Puasa Muharram Sebaiknya Berapa Hari? Simak Penjelasan Lengkap Beserta Keutamaannya
Reporter
Mutmainah J
Editor
Dede Nana
16 - Jun - 2026, 05:12
JATIMTIMES - Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Selain menandai awal Tahun Baru Hijriah, bulan ini juga termasuk dalam empat bulan haram yang memiliki keutamaan khusus. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, salah satunya dengan menjalankan puasa sunnah.
Bahkan, puasa di bulan Muharram disebut sebagai puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadan. Keutamaan tersebut dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA.
Baca Juga : Bolehkah TNI dan Komcad Mengamankan Demo Mahasiswa? Ini Aturan Hukumnya
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam." (HR Muslim No. 1163 dari Abu Hurairah).
Puasa Muharram Berapa Hari yang Dianjurkan?
Pada dasarnya, umat Islam boleh memperbanyak puasa sunnah selama bulan Muharram. Namun, ada beberapa hari yang secara khusus dianjurkan oleh para ulama berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW.
Dua puasa yang paling dikenal adalah Puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram dan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Keutamaan Puasa Asyura dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ »
Artinya: "Nabi SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah, lalu beliau bersabda, 'Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.' Beliau juga ditanya tentang puasa Asyura, kemudian menjawab, 'Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang telah lalu.'" (HR Muslim No. 1162).
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk tidak hanya berpuasa pada Hari Asyura, tetapi juga menambah puasa sehari sebelumnya, yaitu pada 9 Muharram atau Hari Tasu'a. Tujuannya adalah untuk membedakan amalan kaum muslimin dengan tradisi kaum Yahudi yang juga mengagungkan Hari Asyura.
Hal itu dijelaskan dalam riwayat Ibnu Abbas RA ketika para sahabat berkata kepada Rasulullah SAW:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
Artinya: "Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani."
Kemudian Nabi SAW bersabda:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
Artinya: "Apabila datang tahun depan, insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan."
Namun Ibnu Abbas RA menjelaskan:
Baca Juga : Tips Pudarkan Bekas Jerawat Kemerahan Bujet di Bawah Rp 100 Ribu
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
Artinya: "Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah SAW telah wafat." (HR Muslim No. 1134).
Berdasarkan hadis tersebut, sejumlah ulama seperti Imam Syafi'i, Imam Ahmad, dan Ishaq menganjurkan agar puasa dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharram secara bersamaan. Selain Tasu'a dan Asyura, sebagian ulama juga menyebut adanya anjuran berpuasa pada 1 Muharram dan 11 Muharram. Terkait puasa pada awal Muharram, terdapat riwayat yang menyebutkan:
"Barang siapa berpuasa pada hari akhir Dzulhijjah dan awal Muharram, niscaya Allah ampunkan segala dosa-dosanya, walaupun selama lima puluh tahun melakukannya." (Dinisbatkan kepada riwayat dari Ibnu Abbas).
Sementara itu, mengenai puasa pada 11 Muharram, pendapat tersebut di antaranya disampaikan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dengan landasan hadis:
"Berpuasalah pada hari Asyura dan berbedalah dengan kaum Yahudi, dengan berpuasa satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya." (HR Ahmad).
Meski demikian, para ulama berbeda pandangan mengenai kekuatan sebagian riwayat tersebut. Karena itu, puasa Tasu'a dan Asyura tetap menjadi amalan yang paling banyak dianjurkan dan memiliki landasan hadis yang kuat.
Jadwal Puasa Sunnah Muharram 1448 H / 2026
Mengacu pada kalender Hijriah yang disusun Kementerian Agama RI, berikut jadwal puasa sunnah di bulan Muharram 1448 Hijriah:
• 1 Muharram 1448 H: Selasa, 16 Juni 2026
• Puasa Tasu'a (9 Muharram): Rabu, 24 Juni 2026
• Puasa Asyura (10 Muharram): Kamis, 25 Juni 2026
• 11 Muharram: Jumat, 26 Juni 2026
Dengan demikian, jika mengikuti pendapat yang memasukkan seluruh amalan tersebut, puasa yang dianjurkan di bulan Muharram dapat dilakukan selama empat hari, yakni pada 1 Muharram, 9 Muharram (Tasu'a), 10 Muharram (Asyura), dan 11 Muharram. Namun, puasa Tasu'a dan Asyura tetap menjadi amalan sunnah yang paling masyhur dan memiliki dasar hadis yang paling kuat di kalangan para ulama.
