Sejarawan Ungkap Wendit Malang Diduga Pernah Disinggahi Raja Majapahit
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
23 - Mar - 2026, 09:47
JATIMTIMES - Wisata air Wendit di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang selama ini dikenal sebagai destinasi rekreasi keluarga yang ramai dikunjungi. Namun di balik kolam renang dan kawasan wisata yang ada saat ini, Wendit ternyata menyimpan jejak sejarah panjang yang diduga sudah ada sejak era Mataram Kuno hingga masa Majapahit.
Sejarawan Malang Dwi Cahyono mengungkapkan bahwa kawasan Wendit bukan sekadar lokasi wisata, tetapi juga memiliki nilai arkeologis dan historis yang kuat. Ia merujuk pada sejumlah sumber sejarah seperti Prasasti Balingawan tahun 891 dan Prasasti Muncang tahun 944 sebagai konteks penting yang berkaitan dengan kawasan tersebut.
Baca Juga : Anggota DPRD Partai Gerindra Minta Isu MBG di Kabupaten Malang Tak Dipolitisasi
“Prasasti Muncang itu tahun 944. Jadi lebih muda sekitar 50 tahunan. Ada kemungkinan candi di Wendit itu semasa dengan era Prasasti Balingawan, berarti akhir abad ke-9, di masa Mataram,” ujar Dwi.
Pada periode tersebut, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram masih berada di wilayah Jawa Tengah dan belum berpindah ke Jawa Timur. Perpindahan kekuasaan baru terjadi setelah masa pemerintahan Mpu Sindok sekitar tahun 929.
Di kawasan Wendit sendiri, Dwi menemukan indikasi adanya bangunan kuno berupa reruntuhan candi serta petirtaan. Beberapa struktur bata kuno masih terlihat di sejumlah titik kawasan, termasuk di sekitar pendapa hingga kolam tertutup.
“Di Wendit itu ada candi dan ada petirtaan. Kalau ada candi pasti ada petirtaan. Dan di sini ada dua-duanya,” terangnya.
Menurutnya, bangunan suci yang pernah berdiri di kawasan tersebut kemungkinan tidak hanya digunakan pada masa Mataram Kuno, tetapi juga berlanjut hingga era Majapahit.
“Keberadaan bangunan suci itu terus berlanjut sampai dengan masa Majapahit. Jadi tidak berhenti di era Mataram saja,” imbuhnya.
Dwi juga menduga Telaga Wendit memiliki kaitan dengan sebuah lokasi yang disebut dalam Kitab Negarakertagama. Dalam kitab tersebut terdapat penyebutan tempat bernama Bureng yang menjadi lokasi persinggahan Raja Majapahit Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan pada tahun 1359.
Dalam naskah tersebut, Bureng digambarkan sebagai telaga yang memiliki air berwarna kebiruan. “Negarakertagama menyebut ada telaga bernama Bureng, airnya kebiruan. Ini mengingatkan saya pada Telaga Wendit dulu,” kata Dwi.
Ia menjelaskan bahwa dalam perjalanan tersebut rombongan Hayam Wuruk sebelumnya bermalam di sekitar Candi Jajaghu yang kini lebih dikenal sebagai Candi Jago di wilayah Tumpang.
“Setelah bermalam di sekitar Jajaghu, besok paginya rombongan kembali ke Singhasari dan sempat singgah di Bureng. Digambarkan telaganya berwarna kebiruan,” tuturnya.
Secara geografis, jalur perjalanan dari Tumpang menuju Singosari dinilai lebih memungkinkan melalui rute tertentu tanpa melewati kawasan Kalisari. Hal ini karena jalur tersebut akan terhalang beberapa aliran sungai yang sulit dilalui oleh rombongan berkuda maupun kereta pada masa itu.
Baca Juga : Momentum Lebaran 2026, Dishub Kabupaten Malang Siagakan 218 Personel di Pospam dan Posyan
“Kalau lewat Kalisari akan terhalang dua sampai tiga sungai. Jadi lebih mungkin lewat jalur lain yang memungkinkan rombongan berkuda dan berkereta,” katanya.
Jejak sejarah Wendit juga tercatat pada masa kolonial Belanda. Dwi menyebut bahwa orang Belanda mengenal kawasan tersebut dengan sebutan Banyu Biru karena warna air telaga yang tampak kebiruan.
“Orang-orang Belanda menyebutnya Banyu Biru. Karena memang airnya kebiruan. Itu yang menjadi daya tarik utama selain kera,” ujarnya.
Pada akhir abad ke-19 hingga awal 1900-an, Wendit bahkan telah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit bagi warga Eropa yang tinggal di Malang. Sejumlah dokumentasi foto lama menunjukkan anak-anak Belanda memberi makan kera yang hidup di sekitar telaga tersebut.
“Sejak masa kolonial itu sudah jadi tempat wisata. Orang datang ke sana menikmati telaga dan keranya,” katanya.
Namun Dwi menyayangkan perubahan besar yang terjadi akibat pembangunan fasilitas wisata modern yang dinilai telah mengubah bentuk asli telaga Wendit.
“Sekarang telaganya seperti selokan besar. Warna kebiruannya sudah tidak ada. Padahal itu pesona utamanya,” ungkapnya.
Jika dugaan mengenai keterkaitan Wendit dengan lokasi Bureng dalam Kitab Negarakertagama dapat dibuktikan melalui penelitian lanjutan, maka kawasan tersebut tidak hanya penting dalam konteks sejarah lokal Malang. Lebih dari itu, Wendit bisa menjadi bagian dari narasi besar perjalanan spiritual Raja Majapahit pada masa lampau.
“Wendit itu bukan hanya tempat wisata. Ini tempat bersejarah, jejaknya panjang, dari Mataram Kuno sampai Majapahit,” pungkas Dwi.
