Pakar Politik UB Ungkap Peluang dan Tantangan Partai Baru Tembus Senayan
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
A Yahya
05 - Sep - 2026, 05:28
JATIMTIMES - Peluang partai politik baru maupun parpol nonparlemen untuk menembus parlemen nasional dinilai tetap terbuka, meski harus berhadapan dengan dominasi partai-partai besar. Kehadiran figur berpengaruh dan fokus konsolidasi di tingkat akar rumput menjadi kunci utama bagi partai baru untuk meraup elektabilitas.
Pakar politik sekaligus Project Leader Tim Kajian PT Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), Wawan Sobari, S.IP., M.A., Ph.D., menyebutkan bahwa keterbatasan infrastruktur politik menjadi alasan utama mengapa partai baru kerap kesulitan berkembang.
Baca Juga : Hendak Curi Motor di Kota Malang, Pelaku Kepergok Gegara Lampu Motor Menyala
"Partai baru harus berhadapan dengan infrastruktur politik yang sudah jalan milik partai-partai besar seperti Golkar dan PDI Perjuangan yang akarnya sudah ada sejak lama," ujar Wawan belum lama ini saat diwawancarai.
Meski demikian, Wawan menilai tren elektabilitas partai baru tetap menunjukkan potensi positif jika dikelola secara tepat. Ia mencontohkan pergerakan elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam hasil survei belakangan ini yang menunjukkan tren peningkatan hingga menembus angka sekitar 4 persen. Menurutnya, dongkrak elektabilitas tersebut tidak terlepas dari faktor pendorong figur utama yang turun langsung ke lapangan.
Di sisi lain, Wawan menyoroti posisi partai baru yang berada di luar pemerintahan. Keberadaan di luar koalisi pemerintahan justru memberikan keuntungan strategis karena partai bisa lebih leluasa memfokuskan energi untuk membangun konsolidasi struktur dan konstituen di bawah.
"Hubungan antara partai dengan pemilih itu harusnya dipelihara selama masa pemerintahan, bukan hanya mendekati pemilu saja baru turun ke masyarakat," tegasnya.
Selain tantangan konsolidasi, Wawan juga mengingatkan adanya risiko persaingan politik yang tidak sehat, mulai dari praktik pembajakan kader hingga ancaman ketergantungan antarpartai. Ia menyoroti bahaya apabila kehadiran partai baru hanya dijadikan instrumen oleh kekuatan partai politik yang lebih besar.
Baca Juga : Era AI, ASN Surabaya Dituntut Tak Sekadar Kuasai Teknologi
"Yang bahaya itu jangan sampai partai baru menjadi boneka dari partai-partai besar sekadar untuk memecah suara. Partai politik itu harus betul-betul lahir dari dinamika sosiologis masyarakat," ungkap Wawan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberadaan partai baru yang beragam sebenarnya merupakan bagian dari dinamika dan variasi politik yang sehat bagi demokrasi. Namun, kesuksesan partai baru untuk bertahan dan menembus parlemen pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuannya menjalin keterikatan nyata dengan rakyat serta dinamika persaingan di lapangan.
