan.

"Untuk membahas kemungkinan kenapa adanya case infeksi ke saraf otak/amnesia sebenarnya sangat complex ya. Kemungkinannya banyak, dan karena saya tidak memeriksa pasien secara langsung saya coba bahas kemungkinan yang terjadi ya," tulisnya.

Dr. Ferry mengingatkan bahwa pemeriksaan laboratorium yang dibahas hanya mencakup beberapa jenis bakteri.

"Panel pemeriksaan pada hasil lab di atas hanya mencari beberapa bakteri: Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus," tulisnya.

Dengan demikian, masih terdapat kemungkinan agen lain yang tidak terdeteksi dalam panel tersebut.

Menurut dia, kejadian keracunan massal dapat pula berkaitan dengan virus, bakteri lain, parasit, toksin, kontaminasi bahan kimia, pestisida maupun logam.

Karena itu, temuan bakteri pada sampel makanan penting untuk ditindaklanjuti, tetapi belum cukup untuk menjelaskan seluruh keluhan kesehatan yang dialami para korban.

Dr. Ferry juga mengungkap kemungkinan kondisi berat yang muncul setelah muntah atau diare berulang. Dehidrasi berat, diare berkepanjangan, muntah terus-menerus dan penurunan tekanan darah dapat mengurangi aliran darah ke ginjal. Kondisi tersebut pada situasi tertentu dapat menyebabkan cedera ginjal akut.

Sementara untuk keluhan yang berkaitan dengan sistem saraf, menurutnya perlu diperiksa lebih jauh kemungkinan terjadinya syok maupun sepsis. "Untuk infeksi saraf otak, perlu diperiksa kembali kemungkinan adanya syok/sepsis," tulisnya.

Sebagaimana diberitakan, ada tiga siswa korban dugaan keracunan MBG di Berastagi hingga kini masih menjalani perawatan medis. Salah satunya Feby yang harus menjalani kontrol di RSUP H Adam Malik Medan. Selain gangguan daya ingat, keluarganya menyebut Feby harus menjalani pemantauan hingga berbulan-bulan.

Korban lainnya, Agnesia P br Silitonga, juga kembali mengalami keluhan kesehatan setelah sebelumnya mendapatkan perawatan. Ibu Agnesia, Fitriani br Sijabat, mengatakan dokter menemukan adanya gangguan pada ginjal putrinya.

Sementara itu, Karissa Zefania br Aritonang masih menjalani pemeriksaan. Karissa diketahui memiliki riwayat gangguan jantung sebelum kejadian.

"Menurut pemeriksaan dokter, sakit jantung anak kita ini memang sudah ada sebelumnya. Keracunan MBG itu membuat sakit jantungnya kambuh dan makin parah. Makanya saat kena racun MBG kemarin, anak kita langsung sesak terus," ujar orang tua Karissa.