Jadi Cermin Keimanan Seseorang Muslim, Tahukah Kamu Ada Tiga Rasa Malu
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
20 - Jun - 2026, 10:08
JATIMTIMES – Dalam ajaran Islam, rasa malu bukan sekadar sifat bawaan atau karakter pribadi, melainkan bagian penting dari keimanan. Sifat ini menjadi pengendali yang menjaga seseorang dari perbuatan tercela sekaligus mendorongnya untuk melakukan kebaikan.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa malu selalu membawa dampak positif bagi kehidupan seorang mukmin. Dari Imran bin Hushain RA, Nabi SAW bersabda, "Malu itu tidak mendatangkan sesuatu selain kebaikan." (HR Bukhari dan Muslim).
Baca Juga : SPPG Demo Dukung MBG, Netizen: Setuju MBG Kok Demo?
Karena itu, para ulama menempatkan rasa malu sebagai salah satu akhlak utama yang harus dipelihara. Malu dalam Islam bukan berarti minder, takut tampil, atau merasa rendah diri. Sebaliknya, rasa malu adalah kesadaran moral yang membuat seseorang enggan melakukan dosa, menjaga hak orang lain, dan berusaha menjalankan perintah Allah SWT.
Kedudukan rasa malu juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis lain. Beliau bersabda, "Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman." (HR Bukhari dan Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa seseorang yang kehilangan rasa malu akan mengalami kemerosotan akhlak secara bertahap. Ketika malu hilang, ia akan semakin mudah melakukan maksiat, mengabaikan amanah, hingga kehilangan kasih sayang dan nilai-nilai keislaman dalam dirinya.
Peringatan tersebut sejalan dengan sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah. Rasulullah menjelaskan bahwa ketika Allah hendak membinasakan seseorang, pertama yang dicabut darinya adalah rasa malu. Setelah itu akan hilang amanah, rahmat, hingga ikatan keislaman dalam dirinya.
Pentingnya sifat malu juga pernah ditegaskan Rasulullah SAW ketika melihat seseorang mencela saudaranya karena dianggap terlalu pemalu. Mendengar hal itu, Nabi SAW bersabda, "Biarkanlah dia, karena sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan." (HR Bukhari).
Dalam kehidupan seorang Muslim, terdapat tiga bentuk rasa malu yang perlu terus dipupuk. Pertama adalah malu kepada diri sendiri. Rasa malu ini muncul ketika seseorang menyadari bahwa amal saleh dan kontribusinya bagi umat masih jauh dari yang seharusnya. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk memperbanyak ibadah, meningkatkan kualitas diri, dan lebih banyak berbuat kebaikan.
Baca Juga : Ini Posisi Lemari Pakaian yang Diyakini Membawa Energi Baik
Kedua adalah malu kepada sesama manusia. Perasaan ini membuat seseorang menjaga perilaku, perkataan, dan tindakannya agar tidak melanggar norma agama maupun sosial. Meski pada awalnya muncul karena pertimbangan pandangan orang lain, rasa malu seperti ini tetap memiliki nilai positif karena dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan dosa.
Adapun bentuk malu ketiga dan yang paling tinggi adalah malu kepada Allah SWT. Rasa malu ini lahir dari keyakinan bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui seluruh perbuatan manusia. Orang yang memiliki malu kepada Allah tidak akan berani meninggalkan kewajiban ataupun melakukan maksiat, baik saat berada di tengah keramaian maupun ketika sendirian.
Para salafus saleh bahkan menjadikan rasa malu sebagai benteng kehormatan diri. Salah satu ungkapan yang terkenal menyebutkan, "Aku melihat kemaksiatan merupakan kehinaan, maka aku meninggalkannya demi menjaga kehormatan diri. Mustahil kemaksiatan menjadi agamaku."
