Sosok di Balik Mie Sedaap: Jejak Wings Group di Tengah Isu PHK dan Dugaan Penghindaran THR

25 - Feb - 2026, 07:05

Mie Sedaap. (Foto: Shopee)

JATIMTIMES - Nama Mie Sedaap mendadak menjadi sorotan publik menjelang Lebaran 2026. Produsen mi instan tersebut, PT Karunia Alam Segar (KAS), yang merupakan bagian dari WingsFood, dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan pekerja di Gresik, Jawa Timur.

Isu ini memicu perdebatan setelah muncul dugaan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kewajiban pembayaran tunjangan hari raya (THR). Namun pihak perusahaan membantah tudingan tersebut.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Pon 25 Februari 2026: Jaga Perasaan dan Ego

Perusahaan Bantah PHK Demi Hindari THR

Human Resources and General Affairs PT Karunia Alam Segar, Peter Sindaru, menegaskan bahwa penyesuaian tenaga kerja bukan karena momentum Ramadan atau menjelang Lebaran.

Menurutnya, sebagai industri manufaktur padat karya, operasional perusahaan sangat bergantung pada dinamika permintaan pasar. Saat produksi meningkat, perusahaan bekerja sama dengan penyedia tenaga kerja tambahan. Sebaliknya, ketika kebutuhan menurun, jumlah tenaga kerja ikut disesuaikan.

Ia menegaskan seluruh kebijakan dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan merupakan langkah manajerial yang lazim dalam industri manufaktur.

“Penyesuaian kapasitas produksi adalah hal yang wajar demi menjaga keberlangsungan usaha,” ujarnya.

KSPI Soroti Buruh yang Dirumahkan

Di sisi lain, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyampaikan bahwa sejumlah pekerja mengadu karena masih dirumahkan hingga mendekati Lebaran.

Ia menyebut ada laporan sekitar 20 pekerja yang belum dipanggil kembali bekerja meski kontrak mereka masih aktif. Menurutnya, meski tidak secara resmi disebut PHK, kondisi “dirumahkan” berpotensi membuat pekerja tidak menerima THR.

"Ya tidak ada PHK, benar. Sekarang faktanya, buruh Mie Sedaap yang mengadu ke Posko Orange Partai Buruh dan KSPI mengatakan belum bekerja. Padahal kontrak mereka masih ada," katanya.

Ia juga mengingatkan agar publik berhati-hati memahami istilah yang digunakan.

“Kalau dibilang tidak PHK, iya tidak PHK. Dirumahkan, bukan di-PHK. Nah ini hati-hati kalimatnya, ” ujar Said.

Said Iqbal menyebut kondisi dirumahkan menjelang hari raya berpotensi membuat pekerja tidak menerima THR.

“Konsekuensinya karena mereka dirumahkan dia nggak dapet THR. Itu faktanya," ujarnya.

Ia bahkan menilai ada dugaan modus penghindaran kewajiban perusahaan.

“Memang tidak ada hubungan antara PHK dan tidak PHK, tapi lebih kepada hubungannya adalah modus perusahaan menghindari pembayaran THR dan menghindari pembayaran upah menjelang lebaran," katanya.

Selain itu, ia mengungkapkan laporan pekerja yang menyebut pemberitahuan perumahan dilakukan melalui pesan singkat.

“Laporan yang kami terima dari karyawan Mie Sedaap langsung ke Posko Orange Partai Buruh, dikatakan bahwa mereka diberitahu dirumahkan itu menggunakan WhatsApp," ujar Said.

DPR Turun Tangan

Polemik ini juga mendapat perhatian dari DPR RI. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan pihaknya telah menerima aspirasi pekerja dan berkoordinasi dengan perusahaan.

Menurut Dasco, hasil koordinasi menyebutkan perusahaan akan menghentikan PHK yang terjadi dan berkomitmen tidak akan melakukan PHK lagi.

Baca Juga : Apresiasi Jogo Gresik, 17 Personel dan 2 Warga Terima Penghargaan dari Kapolres Gresik

“Pihak Mie Sedaap akan segera menyetop PHK yang terjadi, dan berjanji tidak akan ada PHK-PHK lagi,” ujarnya.

Ia menilai PHK menjelang Hari Raya Idul Fitri tidak sepatutnya terjadi. DPR pun meminta perusahaan menghentikan langkah tersebut agar para pekerja dapat kembali bekerja dengan tenang menjelang Lebaran.

Setelah polemik ini, publik pun mulai mencari siapa pemilik Mie Sedaap yang kini perusahaannha tengah menghebohkan publik.

Siapa Pemilik Mie Sedaap?

Di balik merek Mie Sedaap, terdapat salah satu grup consumer goods terbesar di Indonesia, yakni Wings Group.

Perusahaan ini berdiri pada 1948 di Surabaya dengan nama awal Fa Wings. Pendiri utamanya adalah Harjo Sutanto bersama Ferdinand Katuari.

Awalnya, bisnis mereka fokus pada produk sabun rumah tangga. Seiring waktu, Wings berkembang pesat dan merambah berbagai lini produk, mulai dari deterjen, pasta gigi, pembersih rumah tangga, hingga makanan dan minuman.

Unit bisnis makanan mereka dikenal melalui WingsFood, yang memproduksi berbagai merek populer, termasuk Mie Sedaap.

Lahirnya Mie Sedaap dan Persaingan dengan Indomie

Mie Sedaap resmi diluncurkan pada 2003. Saat itu, pasar mi instan nasional sudah lama didominasi oleh Indomie yang berada di bawah naungan Salim Group.

Pada awal kemunculannya, Mie Sedaap sempat dipandang sebelah mata. Namun strategi yang diterapkan terbukti efektif. Produk ini hadir dengan harga kompetitif, tekstur mi yang lebih kenyal, serta varian rasa yang cepat diterima pasar.

Strategi distribusinya pun tidak biasa. Alih-alih langsung menyasar kota besar, Mie Sedaap lebih dulu memperkuat penetrasi di toko-toko kecil dan wilayah pedesaan. Setelah merek mulai dikenal luas, ekspansi dilakukan ke pasar modern dan kota-kota besar, disertai kampanye iklan masif di berbagai media.

Pendekatan ini membuahkan hasil. Dalam waktu relatif singkat, Mie Sedaap mampu menguasai sekitar 15 persen pangsa pasar mi instan nasional. Kehadirannya menjadi salah satu pesaing paling serius bagi Indomie yang sebelumnya nyaris tanpa kompetitor kuat.

Kasus yang mencuat menjelang Lebaran 2026 ini menempatkan Mie Sedaap dan grup di belakangnya dalam sorotan publik. Di satu sisi, perusahaan menyebut langkah penyesuaian tenaga kerja sebagai bagian dari strategi bisnis yang wajar. Di sisi lain, serikat pekerja menilai ada potensi kerugian bagi buruh, terutama terkait hak THR.

Perkembangan kasus ini masih menjadi perhatian banyak pihak, terutama karena menyangkut isu sensitif menjelang hari raya. Publik kini menanti kejelasan lebih lanjut mengenai status pekerja yang dirumahkan dan kepastian hak-hak mereka.

Terlepas dari polemik tersebut, perjalanan panjang Wings Group dalam membangun kerajaan bisnis consumer goods di Indonesia tetap menjadi bagian penting dalam peta industri nasional.