Pakar ITB Teliti Bentuk Abu Anak Krakatau, Dipenuhi Gelas Vulkanik Runcing

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana

08 - Sep - 2026, 09:41

Momen pakar ITB menunjukkan hasil penelitian bentuk abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin hingga ke sejumlah wilayah ternyata memiliki bentuk yang berbeda dari debu biasa. Sampel abu yang menempel di sebuah mobil di Bandung diteliti dan hasilnya terlihat dominasi material berupa gelas vulkanik dengan bentuk tajam dan tidak beraturan.

Sampel tersebut dianalisis oleh ahli vulkanologi sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman. Ia memperlihatkan proses pemeriksaan dan hasil analisis abu vulkanik Anak Krakatau melalui akun Instagram pribadinya.

Baca Juga : Turnamen Voli Pelajar Bupati Ngawi Cup ll 2026 Diikuti 32 Tim, Dua Tim dari Madiun Ikut Perebutan Juara

Abu itu menurut Mirzam dikumpulkan dari debu yang menempel di mobilnya di Bandung pada 6 September 2026. Sampel kemudian dianalisis di Laboratorium GEM-ITB-CSU, Teknik Metalurgi ITB, Kampus Jatinangor. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat morfologi atau bentuk partikel sekaligus mengetahui komposisi kimia abu vulkanik tersebut.

Dalam video yang dibagikan Mirzam, sampel abu diamati menggunakan alat dengan pembesaran tinggi. Pada pembesaran sekitar 1.200 kali, sebagian besar partikel yang terlihat menunjukkan karakter gelas vulkanik.

"Dan ternyata isinya guys, mayoritas kaca ya Pak ya?" ujar pria dalam video. 

"Ya, runcing-runcing ini. Gelas vulkanik runcing," jawab Mirzam.

Pengamatan kemudian dilakukan dengan pembesaran yang lebih tinggi. Pada pembesaran sekitar 2.600 kali, bentuk partikel abu terlihat semakin jelas.

"Baik, sekarang kita melihat perbesaran yang jauh lebih besar di 2.600 kali dari gambaran semula. Ini terlihat sekali pecahan-pecahan kaca yang runcing kemudian melengkung khas dari gelas vulkanik," kata Mirzam.

Dalam konteks geologi, istilah yang lebih tepat untuk material tersebut adalah gelas vulkanik (volcanic glass). Menurut Mirzam, material ini merupakan bagian dari magma yang membeku sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk struktur kristal secara sempurna.

Bentuk partikel yang tajam dan tidak beraturan menjadi salah satu alasan abu vulkanik perlu diwaspadai, terutama ketika mengenai mata atau terhirup. Mirzam pun menggambarkan risiko ketika partikel tersebut menempel pada tubuh atau permukaan benda.

"Kebayang nggak sih Pak, kalau ini nempel di wajah kita, dikucek akan luka ya Pak ya? Apalagi kalau masuk ke paru-paru," ujar pria dalam video.

Mirzam kemudian menunjukkan kembali bentuk partikel tersebut saat diperbesar. "Ini bisa dibayangkan, kalau ini nempel di kulit kita, masuk ke mata atau di kendaraan kita, kemudian kita bersihkan dengan lap atau dengan tangan, ini pasti akan ngegores," ujarnya.

Karena itu, abu yang masuk ke mata sebaiknya tidak langsung digosok atau dikucek. Mata dapat dibilas dengan air bersih. Sementara abu yang menempel pada kendaraan atau benda lain juga perlu dibersihkan secara hati-hati agar partikel abrasif tidak semakin bergesekan dengan permukaan.

Lebih lanjut, Mirzam menjelaskan material tersebut berasal dari lelehan magma yang menyembur saat erupsi dan kemudian mengalami pendinginan sangat cepat.

Pendinginan yang berlangsung cepat membuat material tidak memiliki cukup waktu untuk membentuk kristal. Akibatnya, material membeku dalam kondisi amorf atau tidak memiliki susunan kristal yang teratur.

"Ini terbentuk dari lelehan magma yang menyembur dan mendingin sangat cepat, sehingga nggak sempat membentuk kristal. Jadinya amorf," jelas Mirzam.

Gelas vulkanik tersebut kemudian menjadi salah satu material yang dapat ditemukan dalam abu hasil erupsi.

Selain melihat bentuknya, tim juga memeriksa komposisi kimia sampel abu. Hasil analisis ditampilkan dalam pemetaan dengan warna berbeda. Perbedaan warna tersebut menunjukkan keberadaan unsur yang berbeda sekaligus distribusinya pada material yang diamati.

"Kalau tadi kita mengecek ketajaman, morfologi, sekarang kita ngecek isinya apa," ujar pembawa video.

Mirzam kemudian menjelaskan hasil pemetaan tersebut. "Dari gambaran warna ini, ini mendistribusikan komposisi dari unsur yang beragam, berbeda-beda dari kandungan Si, silikon, kemudian oksigen, natrium, dan lain-lain," terangnya.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Selasa Pon 8 September 2026: Hindari Bepergian Hari Ini

Ia menyebut komponen utama yang terlihat antara lain silikon yang berkaitan dengan silika, aluminium yang berkaitan dengan alumina, besi, kalsium, natrium dan magnesium.

Dalam bentuk oksida, komponen kimia abu vulkanik dapat mencakup SiO₂, CaO, Na₂O dan K₂O serta berbagai unsur lainnya. Dalam penjelasan tersebut juga disebut adanya sulfur (S) dan fosfor (P).

Perbedaan warna pada hasil pemetaan menunjukkan bahwa unsur yang terkandung pada partikel tidak tersebar dengan komposisi yang sama. Dengan kata lain, warna yang berbeda mencerminkan perbedaan jenis dan kadar unsur pada bagian material yang diamati.

Mirzam juga menyoroti kemungkinan abu vulkanik masuk ke saluran pernapasan maupun sumber air.

"Ini bisa dibayangkan kalau kemudian ini masuk ke saluran pernapasan kita, kemudian air minum tentu akan mempengaruhi kesehatan kita maupun kualitas dari air minum," ujarnya.

Abu vulkanik yang masuk ke tempat penampungan air dapat memengaruhi kualitas air. Sebagian komponen abu juga dapat bereaksi atau larut ketika bercampur dengan air sehingga berpotensi mengubah sifat kimianya, termasuk tingkat keasaman atau pH.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak hujan abu sebaiknya menutup wadah penampungan air. Jika air sudah terpapar abu, kualitasnya perlu diperhatikan sebelum digunakan, terutama untuk konsumsi.

Selain itu, Abu vulkanik juga menjadi salah satu bahaya serius bagi penerbangan. Partikel abu yang masuk ke mesin pesawat dapat bersifat abrasif dan mengganggu komponen mesin.

Material yang mengandung silika juga dapat mengalami pelelehan ketika masuk ke bagian mesin yang bersuhu sangat tinggi. Material tersebut kemudian dapat menempel pada komponen mesin dan mengganggu kinerjanya.

"Dalam ilmu metalurgi kandungan SiO02, CaO, Na2O, K20, S dan P sangat membahayakan pesawat terbang, bisa menyebabkan mesin hancur," jelasnya. 

BMKG pada 7 September 2026 melaporkan sebaran abu Anak Krakatau terpantau pada beberapa lapisan atmosfer. Pada lapisan dari permukaan hingga 15.000 kaki, abu terpantau menyebar ke sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu.

BMKG juga mengimbau masyarakat di area terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker dan kacamata pelindung apabila harus beraktivitas di luar. Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.

Sebagai informasi, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Berdasarkan evaluasi Badan Geologi per 7 September 2026, aktivitas erupsi strombolian masih teramati pada periode 6-7 September.

Badan Geologi mencatat satu episode erupsi menerus berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Erupsi menerus tersebut berlangsung sekitar 25 jam dan kemudian diikuti tiga kali erupsi strombolian.

Potensi bahaya yang masih diwaspadai berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Jika erupsi menerus kembali terjadi, terdapat pula potensi aliran lava. Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi juga secara khusus merekomendasikan masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.