Jalan ke Pelabuhan Ketapang Macet Parah hingga 15 Km, Sopir Truk Terjebak hingga 14 Jam
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
04 - Sep - 2026, 04:00
JATIMTIMES - Kemacetan panjang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Antrean kendaraan bahkan mengular hingga sekitar 15 kilometer dan mencapai kawasan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo.
Informasi mengenai kondisi tersebut disampaikan Dinas Perhubungan (Dishub) Banyuwangi melalui akun resminya pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 09.27 WIB.
Baca Juga : Dorong Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Mataraman, BI Kediri Gelar SYIAR 2026
Dishub Banyuwangi menyebut antrean kendaraan dari arah Ketapang masih mengekor hingga kawasan Bangsring Wongsorejo. Sementara arus lalu lintas dari arah sebaliknya menuju Situbondo relatif masih bergerak.
Meski demikian, arus menuju Situbondo berpotensi tersendat apabila kendaraan saling mendahului. Polisi juga telah melakukan pengawasan di sejumlah titik konflik lalu lintas untuk mencegah kondisi semakin parah.
Kemacetan ini juga dilaporkan oleh akun Threads Suara Surabaya. Dalam laporan yang diunggah pada Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 07.08 WIB, seorang pendengar bernama Reddyanto menyebut dirinya terjebak kemacetan hingga 14 jam.
"Ekor macet berada di SPBU Bangsring Banyuwangi," demikian laporan tersebut.
Kemacetan panjang ini terjadi di tengah belum optimalnya operasional penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi tersebut berkaitan dengan pengerjaan peningkatan kapasitas Dermaga 2 Pelabuhan Gilimanuk serta dermaga ponton Pelabuhan Ketapang.
Kedua dermaga tersebut dikerjakan untuk ditingkatkan menjadi dermaga movable bridge (MB) dengan kapasitas 50 ton. Proses pengerjaan membuat operasional penyeberangan belum dapat berjalan secara penuh.
Panjangnya antrean juga ramai dikeluhkan oleh banyak pengguna media sosial. Salah satu akun Threads @atika**** membagikan pengalamannya saat hendak menuju Bali melalui Pelabuhan Ketapang.
"Dari malang jam 22.00 dan baru naik kapal 14.45, jarak 15km menuju pelabuhan ketapang macet total," tulisnya pada Jumat (4/9/2026).
Ia kemudian mengingatkan masyarakat yang hendak bepergian ke Bali melalui jalur darat agar mempersiapkan kebutuhan selama perjalanan.
"Jadi bersabarlah, yg udah niat mau ke Bali lewat jalur darat, persiapkan makanan. Khususnya nasi dan makanan berat, tapi jangan to much karna kalo mules repot mau pup ?," lanjutnya.
Untuk mengurai kepadatan, kepolisian menerapkan rekayasa lalu lintas di kawasan Pelabuhan Ketapang.
Dilansir dari KompasTV live, polisi menyiapkan jalur lingkar bagi kendaraan yang hendak menuju Banyuwangi kota. Jalur tersebut disiapkan agar kendaraan tujuan kota tidak ikut memperpanjang antrean menuju pelabuhan.
Namun, kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang masih harus mengikuti antrean.
Sejumlah personel kepolisian juga ditempatkan di lokasi untuk mencegah kendaraan mengambil jalur berlawanan yang dapat memperburuk kepadatan.
Sementara itu, pengelola pelabuhan telah memberikan konsumsi kepada sejumlah sopir truk yang terjebak kemacetan sejak Kamis (3/9/2026).
Para sopir truk mengaku mengalami kerugian akibat terjebak dalam antrean selama berjam-jam. Biaya operasional meningkat karena mereka harus mengeluarkan uang tambahan untuk bahan bakar serta kebutuhan makan selama menunggu.
Para sopir berharap jumlah kapal yang beroperasi segera ditambah sehingga antrean kendaraan dapat lebih cepat terurai.
Baca Juga : Distribusi Air Bersih Dampak Kekeringan di Malang Capai 1 Juta Liter
Kemacetan yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir juga memicu aksi protes dari para sopir truk logistik.
Pada Kamis (3/9/2026), puluhan sopir truk menggelar unjuk rasa di area Pelabuhan Ketapang. Mereka sempat memblokir akses masuk pelabuhan sebagai bentuk protes terhadap kondisi antrean yang tak kunjung terurai.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) kemudian membuka kembali akses masuk Pelabuhan Ketapang setelah aksi tersebut berakhir sekitar pukul 17.15 WIB.
Salah seorang sopir truk, Sunahri, mengatakan antrean panjang menuju Pelabuhan Ketapang sebenarnya sudah berlangsung lebih dari sepekan. Kondisi tersebut membuat pengeluaran sopir membengkak.
"Biaya makan kami tentu bertambah, banyak teman-teman kami yang menginap, belum lagi biaya bahan bakar minyak atau BBM juga pasti bertambah," kata dia, seperti dikutip Antara.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Media Syahrianto, mengatakan para sopir membubarkan diri setelah tercapai kesepakatan dengan operator pelabuhan dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
"Tadi sudah ada kesepakatan, dan penutupan akses masuk pelabuhan juga dapat dihentikan atau akses kembali dibuka pada pukul 17.15 WIB," katanya.
Kesepakatan antara sopir, operator, dan regulator tersebut mencakup enam poin. Salah satunya memastikan jumlah kapal feri yang beroperasi sesuai standar serta mempercepat operasional pelabuhan dan kapal.
Selain itu, truk dengan muatan ringan atau di bawah 30 ton dapat diangkut melalui Dermaga MB. Sedangkan truk dengan muatan di atas 30 ton diarahkan menggunakan Dermaga LCM.
Operator dan regulator juga sepakat menambah kapal yang beroperasi menggunakan sistem tiba-bongkar-muat atau TBB. Para sopir menyatakan siap mengikuti arahan petugas selama berada di kawasan pelabuhan.
Mereka juga bersedia menerima sanksi apabila melanggar arahan petugas maupun aturan yang berlaku di dalam pelabuhan. Sanksi juga dapat diberikan kepada petugas apabila terbukti melanggar ketentuan.
KSOP selanjutnya melakukan percepatan pelayanan Surat Persetujuan Berlayar (SPB), dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan pelayaran.
Di sisi lain, asosiasi pelayaran diminta mengoptimalkan perjalanan atau trip serta muatan kapal untuk membantu mempercepat penguraian antrean kendaraan di jalur Ketapang-Gilimanuk.
