Catatan Sejarah Islam: Dua Peristiwa yang Terjadi di 19 Ramadhan 

Editor

Dede Nana

09 - Mar - 2026, 10:11

Ilustrasi perang yang terjadi dalam sejarah Islam (pixabay)

JATIMTIMES - 9 Maret 2026, merupakan hari ke 19 Ramadan. Hari ini mencatat dua peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Islam. Pada hari tersebut terjadi kemenangan besar umat Islam dalam Perang Badar pada tahun 2 Hijriah, sekaligus peristiwa penyerangan terhadap Ali bin Abi Thalib pada tahun 40 Hijriah saat melaksanakan salat Subuh di Kufah. Kedua peristiwa ini kerap disebut dalam literatur sejarah Islam sebagai momentum penting yang memberi pengaruh besar terhadap perjalanan umat Islam.

Perang Badar yang terjadi pada 19 Ramadan 2 Hijriah (624 M) merupakan pertempuran besar pertama antara kaum Muslim yang dipimpin Nabi Muhammad dengan pasukan Quraisy dari Makkah. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 313 orang menghadapi sekitar 1.000 pasukan Quraisy yang memiliki perlengkapan perang lebih lengkap.

Baca Juga : Lele Para Juara Kontes Dilelang, Puluhan Juta Terkumpul untuk Santuan Anak Yatim

Meski secara jumlah jauh lebih sedikit, kaum Muslim berhasil meraih kemenangan. Peristiwa ini bahkan disebut dalam Al-Qur’an sebagai bentuk pertolongan Allah kepada kaum beriman. Dalam Surah Ali Imran ayat 123 disebutkan, “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah.” Ayat ini menjadi salah satu rujukan yang sering dikutip oleh para ulama ketika menjelaskan makna spiritual dari kemenangan Badar.

Sejumlah sejarawan Islam juga mencatat pentingnya peristiwa ini dalam perkembangan dakwah Islam. Dalam kitab Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa kemenangan di Badar memperkuat posisi umat Islam di Madinah serta meningkatkan pengaruh politik Nabi Muhammad di Jazirah Arab. Catatan serupa juga ditemukan dalam karya sejarah Al-Bidayah wan Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir.

Selain kemenangan di Badar, tanggal 19 Ramadan juga dikenang sebagai hari penyerangan terhadap Ali bin Abi Thalib pada tahun 40 Hijriah. Ali yang merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad, serta khalifah keempat dalam sejarah Islam, diserang saat sedang melaksanakan salat Subuh di Masjid Kufah, Irak.

Penyerangan itu dilakukan oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang anggota kelompok Khawarij, yang menikam Ali dengan pedang beracun ketika sang khalifah sedang bersujud dalam salat. Luka tersebut menyebabkan Ali wafat dua hari kemudian, tepatnya pada 21 Ramadan 40 Hijriah.

Peristiwa ini tercatat dalam sejumlah kitab sejarah klasik, di antaranya Tarikh al-Tabari karya Muhammad bin Jarir al-Tabari. Tragedi tersebut menandai berakhirnya masa kepemimpinan Ali serta menjadi salah satu peristiwa penting dalam dinamika politik umat Islam pada masa awal.

Baca Juga : Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran, Putra Ali Khamenei yang Tak Disukai AS

Selain dikenal sebagai pemimpin, Ali bin Abi Thalib juga dikenal sebagai sahabat dekat Nabi yang memiliki kedudukan istimewa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad dan tercatat dalam berbagai kitab hadis disebutkan, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.” Hadis ini sering dikutip para ulama untuk menggambarkan kedalaman ilmu dan kedekatan Ali dengan Rasulullah.

Dua peristiwa pada 19 Ramadan tersebut memperlihatkan dua sisi sejarah Islam: kemenangan besar yang menguatkan umat, serta ujian berat yang menimpa salah satu tokoh penting dalam kepemimpinan Islam. Kedua peristiwa ini hingga kini masih dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah umat Islam.