Ketika Tradisi Beli Bunga Nyekar Mulai Luntur di Jawa

Editor

Yunan Helmy

21 - Mar - 2026, 03:32

Tradisi membeli bunga untuk nyekar ke makam mulai luntur. (ist)

JATIMTIMES - Tradisi membeli bunga untuk ziarah kubur yang dulu sangat hidup di berbagai daerah di Jawa kini mulai mengalami penurunan.

Perubahan cara pandang masyarakat hingga faktor ekonomi disebut menjadi penyebab utama memudarnya kebiasaan tersebut.

Baca Juga : THR Anak Cepat Habis? Ini Cara Mengatur Angpau Lebaran Anak Menurut Psikolog dan Perencana Keuangan

Pakar antropologi dari Universitas Brawijaya (UB) Ary Budianto menilai perubahan itu terjadi perlahan dalam beberapa dekade terakhir. Dahulu, pasar bunga menjelang malam Jumat atau sebelum Ramadan selalu ramai oleh warga yang hendak nyekar.

Menurut Ary, masyarakat Jawa memiliki tradisi kuat menaburkan bunga seperti mawar, kenanga, kantil, serta irisan daun pandan di atas makam. Bunga-bunga tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan simbol doa dan penghormatan kepada leluhur.

Ia menjelaskan bahwa bunga dan wewangian memiliki makna penting dalam tradisi ziarah. Aroma yang harum melambangkan doa yang baik serta kenangan yang indah terhadap orang yang telah meninggal.

“Kenapa harus yang wangi-wangi? Karena itu simbol mengingat hal-hal baik tentang orang yang sudah meninggal. Doanya juga diharapkan yang baik-baik,” ujar Ary.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan membeli bunga untuk nyekar mulai berkurang. Banyak orang memilih cukup membaca doa atau Surat Yasin tanpa membawa bunga ke makam.

Ary menilai perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan pergeseran pemahaman keagamaan, tetapi juga kondisi ekonomi masyarakat. Ketika ekonomi semakin sulit, sebagian orang mulai menganggap bunga bukan lagi kebutuhan utama dalam ziarah.

“Lama-lama orang berpikir yang penting doanya saja. Bunganya dianggap tidak wajib. Akhirnya tradisi beli bunga juga ikut berkurang,” katanya.

Dampaknya terlihat jelas pada para pedagang bunga yang biasanya berjualan di sekitar pasar atau dekat area pemakaman. Penjualan bunga yang dulu ramai menjelang malam Jumat kini cenderung meningkat hanya pada momen tertentu, seperti menjelang Idul Fitri.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Ary menilai perubahan tersebut secara tidak langsung memengaruhi sektor ekonomi kecil yang bergantung pada tradisi ziarah. Pedagang bunga yang dahulu mengandalkan rutinitas mingguan kini harus menunggu momen besar seperti Ramadan atau Lebaran.

Padahal di berbagai negara lain, tradisi menggunakan bunga dalam ritual sosial masih cukup kuat. Di India misalnya, bunga hampir selalu hadir dalam kegiatan keagamaan maupun penghormatan kepada tamu. Bahkan di sejumlah negara Barat, membeli bunga menjadi kebiasaan sehari-hari sebagai simbol penghargaan atau penghormatan.

Menurut Ary, tradisi nyekar sebenarnya merupakan perpaduan budaya yang berkembang secara alami. Dalam praktiknya, masyarakat Jawa menambahkan unsur lokal seperti bunga kenanga, kantil, atau daun pandan yang memberi aroma khas.

Ia menilai perubahan budaya adalah hal yang wajar, tetapi penting juga untuk memahami makna di balik tradisi tersebut. Bagi banyak keluarga, bunga bukan sekadar benda, melainkan simbol kasih sayang, doa, dan penghormatan kepada orang tua.

“Tradisi itu pada dasarnya cara manusia mengingat leluhur dan menjaga hubungan dengan masa lalu. Kalau hilang sepenuhnya, kita bisa kehilangan salah satu cara untuk menghormati sejarah keluarga kita sendiri,” kata Ary.