Pariwisata Telaga Sarangan Menurun, Ketua Pokdarwis Magetan Desak Sistem Informasi Satu Pintu

27 - Mar - 2026, 07:26

Nunung Widya Ketua Pokdawis dan pelaku usaha di tempat wisata Telaga Sarangan (foto: Istimewa)

JATIMTIMES – Destinasi wisata andalan Kabupaten Magetan, Telaga Sarangan, mengalami tren penurunan jumlah kunjungan wisatawan pada momen libur Lebaran tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya jumlah kedatangan, durasi menginap (length of stay) wisatawan di hotel-hotel sekitar Sarangan juga ikut turun. 

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Magetan sekaligus pelaku usaha perhotelan di Sarangan, Nunung Widya mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan alarm bagi manajemen pariwisata daerah. Menurutnya, meskipun sempat terjadi lonjakan pengunjung pada H+3 Lebaran, namun secara akumulasi total, angka tersebut tetap di bawah capaian tahun lalu.

Baca Juga : WFH ASN Simpan Risiko Tersembunyi, Akademisi Ungkap Potensi Dampak Perilaku Kerja dan Ekonomi 

Nunung menyoroti dampak masif dari pemberitaan negatif dan isu viral di media sosial yang tidak segera ditangani secara terintegrasi oleh pemerintah daerah atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

"Banyak pemberitaan yang kurang menguntungkan sebelum Lebaran, mulai dari isu cuaca ekstrem, longsor, hingga harga yang dianggap mahal. Padahal fakta di lapangan sudah diselesaikan dan tidak seburuk itu," ujarnya. 

"Di era digital ini, jika tidak segera diconter secara bijaksana dan sistematis, isu tersebut akan 'digoreng' ke mana-mana," Lanjut Nunung saat ditemui awak media.

Ia menambahkan bahwa dari skala 1 sampai 10, tingkat kebenaran berita miring tentang Sarangan yang beredar di media sosial sebenarnya hanya di angka 2 atau 3 saja. 

Namun, karena minimnya informasi tandingan yang masif dari pihak berwenang, calon wisatawan kadung merasa ragu untuk berkunjung.

Selain faktor citra, Nunung menyebut kurangnya daya tarik tambahan atau atraksi di lokasi wisata membuat wisatawan enggan berlama-lama.

"Wisatawan butuh alasan untuk tinggal lebih lama. Harus ada atraksi yang disuguhkan, terutama saat high season. Jika hanya itu-itu saja, durasi menginap (length of stay) pasti menurun," tuturnya.

Ia juga menyayangkan kebijakan rekayasa lalu lintas yang terkadang kurang akurat. Nunung mencontohkan adanya papan informasi di pertigaan masuk yang menyatakan Sarangan penuh, padahal kondisi kantong parkir di dalam area wisata masih sangat luas.

Baca Juga : 91 Ribu Wisatawan Serbu Kota Batu Saat Lebaran 2026, Puncak Kunjungan Jelang Nyepi

Selama ini, para pelaku usaha hotel dan jasa wisata di Sarangan telah berupaya melakukan promosi dan klarifikasi secara mandiri melalui media sosial masing-masing. Namun, upaya tersebut dinilai kurang efisien karena bersifat separatis (terpisah-pisah).

"Kami butuh integrated information system. Promosi dan klarifikasi tidak cukup hanya di satu atau dua laman saja, tapi harus menyertakan seluruh kanal digital secara masif. Ini permasalahan klasik yang berulang setiap tahun. Pertanyaannya, kenapa setiap tahun berulang tapi tidak ada perbaikan yang signifikan," tegas Nunung.

Berdasarkan data komparasi dari tanggal 18 hingga 23 selama masa libur Lebaran, penurunan angka kunjungan ini terlihat jelas dari data tiket masuk maupun okupansi hotel. yakni mencapai kisaran 2.000 orang jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Nunung menjelaskan bahwa meski sempat terjadi lonjakan pengunjung pada hari ketiga Lebaran (H+3), secara akumulasi total dari tanggal 18 hingga 23, angka kunjungan tetap tidak mampu mengejar capaian tahun lalu.

"Secara keseluruhan memang terjadi penurunan jumlah wisatawan. Jika dikomparasikan dengan tahun sebelumnya di hari yang sama, penurunannya kurang lebih di angka 2.000-an wisatawan. Baik itu wisatawan yang menginap maupun yang hanya berkunjung (sehari), semuanya melandai," tegas Nunung. 

Nunung berharap pemerintah daerah lebih maksimal dalam membangun sistem informasi satu pintu agar citra pariwisata Magetan tetap terjaga di mata nasional.