Omzet Pedagang Buah di Kota Batu Lesu saat Ramadan, Cuaca Ekstrem dan Gagal Panen Jadi Biang Kerok
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
13 - Mar - 2026, 11:59
JATIMTIMES – Berkah Ramadan yang biasanya identik dengan lonjakan omzet pedagang buah di Kota Batu, kini justru terasa lesu. Fenomena cuaca buruk berupa hujan angin yang konsisten mengguyur Kota Batu ini menjadi kendala serapan buah untuk bahan baku takjil dan jus tidak sekencang tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi kontradiktif ini dirasakan oleh para pedagang buah di Pasar Induk Among Tani. Jika tahun lalu cuaca panas konsisten mendongkrak permintaan buah segar, kini hujan yang sering turun sejak sore hari membuat warga enggan keluar rumah untuk berburu takjil.
Baca Juga : Panduan Lengkap Salat Idulfitri 2026: Niat, Bacaan, Tata Cara hingga Doa
"Kalau hujan terus, jualan takjil otomatis tidak laku. Akibatnya, penjual takjil takut nyetok buah lebih banyak ke kami. Perputaran barang jadi lambat," keluh Sri Astuti, salah satu pedagang di Pasar Induk Among Tani saat ditemui JatimTIMES, belum lama ini.
Tantangan pedagang semakin berlapis karena stok buah segar dari tingkat petani sangat terbatas akibat gagal panen yang dipicu cuaca ekstrem. Belum lagi adanya persaingan serapan pasar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membuat buah seperti jeruk dan pisang banyak langsung diborong dari petani sebelum masuk ke pasar tradisional.
Fenomena ini memicu kelangkaan stok di lapak-lapak pedagang, yang pada akhirnya membuat harga di pasaran melonjak drastis dan sulit dikendalikan.
Dianawati, pedagang lainnya, membeberkan fakta kenaikan harga yang cukup mencolok. Harga semangka ukuran super saat ini menyentuh Rp15 ribu per kilogram, padahal pada Ramadan tahun lalu harganya masih di kisaran Rp8 ribu saja.
"Alpukat juga masih bertengger di angka Rp25 ribu sampai Rp35 ribu tergantung ukuran. Kami harus ekstra hati-hati saat menyetok barang agar tidak merugi besar karena buah cepat membusuk kalau tidak laku," terangnya.
Baca Juga : Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Negara, dari Adu Telur hingga Festival Gula
Meski diterjang harga tinggi, komoditas seperti blewah dan nanas tetap menjadi primadona buruan untuk menu berbuka. Harga blewah yang sempat menyentuh Rp14 ribu per kilogram kini mulai melandai ke angka Rp10 ribu, meski harga tersebut masih di atas rata-rata normal yang biasanya hanya Rp8 ribu.
Kini, para pedagang hanya bisa menggantungkan harapan pada momen mendekati Hari Raya Idulfitri. Mereka berharap intensitas hujan segera mereda agar kunjungan pembeli ke pasar kembali bergairah dan stok dagangan mereka tidak berakhir sia-sia di tempat sampah.
