Erupsi Anak Krakatau Tembus 14 Km, Pakar BRIN Ungkap Awan Abu Membentang 851 Km
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
06 - Sep - 2026, 10:19
JATIMTIMES - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat dan menghasilkan erupsi dengan intensitas tertinggi sepanjang 2026. Fenomena tersebut tidak hanya menghasilkan lontaran lava dan abu vulkanik, tetapi juga membentuk sebaran awan erupsi yang terpantau hingga ratusan kilometer dari sumbernya.
Profesor Riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengungkap hasil analisisnya terhadap citra satelit terkait aktivitas erupsi tersebut. Melalui akun X pribadinya, Erma menyebut material erupsi Anak Krakatau terpantau bergerak ke arah barat dengan bentangan mencapai sekitar 851 kilometer.
Baca Juga : Abu Anak Krakatau Ganggu Langit Jakarta, 33 Penerbangan Soekarno-Hatta Kena Imbas
“Letusan piroklastik Anak Krakatau dimulai sejak sekitar pukul 23.00 WIB dan teramati dari satelit masih terjadi hingga sekarang yang bergerak ke arah barat sepanjang 851 km,” tulis Erma dalam unggahannya.
Menurut dia, material vulkanik tersebut membentuk awan pirokumulus yang berisi abu panas serta sulfur oksida. Sebaran awan bahkan mencakup wilayah hingga Pulau Enggano.
Erma menilai besarnya material yang dapat terlihat melalui citra satelit menunjukkan erupsi tersebut memiliki volume yang signifikan. “Jika letusan secara visual bisa diamati melalui satelit maka ini volume letusan yang sangat signifikan dan tebal,” tulisnya.
Erma juga menunjukkan adanya indikasi kolom erupsi yang menjulang sangat tinggi. Berdasarkan simulasi atmosfer yang dia paparkan, kolom erupsi diperkirakan mencapai sekitar 13 hingga 14 kilometer. Ketinggian tersebut disebut sudah mendekati atau menyentuh kawasan tropopause, yakni lapisan atmosfer yang menjadi batas antara troposfer dan stratosfer.
“Kolom yang tinggi, dengan estimasi tinggi 13-14 km, menyentuh ketinggian tropopause,” tambah Erma.
Meski demikian, angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan analisis dan simulasi atmosfer, bukan hasil pengukuran langsung kolom erupsi oleh PVMBG.
Dalam laporan resmi Badan Geologi terkait aktivitas 5 September 2026, tinggi kolom erupsi memang disebut tidak teramati. Fenomena yang terlihat dari pos pengamatan justru berupa semburan merah menyala yang berlangsung terus-menerus dan menyerupai lava fountain.
Erma juga mengingatkan bahwa arah sebaran material vulkanik tidak selalu tetap. Saat ini, sebaran utama berdasarkan pengamatan satelit bergerak ke arah barat. Namun, kondisi atmosfer lokal dapat mengubah pola tersebut pada waktu tertentu.
Tekanan rendah di wilayah Banten yang bertemu dengan hembusan angin laut kuat, menurut Erma, berpotensi mendorong awan erupsi menuju Serang dan wilayah sekitarnya.
“Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, awan piro bisa saja menuju ke wilayah Serang, Banten, dsk. Pantau terus arah sebaran letusannya,” imbuh Erma.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa pemantauan erupsi tidak cukup hanya melihat posisi gunung api. Pergerakan material di atmosfer juga sangat dipengaruhi pola angin dan kondisi cuaca di sekitarnya.
Dampak erupsi juga terasa pada sektor penerbangan. Sebaran abu vulkanik membuat Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026).
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyebut penutupan wilayah udara pada pukul 01.30 hingga 09.30 WIB berdampak terhadap 209 pergerakan penerbangan dan 22.798 penumpang. Hasil pemeriksaan terbaru juga masih menunjukkan indikasi abu vulkanik di area bandara.
Untuk penerbangan internasional, tercatat 16 pembatalan, tujuh penundaan dan lima penjadwalan ulang. Sementara pada penerbangan domestik terdapat empat pembatalan dan satu penerbangan yang dialihkan.
Badan Geologi mencatat erupsi menerus Anak Krakatau dimulai pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga Sabtu (5/9) pukul 04.40 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang.
Badan Geologi menginterpretasikan fenomena tersebut sebagai lava fountain atau lava air mancur, yakni semburan material pijar dari kawah yang dapat menghasilkan aliran lava.
Baca Juga : Soroti Potensi Kebocoran Pajak, DPRD Kota Batu Minta Perwali Khusus Pajak Villa hingga Evaluasi Titik Parkir
Sebagai gambaran, sejarah mencatat erupsi Krakatau 1883 pernah memberikan dampak atmosferik yang jauh lebih luas. Erma sendiri kembali mengingatkan sejarah tersebut melalui X.
“Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika Krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin,” tulis Erma.
Ia menambahkan bahwa sejarah tersebut menjadi salah satu alasan aktivitas Anak Krakatau tetap menjadi perhatian dunia. “Itulah mengapa letusan anak Krakatau atau Krakatoa ini sudah pasti jadi perhatian dunia,” terangnya.
Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman menyebut rangkaian erupsi 4-5 September menjadi yang paling tinggi intensitasnya sepanjang 2026.
“Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung tersebut berstatus siaga,” kata Dika.
Berdasarkan laporan Badan Geologi, aktivitas Anak Krakatau kembali berlangsung sejak 2 Juli 2026 dan status gunung berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan maupun nelayan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer.
Meski erupsi Anak Krakatau mengingatkan pada tragedi 2018, pemerintah menyatakan kondisi gunung saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami.
PVMBG menjelaskan tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah peristiwa 22 Desember 2018 masih relatif kecil sehingga tidak berpotensi runtuh dalam skala seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap mematuhi zona bahaya dan informasi resmi dari otoritas kebencanaan.
Erupsi besar juga dapat membawa sulfur dalam jumlah signifikan ke atmosfer. Senyawa sulfur yang berubah menjadi aerosol sulfat dapat memengaruhi keseimbangan radiasi karena mampu memantulkan sebagian radiasi matahari kembali ke angkasa.
Efek tersebut secara umum dikenal sebagai volcanic cooling, atau pendinginan akibat aktivitas vulkanik.
Namun, fenomena tersebut tidak berarti satu erupsi secara otomatis akan menghentikan pemanasan global. Besarnya pengaruh terhadap suhu global sangat bergantung pada volume sulfur yang mencapai lapisan atmosfer tinggi, komposisinya, serta lamanya aerosol bertahan di atmosfer.
Saat ini, pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau masih dilakukan secara intensif. Masyarakat di kawasan Banten dan Lampung diminta mengikuti perkembangan dari PVMBG, Badan Geologi dan BNPB serta tidak mendekati kawasan dalam radius yang telah ditetapkan.
